Wednesday, January 30, 2013

Lili Putih dan Kamu (2)

"Co, gw pinjem catatan kimia lu dong. Kemaren gw ketinggalan nih nyatetnya,"
"Ehmm, sorry Ri. Catatan gw ketinggalan di rumah Nina terus Nina belum balikin ke gw,"
"Oh gitu, btw lu ngapain ke rumah Nina? Ngurusin tim basket?" Tanya gw acuh
"Gak,kemaren itu Nina ada ulangan Kimia terus dia minta ajarin gw. Yaudah gw ke rumahnya terus belajar bareng deh," jelas Marco
"Bukannya setau gw Nina itu pinter yah?" Tanya gw lagi
"Iya sih, tapi katanya dia gak ngerti satu bab itu," ucap Marco
"Oh," jawab gw singkat
"Lu marah yah Ri?"
"Ha? Marah kenapa? Ngapain gw musti marah? Lu gak ada salah apa-apa kok sama gw. Hm, gw pulang dulu yah. Bye," dan gw langsung meninggalkan Marco

Gw udah gak kuat lagi buat nahan air mata ini. Sekarang gw udah sadar, gw mulai suka sama Marco bahkan mungkin sayang. Andai dia tahu perasaan gw ini..

Lagu 'Andai Dia Tahu' Kahitna mengalun dari handphone kesayangan gw. Dan gw udah tau siapa yang telepon, karena ringtone itu memang khusus untuk dia, Marco..
"Halo Ri, lagi apa?"
"Hmm, gak ngapa-ngapain. Ada apa yah?"
"Gakpapa sih, gw cuma mau ngajakin lu jalan nih"
"Jalan? Kemana?"
"Udah pokoknya lu ikut aja yah, nanti gw jemput jam empat di rumah lu"
"Hm, oke deh,"

Setelah sekian lama, baru ini lagi gw jalan sama Marco. Seneng sih, tapi....
"Non Riri, ada tamu nih," kata Bi Sumi. Dia adalah pembantu keluarga kami sejak aku masih kecil
"Oke Bi, suruh masuk aja," jawabku, "Hmm, baru setengah empat kok Marco udah datang yah?" Pikirku
Tapi ternyata bukan Marco yang datang, yang datang malah...
"Hai Ri, rapi banget. Mau pergi yah?"
"Eh, kak Reza. Hmm, gak kok eh,iya kak," Yup, kak Reza. Kenapa dia tiba-tiba nongol disitu,padahal gw mau pergi sama Marco
"Mau pergi Ri? Aku ganggu yah?"
"Hmm, iya kak.Eh, gak kok," jawabku canggung
"Aku udah lama nih gak ngobrol sama kamu. Boleh kan aku main ke sini,"
"Hmm, boleh-boleh aja kok kak," kataku sambil memperhatikan jam
"Lagi nunggu orang yah Ri? Atau kamu ada janji?"
"Hmm, gak kok kak,"

Tok.. Tok.. Tok..
"Itu pasti Marco," ujarku
"Kenapa Ri?"
"Hmm, gak kok kak.Aku buka pintu dulu yah,"
"Hai Ri, gimana udah siap?" Tanya Marco dengan senyum mengembang di wajahnya
"Hmm, udah kok. Masuk dulu yuk," Ucapku sedikit gugup
Marco tampak begitu terkejut melihat Kak Reza ada di rumahku, karena Marco tahu aku itu anak tunggal jadi aku tidak punya kakak.
"Hmm, Marco kenalin ini temen kecil aku Kak Reza. Kak Reza,ini Marco temen sekolah aku," mereka berdua pun berjabat tangan
"Temen apa pacar nih Ri?" ledek kak Reza
"Temen kok kak," jawabku tersipu malu
"Berarti aku telat dong yah,udah keduluan Marco sih. Hahaha," ujar Kak Reza
"Kita belum jadian kok kak," ucap Marco singkat
"Iya, kita masih teman kok kak," kataku menambahkan
"Iya deh aku percaya," kata Kak resa sambil tertawa
"Hmm, Ri. Kita jadi pergi?" Tanya Marco acuh
"Oh, kalian mau pergi yah? Sorry deh aku ganggu. Kalau gitu aku pulang dulu yah Ri," ucap Kak Reza
"Iya kak, sorry yah. Kakak sih gak bilang-bilang dulu kalau mau dateng. Hehehe," balasku
"Oh iya, salam buat mama yah. Bye," ucap Kak Reza lagi dan langsung pergi
"Jadi kamu udah siap Ri?" Tanya Marco
"Hm, iya," jawabku singkat
Entah kenapa, sebenarnya aku senang jalan dengan Marco tapi aku masih ragu dengan perasaan ini. Apa memang ini perasaan suka? sayang? Atau hanya kagum?

"Nah, udah sampai nih Ri," kata Marco. Ia membawaku ke danau yang dipinggirnya ada taman yang begitu indah. Banyak anak kecil yang bermain bersama keluarganya, ada juga beberapa pasang kekasih yang menikmati indahnya danau itu. Begitu manis tempat ini, ada banyak kebahagiaan di tempat ini.
"Gimana Ri, lu suka?" Tanyanya sambil memperhatikan gw yang terpesona dengan tempat itu
"Hmm, suka kok Co. Suka banget malah," jawab gw sambil melihat sekitar
"Tunggu sebentar yah Ri, gw ada kejutan buat lu,"
Dan gw pun menuruti saja. Menunggu Marco di kursi kayu depan danau sambil menikmati pemandangan itu.
Tiba-tiba dari belakang Marco memberikan satu buket Lily putih kepadaku tanpa mengatakan apapun hanya tersenyum dan memandangku hangat. Kemudian ia duduk di sampingku sambil menikmati indahnya langit saat matahari terbenan. Mungkin itu caranya, tanpa banyak kata. Tapi langsung bertindak.
"Co,makasih yah buat hari ini. Aku seneng banget,"
"Aku lebih seneng lagi Ri karena bisa buat kamu bahagia,"
"Makasih Co," kataku sambil tersenyum
"Oh iya Ri, maaf sebelumnya. Kamu dan Kak Reza itu sudah dekat banget yah?"
"Hmm, dia itu teman aku dari kecil. Mama udah nganggep dia kaya anaknya sendiri. Dia pindah ke Kalimantan pada waktu aku kelas 5 SD, terus dia sekarang lanjutin kuliah kedokteran di Jakarta,"
"Oh," hanya itu kata yang terucap dari bibirnya. Walaupun tidak berkata apa-apa aku merasa bahwa ada kekecewaan di balik matanya, ada perasaan cemburu dipancarkan matanya.
Marco, andai kamu tahu aku mulai sayang sama kamu.Andai kamu tanya kembali pertanyaan itu maka aku akan langsung menjawabnya. Andai kamu tahu Marco.. Andai...

Dua bulan sudah berlalu dan semakin lama Marco semakin disibukan dengan kegiatan basketnya dan Nina. Ya, semakin lama Marco semakin dekat dengan Nina bahkan hampir setiap hari mereka bertemu.Alasannya untuk latihan bersama. Jujur, sepertinya ada rasa cemburu pada diriku. Tapi apa yang harus aku perbuat? Aku bukan siapa-siapa, aku hanya sebatas temannya.

21 Mei 2011
Ulang tahun gw yang ke-16. Gak ada perayaan spesial atau apa pun. Cuma makan sekeluarga dan mama dan papa kasih kado laptop yang aku inginkan sejak lama.
Kak Reza juga gak ketinggalan, dia kasih aku 16 novel. Dia sengaja kasih 16 novel soalnya sama dengan umur aku.
Dan gak ketinggalan temen-temen satu kelas gw yang bisa dibilang sahabat gw juga, mereka kasih surprise dengan dateng ke rumah gw pagi-pagi dan kasih gw kue beserta telur dan terigu. Tau dong maksud gw apa? Hehehehe. Tapi ada satu sosok yang gw cari, seseorang yang bernama Marco. Kemana dia? Apa dia lupa sama ulang tahun gw? Bahkan ngucapin aja gak.
"Non, ada surat nih," seru Bibi yang baru dari luar
"Surat? Hari gini masih ada yang pake surat?" pikirku, "Iya Bi, taruh aja di meja nanti aku ambil,"
Surat dengan amplop merah muda yang berhiaskan bunga Lili di sekelilingnya, di depannya tertulis untuk Sayuri
"Riri, happy birthday yahh!
Gw sengaja nulis surat ini khusus buat lu. Hehehe..
Gw mau ajak lu makan malem besok, soalnya gw tau kalau hari ini pasti lu ada acara sama keluarga lu kan? Hehehe
Jadi gw ajak lu besok aja yah,mumpung besok hari minggu juga.
Jadi besok jam 7 malam, gw tunggu lu di tempat pertama kali kita makan bareng.
I will always wait for you my Lily"

Ini pasti dari Marco, cuma dia yang manggil gw Lili. Dan gw seneng banget ternyata dia itu inget ulang tahun gw, dan lagi-lagi caranya gak terduga.

Akhirnya, hari Minggu tiba,padahal cuma sehari tapi rasanya lama banget. Sudah pukul 18.30 dan gw melihat kembali penampilan gw di cermin dan sepertinya gw tampak berbeda hari ini. Hehehe
Setelah gw rasa siap, gw langsung naik taksi ke restoran itu dan Marco telah memesan tempat khusus untuk kami, seperti pertama kali ge ke sini bersama dia. Bahkan posisi mejanya sama persis dan juga tidak lupa ada beberapa tangkai bunga lili di atas meja yang ditaruh di vas kaca yang begitu indah.
Tapi sepertinya Marco belum datang, 10 menit sudah gw nunggu disini.

Dan lagi-lagi, kejutan yang tak terduga. Marco memberikan 16 tangkai Lili putih dan setiap tangkai ada kartu ucapan yang langsung ditulis oleh Marco.
"Thanks yah Co," ucap gw dengan senyum merekah di bibir
"Oh iya, ada satu lagi," kata Marco sambil merogoh kantongnya dan memberikan gw kotak kecil berwarna putih. Dan gw pun langsung membuka kotak itu, di dalamnya ada kalung yang begitu cantik dengan gantungan mungil berbentuk bunga Lili.
"Thanks yah Co, aku suka," kataku smabil tersenyum
"Hmm, boleh gw pakein?" Tanyanya, dan gw mengangguk pelan sehingga ia langsung mengambil kalung itu dan mengalungkannya di leher gw
"Co, gw seneng banget deh hari ini. Ini ulang tahun terindah yang pernah gw alamin. Thanks yah Mraco,"
"Gw juga seneng bisa buat lu bahagia Ri," katanya dengan senyum di wajahnya.

Ya, ini adalah ulang tahun terindah selama 16 tahun hidup gw. Dan begitu juga dengan adanya Marco, gw bahagia bisa mengenalnya sampai sedekat ini.

"Semangat yah Co lombanya, sorry gw gak bisa liat lo soalnya hari ini gw ada test di les Inggris gw.. Sorry yah Co.." Begitulah sms gw ke Marco, sayang gw gak bisa dateng..
"Iya, gpp kok Ri. Thanks yah udh semangatin gw :) Hehehehe.. Lu semangat juga yah testnya :D" balasnya
Gw jadi gak sabar nih nunggu dia selesai tanding. Hehehhe
"Ri, gw menang nih. Hehehe. Lu ada di rumah?" Ternyata Marco dan timnya menang, gw jadi ikutan seneng
"Wah, selamat yah Co :) Iya gw udah di rumah nih," bales gw
"Yaudah gw ke rumah lu yah,mau pamer piala nih. Hahaha"
"Ok, gw tunggu yah"

Udah 1 jam tapi kok Marco belum sampai juga yah? Setau gw lapangan tempat Marco bertanding gak jauh dari rumah gw.
Tiba-tiba handphone gw berbunyi tapi bukan nada dering "Andai Dia Tahu" berarti ini bukan dari Marco. Nomer yang gw gak kenal
"Halo," ucap gw
"Halo, Riri yah?" Jawab suara di seberang sana
"Iya, ini siapa yah?"
"Ini Ben Ri,"
"Oh Ben, temen satu timnya Marco kan?"
Gw sempet beberapa kali ngobrol bareng temen Marco yang ini, soalnya dia salah satu sahabat baiknya Marco
"Marco Ri, hmmm.. Marco kecelakaan," Terkejut bahkan sangat terkejut mendengar kabar itu. Gw bagaikan tersambar petir di siang hari bolong
"Sekarang Marco dimana Ben?" Kata gw yang tanpa gw sadari air mata sudah membasahi pipi gw
"Dia ada di RS Melati Ri,"
Gw pun langsung menuju ke sana. Dan sesampainya di sana Marco terbaring lemah tak berdaya dan gw hanya bisa melihat dia dari kaca tanpa bisa menyentuhnya. Perasaan gw kalut, gw bingung apa yang harus gw perbuat.
Gw hanya bisa menangis dan menangis.
Ben berusaha menenangkan gw dan dia bilang kalau Marco mengalami kecelakaan yang cukup parah benturan dan pendarahan yang begitu hebat. Bahkan motornya hancur.
Semakin perih hati ini dan gw semakin menyalahkan diri gw. Gak seharusnya gw ngijinin Marco ke rumah gw. Coba kalo gw bilang ke dia gw gak ada di rumah,maka gak gini jadinya.

Tapi saat itu gw baru sadar, gw gak ngeliat sosok orang tua Marco dan gw memberanikan diri buat nanya ke Ben
"Hmm, gini Ri. Sebenernya orangtua Marco itu udah gak ada. Disini Marco tinggal sama kakaknya,"
Satu lagi kejutan buat gw. Dan selama ini ternyata gw gak pernah tau. Ya, gw sama Marco emang gak pernah bicara tentang keluarga. Cuma sebatas nanya 'lu punya saudara berapa' dan gw gak nyangka denger semua cerita Ben.
2 hari sudah berlalu dan Marco masih koma di rumah sakit. Setiap pulang sekolah gw selalu ke rumah sakit buat lihat keadaan dia.
Hari ini gw diperbolehkan oleh dokter dan juga kakaknya untuk masuk ke ruang dimana Marco dirawat,biasanya gw hanya bisa ngeliat dari kaca.

"Marco," kata gw sambil menggenggam tangannya, "Bangun Co, gw udah kangen nih sama lu. Gw kangen bercanda bareng lu, gw kangen jalan sama lu, dan gw kangen ngelakuin semua bareng sama lu," tanpa sadar air mata itu sudah membasahi pipi gw
"Mana Co,katanya lu mau pamer piala lu ke gw? Bangun Co, lu harus bangun Co. Gw udah kangen dapet Lili putih dari lu. Bangun Co... Marco banguunnnn," gw udah gak kuat menahan semuanya. Hati gw sakit ngeliat lu cuma bisa terbaring di tempat tidur.
"Marco, sebenernya gw mau bilang ini pas lu dateng ke rumah gw malam itu. Tapi... lu belum sampai rumah gw malah sampai ke sini Co. Marco, gw sayang sama lu," kata gw dengan air mata mengalir deras
Tiba-tiba air mata menetes dari mata Marco.
"Marco, kamu dengerin aku? Kamu udah sadar?" Gw pun langsung memanggil kakaknya dan juga dokter.
"Marco,ini kakak. Kamu bisa denger kan?" Ucap Kak Lucky, kakak Marco
Marco hanya menitikan air mata dan berkata, "I... looo..veee... youuu... My... Ly..Ly.." dan mesin pemantau detak jantung hanya menunjukkan garis horizontal.
"Marcooooo....!!!" Aku mengguncangkan tubuhnya tetapi tidak ada respon sama sekali, "Marco, bangun Co..!! Mana piala yang mau kamu kasih liat ke aku? Bangun Co..!! Aku mau kamu kasih aku Lily putih lagi. Aku mau kita makan di restoran itu lagi! Aku mau kita ke danau itu.!! Bangun Co..!! Bangun Marco..!!" Gw gak sanggup nahan ini semua, gw gak bisa menghentikan air mata gw. Semua orang yang ada di situ sepertinya prihatin dengan gw bahkan kakaknya Marco
"Sudah Ri, Marco udah tenang di sana," kata kak Lucky menenangkan aku..
"Gak kak..!! Marco gak meninggal..!! Marco masih hidup kak..!! Kakak sayang kan sama Marco?? Kakak gak boleh ngomong gitu..!!"
"Kakak sayang Ri sama Marco," kata Kak Lucky sambil menitikan air mata, "Tapi kita harus hadapi kenyataan Ri, Marco udah gak ada. Dia udah tenang di sana,"
Gw hanya terdiam dan menangis melihat tubuh Marco ditutup kain putih bahkan gw gak sanggup saat datang ke pemakamannya. Gw masih gak percaya kalau tubuh yang ada di sana itu adalah Marco.
Satu yang gw sesali adalah kenapa perasaaan gw baru tersampaikan saat dia udah ada di penghujung hidupnya.
--||--

Sudah hampir dua tahun berlalu Co, gak mudah bagi gw buat ngeluapain lu dan gak akan pernah bisa. Oh iya Co, gw masih pakai kalung ini loh. Marco, lu akan selalu ada di hati ini walaupun tubuh lu gak akan pernah lagi ada di samping gw. Terimakasih Co buat kenangan indah yang udah lu ukir dalam hidup gw. Gw bahagia lu pernah jadi salah satu pengisi hidup gw. Makasih yah Marco..
Sekali lagi happy birthday yah Co dan makasih buat semua cerita indah yang pernah lu ukir di hidup gw. I love you Marco, from your Lily..

No comments:

Post a Comment