Tuesday, January 29, 2013

Lili Putih dan Kamu

Happy birthday Marco, aku kangen banget sama kamu.. Dulu kamu suka kasih aku Lili putih, kata kamu Lili itu lambang ketulusan dan suci, sekarang aku yang kasih ini ke kamu. Semoga kamu suka yah.. Hmm, aku jadi inget waktu kita pertama kali ketemu itu lucu banget. Hehehe..
--||--





Teng.. Teng.. Teng..

“Anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru. Namanya Marco, ia pindahan dari Bandung. Marco silahkan duduk di sebelah Riri,” kata Pak Josef sambil menunjuk ke arahku yang duduk di barisan paling kanan.
“Hi, Marco,” katanya sambil mengulurkan tangannya
“Sayuri,” balasku sambil tersenyum
“Lily?” Tanyanya
“Kok kamu tahu?” Tanyaku balik. Ya, bunga Lily. Itulah arti namaku.
“Aku suka budaya Jepang dan tahu sedikit bahasa Jepang. Hehehe,” jawabnya sambil tersenyum
“Ohh, pantes,” balasku
Perkenalan singkat dan tidak ada yang menarik menurutku. Hmm, Marco itu cowok kalem keliatannya sih pinter, tampangnya juga gak jelek kok. Eh, kok gw malah jadi menilai dia sih.
“Lily, eh sorry Riri maksud gw,” panggil Marco
“Ada apa yah?” jawab gw tak acuh.
“Gw ikut kelompok Fisika bareng lu yah, gw belom dapet kelompok nih,” pintanya sedikit memohon
“Hmm, gimana yahh? Gw musti minta persetujuan yang laen nih,” jawab gw seenaknya
“Yahh, tolong dong Ri. Please,” katanya dengan muka memelas
“Hmm, ok. Tapi traktir gw bakso yah. Hahaha,”
“Ok, ayo ke kantin,”
Marco memang baru sebulan masuk di sekolah kami, tetapi penggemarnya sudah banyak. Mulai dari teman satu kelas,adik kelas, bahkan kakak kelas. Tapi yah namanya juga Marco, dia bukan tipe cowok yang suka tebar pesona, dia sulit nyaman dengan sesorang padahal banyak yang mau jadi temannya atau bahkan pacarnya.
“Hai Lily, eh Riri. Lagi ngerjain PR nih?” Ledek Marco yang baru tiba di kelas
“Iya,kenapa? Mau ngeledek gw lagi? Gw lupa tau ada PR,” jawab gw ketus
“Yee, baru mau gw kasih pinjem PR gw, yaudah gak jadi. Hahahaha,” jawabnya dan langsung duduk di samping gw
“Yah Co, pinjem dong. Baik deh lu,” gw merayu.
“Oke, tapi traktir gw yah,” jawabnya sambil mengeluarkan buku Prnya
“Ah, matre banget sih jadi cowok,"
"Iya iya, nih pinjem. Gitu aja ngambek. Weeeee,"
Ya, hubungan kami semakin lama semakin dekat, bahkan itu membuat cewek-cewek di sekolah kami iri. Hahaha. Harus gw akui, Marco itu 'almost perfect' Postur tubuhnya tinggi, tegap. Wajahnya tampan dan harus gw akui, gw mulai suka dia..

"Ri, besok kan hari Sabtu nonton yuk sama gw. Ada film bagus tuh katanya,"
"Sabtu yah? Hmm, giman yah?"
"Kenapa? Gak bisa yah? Atau lu udah punya cowo?"
"Itu nanya apa introgasi gw panjang amat. Hahahaha,"
"Abis lu bikin gw deg-degan. Hehehe,"
"Lebay lu. Hahaha,"
"Jadi Sabtu bisa kan?"
"Oke, gw tunggu jam 7 jemput di rumah gw gak pake ngaret," jawab gw dan langsung meninggalkan Marco.
 Bisa dibilang ini date pertama gw sama dia, seneng banget pastinya.
Jam pun menunjukkan pukul tujuh, sebenernya sih gw gak sabar sekaligus deg-degan juga sih. Heheheh..
Tok.. Tok.. Tok..
Itu pasti Marco, pikirku. Aku pun segera menuju pintu dan membukanya.
"Sudah siap Ri?" Tanyanya sambil tersenyum
Ia hanya berbalut kemeja biru bermotif kotak-kotak serta dipadukan dengan celana jins gelap dan sepatu kets, tapi entah mengapa dia tampak menawan hari ini.
"Hmm, sudah kok," balasku sambil tersenyum
"Oh iya, ini," katanya sambil memberikan satu buket Lily putih, "Lily, itu sesuai kan sama nama kamu? Terus lily putih itu juga berarti ketulusan dan suci loh," jelasnya lagi
"Oh, terimakasih yah," balasku. Aku bingung harus berkata apa, bahkan aku pun tidak menyangka dia akan memberikan bunga itu.
Dan lagi-lagi pria ini membuatku terkejut atau mungkin lebih tepatnya membuatku kagum. Setelah nonton, ia mengajakku ke sebuah restoran yang sebenarnya sederhana, namun restoran ini memiliki dua tempat, yang satu di dalam gedung dan yang satu di taman belakang, dan ia mengajakku ke taman belakang. Sebuah meja telah khusus dipesannya,lengkap dengan bunga lily di atasnya.

"Ri, sebenernya sejak masuk sekolah itu gw udah tertarik sama lu. Buat gw, lu itu lucu, ramah, baik, dan masih banyak lagi deh. Hehehe,"
"Terus??"
"Yah, terus sekarang gw bukan hanya tertarik sama lu tapi gw udah mulai sayang sama lu,"
"Hmm, Marco. Jadi maksud lu ngajak gw ke sini lu mau nembak gw gitu?"
"Yah ketauan deh. Hahaha. Iya sih Ri, tapi gw gak minta jawaban lu, gw cuma mau lu tau apa yang gw rasain saat ini dan lu boleh jawab kapan pun lu punya jawabannya. Gw akan berusaha selalu nunggu," katanya sambil tersenyum
"Makasih yah Co," balas gw.

Marco, gw gak tau dia ini tipe laki-laki seperti apa, di saat cowok-cowok lain minta secepatnya jawaban ceweknya yang ditembak tapi dia gak. Dia malah mau nungguin gw. Tapi gak bisa gw pungkiri, rasa sayang itu mulai tumbuh di hati gw.

"Selamat yah Co, jadi ketua tim basket loh. Ciye ciyee makin banyak cewek-cewek yang ngefans dahh," ledek gw
"Apa sih Ri? Walaupun banyak cewek-cewek di luar sana yang minta tanda tangan gw, gw masih tetep nunggu jawaban lu kok," jawab Marco
"Ahh, gombal lu. Hahahaha,"
Marco baru saja terpilih menjadi ketua tim basket pria di sekolah kami. Memang dari awal gw udah duga kalau ini anak sebenarnya jago olahraga.
"Marco, kita disuruh rapat sama tim nih," panggil Nina. Karenina Agatha, dia adalah ketua tim basket putri yang sama-sama baru terpilih dengan Marco
"Tuh kan apa gw bilang Co, baru juga diomongin udah ada yang dateng. Hahaha," ledek gw\
"Apaan sih Ri? Jealous yah? Hati gw tetep buat lu kok. Hahaaha," balas Marco
"Hmm, Marco kita udah ditungguin dari tadi nih," panggil Nina lagi
"Ehh,iya. Ri, gw ke sana dulu yah," ucap Marco

Jealous? Cemburu? Benarkah itu? Seharusnya gw gak boleh gitu, gw kan bukan siapa-siapa Marco, gw belum jadian sama dia, jadi gw gak punya hak buat gitu.

"Co, besok sore temenin gw ke toko buku yuk. Gw mau cari novel baru nih," ajak gw pada Marco
"Besok sore yah Ri?" Tanya Marco seperti gelisah
"Iya, lu gak bisa yah?" Tanya gw balik
"Hmm, iya Ri. Sorry yah, gw harus desain baju buat tim sama Nina," jawabnya
"Ohh, yaudah gakpapa kok," jawab gw sambil berusaha tersenyum
"Sorry banget yah Ri,"
"Santai aja sih. Hahaha,"
"Lain kali pasti gw temenin deh Ri,"
"Santai aja sih Co. Hahaha,"
Gw akuin ada rasa kecewa saat Marco bilang gak bisa nemenin gw. Tapi apa boleh buat? Toh gw bukan siapa-siapa dia. Gw masih belum mau jawab pertanyaan dia karena gw masih belum yakin sama perasaan gw sendiri dan juga sama perasaan dia.

Baru aja gw mau ke toko buku tiba-tiba ada cowok tinggi yang sepertinya gw kenal berdiri di depan rumah gw.
Dia pun masuk ke rumah gw seakan-akan sudah akrab sama gw.
"Riri? Kamu Sayuri kan?" Tanyanya dengan ekspresis seperti menemukan harta karun dan cukup aneh bagi gw
"Iya,siapa yah?" Tanya gw bingung
"Reza, masih inget Ri? Reza tetangga kamu dulu," jawabnya dan langsung mengingatkan gw pada masa kecil gw. Ya, gw ingat siapa orang ini, tetangga sekaligus teman baik gw waktu masih kecil. Karena gw anak tunggal, dia udah gw anggap kaya kakak gw sendiri
"Kak Reza? Yah ampun udah lama banget Riri gak ketemu sama kakak," Kak Reza pindah waktu gw kelas 5 SD katanya sih papanya dipindah tugaskan ke luar kota
"Kamu udah gede yah Ri,cantik lagi. Heheheh,"
"Ahh,kakak bisa aja. Hahaha. Kakak juga makin ganteng, aku aja pangling tadi. Eh iya,kakak pindah lagi ke sini?"
"Yah bisa dibilang begitu. Hahaha. Aku kuliah di sini Ri,"
"Ohh, ngambil jurusan apa kak?"
"Aku ngambil kedokteran, kan kamu tau aku dari kecil pengen banget jadi dokter,"
"Iya, dulu kita sering banget main dokter-dokteran. Jadi inget waktu kecil deh. Heheheh,"
"Oh iya,kamu mau pergi Ri?"
"Iya nih kak, aku mau ke toko buku. Mau cari novel,"
"Masih gak berubah yah, dari dulu kamu suka banget baca. Hehehe,"
"Iya dong kak,kan mau jadi penulis. Hehehe,"
"Aku temenin yuk, mau gak?"
"Serius nih kak? Kebetulan dong kalau gitu, lumayan dapet tumpangan. Hehehe,"
"Iyaa, tapi aku ketemu dulu yah sama mama kamu. Udah lama kan gak ketemu. Hehehe,"
"Okedeh kak, ayo masuk,"
Keluargaku dan keluarga kak Reza memang sangat dekat. Bahkan,dulu mama itu sudah menganggap Kak Reza itu seperti anaknya sendiri begitu juga ibu kak Reza menganggap aku seperti itu.
"Kak, thankyou yah.. Karena ada kakak aku jadi ada temen deh. Hehehe,"
"Kamu udah kaya sama siapa aja Ri. Yaudah aku pulang dulu yah. Salam buat mama kamu,"
"Iya kak. Bye,"

Hari Senin, seperti biasa ini hari yang paling lama menurut gw. Hari paling lama menuju Sabtu maksudnya. Hahahaha
"Hai Ri, gw mau kasih sesuatu deh buat lu," kata Marco sambil menyerahkan kotak berwarna pink
"Apaan nih Co? Thanks yah,"
"Itu sebagai ganti gw gak bisa nemenin lu kemaren Ri,"
"Wahhh, thanks banget yah Co. Lu tau aja pengarang favorit gw,"
"Iya dong. Marco gito lohhh.. hahahha,"
"Bisa aja deh lu Co. Eh, kantin yuk.Laper nih,"
"Hmm, sorry Ri. Gw harus ke kelas Nina ngomongin buat turnamen,"
"Ohh, yaudah," dan gw langsung pergi meninggalkan Marco

"Hai Ri, sendirian aja? Pacarnya kemana?" Tanya Shinta, salah satu cewek centil di sekolah gw
"Yah sendiri lah, masa mau sama keluarga lu," jawab gw acuh
"Cowo yang biasa sama lu mana tuh? Siapa namanya Marco yah?" Kali ini Clara yang berbicara, teman Shinta yang selalu nempel sama Shinta
"Marco kan udah jadian sama Nina, masa lu gak tau sih?" Ujar Shinta
"Aduh non,kalau mau ngegosip jangan di sini yah," dan gw langsung meninggalkan mereka
Lagi-lagi perasaan apa ini? Cemburu? Iri? Kecewa? Sakit hati? Apa bener gw sayang sama Marco. Apa bener gw takut kehilangan Marco?
Nina itu cantik, pintar, dan jago main basket seperti Marco. Apa mungkin itu yang membuat Marco lebih nyaman bersama Nina? Apa gw harus jawab pertanyaan Marco sekarang? Tapi bahkan Marco sendiri sepertinya lupa.
Semua itu berkecamuk dalam kepala gw, bahkan pelajaran Bahasa Inggris yang biasanya mudah buat gw, kali ini gw gak bisa konsentrasi sama sekali. Entah perasaan apa ini...


-to be continue...

No comments:

Post a Comment