"Pergi Pusapa, pergi dari sini!!"
"Aaaarrgghh," Puspa terbangun dari tidurnya.
Lagi-lagi mimpi buruk itu mewarnai tidurnya. Mimpi tentang kerusuhan '98. Ia mencari air putih untuk menenangkan dirinya. Jam baru menunjukkan pukul 03.00 maka ia mencoba mengambil posisi untuk kembali tidur dan berharap mimpi itu tidak akan terulang.
****
"Hati-hati yah nak."
Puspa segera meninggalkan rumahnya dan langsung pergi ke tempat Bu Diana, pemilik toko bunga. Ia bekerja di sana membantu Bu Diana.
"Mba, saya minta mawar putihnya satu buket yah," kata seorang pelanggan
"Iya mas, ini bunganya," kata Puspa sambil memberikan bunganya. Ternyata pembeli itu cukup tampan dan sepertinya mereka terkejut melihat satu sama lain dan sempat terdiam beberapa saat.
"Hm.. jadi berapa yah?"
"Jadi Rp 350.000;"
"Ini," kata si pembeli sambil menyerahkan sejumlah uang.
"Terima kasih," balas Puspa disertai dengan senyum manis di wajahnya.
Mungkin itu adalah hari keberuntungan bagi Puspa karena ia mendapat pelanggan yang tampan dan baik, tetapi ia tetap tidak mau membuka hatinya.
Hampir setiap hari pelanggan tampan itu membeli mawar putih di toko Bu Diana.
"Ini mas bunganya."
"Ehm sorry, jangan panggil gw mas. Panggil aja gw Ray. Kalau lo siapa?" Kata pembeli itu sambil mengulurkan tangannya.
Tapi Puspa tidak mau menjabat tangannya, "Maaf, saya Puspita tapi biasa dipanggil Puspa."
Semakin lama mereka semakin akrab, tetapi spertinya Puspa tetap menjaga jarak.
"Ray, kamu setiap hari beli mawar putih buat pacar kamu yah?" Puspa memberanikan diri bertanya.
"Bukan, gw belum punya pacar. Ini buat nyokap gw. Dia suka banget sama mawar putih," Ray menjelaskan
"Oohh," Puspa bingung harus menjawab apa.
"Kapan-kapan lo gw kenalin deh sama nyokap gw, mau kan?" Ray mencoba membangun suasana.
"Boleh tuh." Dan selanjutnya mereka terlibat perbincangan singkat.
Entah kenapa perasaan Ray terhadap Puspa semakin lama semakin berbeda. Sepertinya Ray mulai menyukai Puspa. Bagi Ray, Puspa itu sosok wanita yang istimewa. Sebenarnya Puspa juga mulai menyukai Ray, tapi ia takut dan berusaha menghilangkan rasa itu.
"Pus, ntar malam kamu ada acar gak? Kita pergi makan malam yuk," Ray mencoba melakukan pendekatan.
"Maaf Ray, aku gak bisa. Ini mawar putih pesanan kamu."
Selalu begitu, Puspa selalu menolak ajakan Ray. Seolah-olah ia menghindar dari Ray. Tapi bukan Raynaldo Satria Hardianto namanya kalau menyerah begitu saja.
Suatu malam Ray mengikuti Puspa pulang dari toko bunga sampai ke rumahnya. Tapi ia terhenti dan sangat terkejut saat membaca papan yang terpampang di depan rumah Puspa 'Panti Asuhan Kasih Ibu'
Jadi selama ini Puspa tinggal di panti asuhan, pikirnya. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang dan kembali ke sana esok siang.
"Permisi.." Karena tidak ada jawaban Ray memutuskan untuk masuk dan melihat-lihat.
"Maaf de, cari siapa yah?" Suara ibu itu cukup mengagetkan Ray.
"Saya cari Puspa bu, ibu kenal?" Tanya Ray sesopan mungkin.
"Oh tentu kenal donk, ada apa kamu mencari dia? Oh iya, silahkan masuk, bicara di dalam saja," wanita itu mengajak Ray masuk dan mempersilahkannya duduk.
"Oh iya, nama saya Handayani biasa anak-anak memanggil saya Ibu Yani."
"Saya Ray bu."
"Oh iya, ada apa kamu mencari Puspa?" Tanya Ibu Yani dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Jujur bu, saya mencintai Puspa, bagi saya dia istimewa. Tapi dia selalu menghindar dari saya bu, tapi saya yakin sebenarnya Puspa juga suka sama saya."
"Memang Puspa selalu menghindar dari laki-laki dan itu semua karena.." Ibu Yani menjelaskan dengan hati-hati, "karena masa lalunya."
Kata-kata Ibu Yani semakin membuat Ray penasaran.
"Masa lalu apa bu?"
"Sebenarnya ini masalah pribadi tapi karena melihat kesungguhanmu ibu akan memberitahu tapi kamu tidak akan meninggalkannya setelah tahu masa lalunya kan?"
Ray mengangguk mantap, "Saya terlalu mencintainya untuk meninggalkannya bu."
Ibu Yani mengambil napas panjang dan kemudian menceritakan semuanya.
"Dulu Puspa memiliki keluarga yang bahagia sampai umur 7 tahun. Namun sejak kerusuhan '98 petaka itu menimpa dirinya. Ibunya diperkosa oleh sekelompok pemuda di depan matanya. Tapi ia dan adik laki-lakinya diselamatkan oleh ketua RT. Saat itu ayahnya sedang berada di luar kota dan tidak mungkin pulang dalam situasi seperti itu. Setelah ayahnya pulang ia amat sangat terkejut atas kejadian yang menimpa istrinya dan merasa sangat bersalah. Sejak saat itu ayahnya depresi dan suka mabuk-mabukan. Hingga pada suatu hari saat ayahnya mabuk ia kalut dan memukul adiknya hingga meninggal dan itu membuat ayahnya meringkuk di penjara. Itu membuat Puspa semakin trauma. Ia takut menjalin hubungan dengan laki-laki, ia takut kejadian ibu dan adiknya terulang. Bahkan saat pertama kali dibawa oleh tetangganya ke sini dia tidak mau bicara dengan siapa pun. Ibu harap kamu dapat menyembuhkan trauma dan mengobati luka di hatinya."
"Iya bu, saya akan berusaha," Ray menjawab dengan penuh keyakinan.
"Kamu janji yah jangan nyakitin dia," Ibu Yani berpesan sambil menahan air mata yang hampir menetes.
"Iya bu, saya janji."
"Ibuu, Puspa pulang," suara itu mengejutkan mereka.
"Loh Ray, kamu kok ada di sini?"
"Iya Pus, nak Ray datang cari kamu. Ibu tinggal dulu yah," Ibu Yani meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.
"Kok kamu bisa tahu rumah aku Ray?"
"Hmm.. Gw ngikutin lo kemarin."
"Ha?? Kamu apa-apaan sih? Ngapain kamu ngikutin aku?" Raut wajah Puspa langsung berubah tapi tatapan matanya tetap tenang.
"Maafin gw Puspa, gw cuma mau kenal lo lebih dekat, kenapa sih lo selalu nolak gw?" Nadanya tidak keras tapi tegas.
"Tapi bukan gitu caranya!"
"Terus gimana caranya? Apa yang harus gw lakukan supaya lo mau nganggep gw? Apa kalau gw mati baru lo nganggep gw?"
"Cukup Ray! Kamu gak tahu gimana hidup aku!" Jawab Puspa sambil menahan air matanya.
"Kenapa? Lo takut gw nyakitin lo? Lo takut kejadian nyokap sama ade lo keulang?" Kali ini suaranya lebih keras.
"Cukup Ray!! Cukup!! Aku gak mau lihat kamu lagi!" Air mata sudah membasahi pipi Puspa, tak sanggup lagi ia menahannya.
"Maafin gw Pus, tapi lo gak bisa terpuruk terus kaya gini, lo harus lihat masa depan lo. Lo harus lupain masa lalu lo," suaranya lembut namun tegas tapi tak mampu membuat Puspa lebih tenang.
"Mana bisa aku ngelupain itu?? Kejadian yang udah buat mama sama adikku meninggal, kejadian yang udah buat aku hidup sebatang kara. Gimana aku bisa ngelupain itu semua??" Tangisnya kali ini semakin meledak.
"Gw bakal buktiin kalau gw serius sama lo dan gak akan nyakitin lo," suaranya lembut memancarkan kedamaian yang membuat Puspa lebih tenang.
"Ayo ikut gw," kata Ray sambil menarik tangan Puspa dengan lembut.
Tidak ada paksaan, entah mengapa Puspa rela mengikuti laki-laki itu. Masuk ke mobilnya dan duduk manis sampai ke tempat tujuan tanpa bertanya ke mana mereka akan pergi.
Dan mobil Ray berhenti di depan sebuah rumah yang tidak begitu besar tetapi indah. Ray masuk ke rumah itu dan tanpa diperintah Puspa mengikutinya. Ia masuk ke sebuah ruangan dan mencium kening wanita yang sedang duduk di sana. Betapa terkejutnya Puspa melihat wanita itu, tidak terlalu tua mungkin usianya tidak beda jauh dengan Ibu Yani tapi ia duduk di kursi roda. Sebenarnya ia cantik, namun penampilannya berantakan.
"Ini nyokap gw," Erik memulai pembicaraan. "Udah 2 tahun mama begini, ia depresi." Puspa hanya mendengarkan dengan seksama layaknya seorang murid mendengarkan gurunya.
"Ini terjadi karena bokap gw. Ia selingkuh dan menikahi wanita lain di belakang mama. Kejadian itu membuat mama marah, kecewa, dan depresi berat. Ia mencoba bunuh diri dengan lompat dari jendela kamarnya di lantai dua, tapi ia masih bisa diselamatkan namun itu membuat kakinya patah."
"Kenapa kamu cerita semua ini ke aku?" Puspa akhirnya bersua.
Sambil tersenyum Ray menjawab pertanyaan Puspa, "Gw cuma mau nunjukkin kalau masa lalu yang kelam bukan cuma milik lo, tapi gw gak mau terpuruk, gw mau bangkit. Kalau gw terpuruk terus siapa yang bakal ngurus mama? Gw gak mau egois."
Tiba-tiba Ray memegang tangan Puspa dengan lembut dan Puspa diam saja, dia tidak berusaha merampas tangannya dari genggaman Ray.
"Pus, di depan mama gw mau bilang sama lo. Gw sayang sama lo dan ini semua jujur dari hati gw. Biar mama yang jadi saksi."
"Jujur, aku juga sayang sama kamu, tapi..." Sura Puspa tertahan agak lama, "tapi aku takut."
Ray mengambil setangkai mawar putih dari meja rias mamanya dan memberikannya pada Puspa.
"Lihat mawar putih ini. Ini adalah lambang janji gw. Gw janji gw gak akan nyakitin lo. Gw jamin lo bisa pegang kata-kata gw." Ray menatap Puspa dengan lembut dan matanya memancarkan ketulusan.
Sejenak ruangan itu menjadi sunyi seolah semua terlelap dalam pikirannya masing-masing.
"Jadi lo mau kan jadi bagian dalam hidup gw?" Suara Ray memecah kehiningan.
Puspa memandang Ray dan kemudian tersenyum, "Aku akan coba."

lucu deh bacground'y :)
ReplyDeletethankyou :D
DeleteASik tu ceritanya,,,, tp puyeng liat backgrounnya,,, liat jga blog saya ya @ http://rahmatzoom.blogspot.com
ReplyDeletethankyou masukannya :)
DeleteBagus ceritanya
ReplyDeleteBisa buat pelajaran
Bagus ceritanya
ReplyDeleteBisa buat pelajaran