Aku memanggil orang ini dengan sebutan 'papa', mungkin sejak aku bisa berbicara panggilan ini terucap dari bibirku.
Ia adalah sosok yang bijaksana
yang tidak pernah meninggikan salah satu anaknya, semua sama di matanya.
Kasih sayangnya tidak timpang
semua mendapat kasih sayangnya tanpa melihat prestasi, kelakuan, apalagi fisik.
Waktu kecil, ia rela menggendongku sejauh apa pun itu, hanya agar aku tidak lelah. Setelah lelah bekerja ia rela melihatku walaupun aku sudah tertidur. Saat pergi bersamanya ia bagaikan penjaga yang selalu melindungiku.
Saat aku beranjak remaja, ia selalu memberiku arahan. Sebenarnya ia mengkhawatirkanku tapi ia berusaha mengerti aku di masa ini.
Saat aku remaja, aku sepertinya mulai menjauh darinya. Aku lebih senang berkumpul dengan teman-temanku. Aku jarang berada di rumah. Tapi ia selalu berusaha mengerti dan selalu mencari waktu untuk sekedar menanyakan bagaimana sekolahku.
Dia orang pertama yang mencariku saat aku pulang terlambat.
Dia adalah orang yang selalu ingin memenuhi keinginanku, menunda keinginannya demi keinginanku.
Ia yang selalu menyemangatiku saat aku lelah.
Ia adalah sosok yang selalu siap saat aku membutuhkannya.
Ia selalu membiarkan aku memilih, ia juga mendukung keputusan yang aku ambil.
Ia tidak mengekang tapi juga tidak membebaskanku, ia mengatur pada porsi yang pas baginya dan yang terbaik untuk aku.
Ia rela mendapat 0 demi memberiku 100
Ia selalu memberikan yang terbaik bagiku walaupun ia mendapat yang terburuk.
Kisah ini aku tulis dengan tetes air mata, bukan air mata kesedihan tapi air mata kebanggaan.
Bangga memiliki ayah sepertimu.
Thanks for everything, dad..
you are the best father in the world..

No comments:
Post a Comment