Wednesday, January 30, 2013

Lili Putih dan Kamu (2)

"Co, gw pinjem catatan kimia lu dong. Kemaren gw ketinggalan nih nyatetnya,"
"Ehmm, sorry Ri. Catatan gw ketinggalan di rumah Nina terus Nina belum balikin ke gw,"
"Oh gitu, btw lu ngapain ke rumah Nina? Ngurusin tim basket?" Tanya gw acuh
"Gak,kemaren itu Nina ada ulangan Kimia terus dia minta ajarin gw. Yaudah gw ke rumahnya terus belajar bareng deh," jelas Marco
"Bukannya setau gw Nina itu pinter yah?" Tanya gw lagi
"Iya sih, tapi katanya dia gak ngerti satu bab itu," ucap Marco
"Oh," jawab gw singkat
"Lu marah yah Ri?"
"Ha? Marah kenapa? Ngapain gw musti marah? Lu gak ada salah apa-apa kok sama gw. Hm, gw pulang dulu yah. Bye," dan gw langsung meninggalkan Marco

Gw udah gak kuat lagi buat nahan air mata ini. Sekarang gw udah sadar, gw mulai suka sama Marco bahkan mungkin sayang. Andai dia tahu perasaan gw ini..

Lagu 'Andai Dia Tahu' Kahitna mengalun dari handphone kesayangan gw. Dan gw udah tau siapa yang telepon, karena ringtone itu memang khusus untuk dia, Marco..
"Halo Ri, lagi apa?"
"Hmm, gak ngapa-ngapain. Ada apa yah?"
"Gakpapa sih, gw cuma mau ngajakin lu jalan nih"
"Jalan? Kemana?"
"Udah pokoknya lu ikut aja yah, nanti gw jemput jam empat di rumah lu"
"Hm, oke deh,"

Setelah sekian lama, baru ini lagi gw jalan sama Marco. Seneng sih, tapi....
"Non Riri, ada tamu nih," kata Bi Sumi. Dia adalah pembantu keluarga kami sejak aku masih kecil
"Oke Bi, suruh masuk aja," jawabku, "Hmm, baru setengah empat kok Marco udah datang yah?" Pikirku
Tapi ternyata bukan Marco yang datang, yang datang malah...
"Hai Ri, rapi banget. Mau pergi yah?"
"Eh, kak Reza. Hmm, gak kok eh,iya kak," Yup, kak Reza. Kenapa dia tiba-tiba nongol disitu,padahal gw mau pergi sama Marco
"Mau pergi Ri? Aku ganggu yah?"
"Hmm, iya kak.Eh, gak kok," jawabku canggung
"Aku udah lama nih gak ngobrol sama kamu. Boleh kan aku main ke sini,"
"Hmm, boleh-boleh aja kok kak," kataku sambil memperhatikan jam
"Lagi nunggu orang yah Ri? Atau kamu ada janji?"
"Hmm, gak kok kak,"

Tok.. Tok.. Tok..
"Itu pasti Marco," ujarku
"Kenapa Ri?"
"Hmm, gak kok kak.Aku buka pintu dulu yah,"
"Hai Ri, gimana udah siap?" Tanya Marco dengan senyum mengembang di wajahnya
"Hmm, udah kok. Masuk dulu yuk," Ucapku sedikit gugup
Marco tampak begitu terkejut melihat Kak Reza ada di rumahku, karena Marco tahu aku itu anak tunggal jadi aku tidak punya kakak.
"Hmm, Marco kenalin ini temen kecil aku Kak Reza. Kak Reza,ini Marco temen sekolah aku," mereka berdua pun berjabat tangan
"Temen apa pacar nih Ri?" ledek kak Reza
"Temen kok kak," jawabku tersipu malu
"Berarti aku telat dong yah,udah keduluan Marco sih. Hahaha," ujar Kak Reza
"Kita belum jadian kok kak," ucap Marco singkat
"Iya, kita masih teman kok kak," kataku menambahkan
"Iya deh aku percaya," kata Kak resa sambil tertawa
"Hmm, Ri. Kita jadi pergi?" Tanya Marco acuh
"Oh, kalian mau pergi yah? Sorry deh aku ganggu. Kalau gitu aku pulang dulu yah Ri," ucap Kak Reza
"Iya kak, sorry yah. Kakak sih gak bilang-bilang dulu kalau mau dateng. Hehehe," balasku
"Oh iya, salam buat mama yah. Bye," ucap Kak Reza lagi dan langsung pergi
"Jadi kamu udah siap Ri?" Tanya Marco
"Hm, iya," jawabku singkat
Entah kenapa, sebenarnya aku senang jalan dengan Marco tapi aku masih ragu dengan perasaan ini. Apa memang ini perasaan suka? sayang? Atau hanya kagum?

"Nah, udah sampai nih Ri," kata Marco. Ia membawaku ke danau yang dipinggirnya ada taman yang begitu indah. Banyak anak kecil yang bermain bersama keluarganya, ada juga beberapa pasang kekasih yang menikmati indahnya danau itu. Begitu manis tempat ini, ada banyak kebahagiaan di tempat ini.
"Gimana Ri, lu suka?" Tanyanya sambil memperhatikan gw yang terpesona dengan tempat itu
"Hmm, suka kok Co. Suka banget malah," jawab gw sambil melihat sekitar
"Tunggu sebentar yah Ri, gw ada kejutan buat lu,"
Dan gw pun menuruti saja. Menunggu Marco di kursi kayu depan danau sambil menikmati pemandangan itu.
Tiba-tiba dari belakang Marco memberikan satu buket Lily putih kepadaku tanpa mengatakan apapun hanya tersenyum dan memandangku hangat. Kemudian ia duduk di sampingku sambil menikmati indahnya langit saat matahari terbenan. Mungkin itu caranya, tanpa banyak kata. Tapi langsung bertindak.
"Co,makasih yah buat hari ini. Aku seneng banget,"
"Aku lebih seneng lagi Ri karena bisa buat kamu bahagia,"
"Makasih Co," kataku sambil tersenyum
"Oh iya Ri, maaf sebelumnya. Kamu dan Kak Reza itu sudah dekat banget yah?"
"Hmm, dia itu teman aku dari kecil. Mama udah nganggep dia kaya anaknya sendiri. Dia pindah ke Kalimantan pada waktu aku kelas 5 SD, terus dia sekarang lanjutin kuliah kedokteran di Jakarta,"
"Oh," hanya itu kata yang terucap dari bibirnya. Walaupun tidak berkata apa-apa aku merasa bahwa ada kekecewaan di balik matanya, ada perasaan cemburu dipancarkan matanya.
Marco, andai kamu tahu aku mulai sayang sama kamu.Andai kamu tanya kembali pertanyaan itu maka aku akan langsung menjawabnya. Andai kamu tahu Marco.. Andai...

Dua bulan sudah berlalu dan semakin lama Marco semakin disibukan dengan kegiatan basketnya dan Nina. Ya, semakin lama Marco semakin dekat dengan Nina bahkan hampir setiap hari mereka bertemu.Alasannya untuk latihan bersama. Jujur, sepertinya ada rasa cemburu pada diriku. Tapi apa yang harus aku perbuat? Aku bukan siapa-siapa, aku hanya sebatas temannya.

21 Mei 2011
Ulang tahun gw yang ke-16. Gak ada perayaan spesial atau apa pun. Cuma makan sekeluarga dan mama dan papa kasih kado laptop yang aku inginkan sejak lama.
Kak Reza juga gak ketinggalan, dia kasih aku 16 novel. Dia sengaja kasih 16 novel soalnya sama dengan umur aku.
Dan gak ketinggalan temen-temen satu kelas gw yang bisa dibilang sahabat gw juga, mereka kasih surprise dengan dateng ke rumah gw pagi-pagi dan kasih gw kue beserta telur dan terigu. Tau dong maksud gw apa? Hehehehe. Tapi ada satu sosok yang gw cari, seseorang yang bernama Marco. Kemana dia? Apa dia lupa sama ulang tahun gw? Bahkan ngucapin aja gak.
"Non, ada surat nih," seru Bibi yang baru dari luar
"Surat? Hari gini masih ada yang pake surat?" pikirku, "Iya Bi, taruh aja di meja nanti aku ambil,"
Surat dengan amplop merah muda yang berhiaskan bunga Lili di sekelilingnya, di depannya tertulis untuk Sayuri
"Riri, happy birthday yahh!
Gw sengaja nulis surat ini khusus buat lu. Hehehe..
Gw mau ajak lu makan malem besok, soalnya gw tau kalau hari ini pasti lu ada acara sama keluarga lu kan? Hehehe
Jadi gw ajak lu besok aja yah,mumpung besok hari minggu juga.
Jadi besok jam 7 malam, gw tunggu lu di tempat pertama kali kita makan bareng.
I will always wait for you my Lily"

Ini pasti dari Marco, cuma dia yang manggil gw Lili. Dan gw seneng banget ternyata dia itu inget ulang tahun gw, dan lagi-lagi caranya gak terduga.

Akhirnya, hari Minggu tiba,padahal cuma sehari tapi rasanya lama banget. Sudah pukul 18.30 dan gw melihat kembali penampilan gw di cermin dan sepertinya gw tampak berbeda hari ini. Hehehe
Setelah gw rasa siap, gw langsung naik taksi ke restoran itu dan Marco telah memesan tempat khusus untuk kami, seperti pertama kali ge ke sini bersama dia. Bahkan posisi mejanya sama persis dan juga tidak lupa ada beberapa tangkai bunga lili di atas meja yang ditaruh di vas kaca yang begitu indah.
Tapi sepertinya Marco belum datang, 10 menit sudah gw nunggu disini.

Dan lagi-lagi, kejutan yang tak terduga. Marco memberikan 16 tangkai Lili putih dan setiap tangkai ada kartu ucapan yang langsung ditulis oleh Marco.
"Thanks yah Co," ucap gw dengan senyum merekah di bibir
"Oh iya, ada satu lagi," kata Marco sambil merogoh kantongnya dan memberikan gw kotak kecil berwarna putih. Dan gw pun langsung membuka kotak itu, di dalamnya ada kalung yang begitu cantik dengan gantungan mungil berbentuk bunga Lili.
"Thanks yah Co, aku suka," kataku smabil tersenyum
"Hmm, boleh gw pakein?" Tanyanya, dan gw mengangguk pelan sehingga ia langsung mengambil kalung itu dan mengalungkannya di leher gw
"Co, gw seneng banget deh hari ini. Ini ulang tahun terindah yang pernah gw alamin. Thanks yah Mraco,"
"Gw juga seneng bisa buat lu bahagia Ri," katanya dengan senyum di wajahnya.

Ya, ini adalah ulang tahun terindah selama 16 tahun hidup gw. Dan begitu juga dengan adanya Marco, gw bahagia bisa mengenalnya sampai sedekat ini.

"Semangat yah Co lombanya, sorry gw gak bisa liat lo soalnya hari ini gw ada test di les Inggris gw.. Sorry yah Co.." Begitulah sms gw ke Marco, sayang gw gak bisa dateng..
"Iya, gpp kok Ri. Thanks yah udh semangatin gw :) Hehehehe.. Lu semangat juga yah testnya :D" balasnya
Gw jadi gak sabar nih nunggu dia selesai tanding. Hehehhe
"Ri, gw menang nih. Hehehe. Lu ada di rumah?" Ternyata Marco dan timnya menang, gw jadi ikutan seneng
"Wah, selamat yah Co :) Iya gw udah di rumah nih," bales gw
"Yaudah gw ke rumah lu yah,mau pamer piala nih. Hahaha"
"Ok, gw tunggu yah"

Udah 1 jam tapi kok Marco belum sampai juga yah? Setau gw lapangan tempat Marco bertanding gak jauh dari rumah gw.
Tiba-tiba handphone gw berbunyi tapi bukan nada dering "Andai Dia Tahu" berarti ini bukan dari Marco. Nomer yang gw gak kenal
"Halo," ucap gw
"Halo, Riri yah?" Jawab suara di seberang sana
"Iya, ini siapa yah?"
"Ini Ben Ri,"
"Oh Ben, temen satu timnya Marco kan?"
Gw sempet beberapa kali ngobrol bareng temen Marco yang ini, soalnya dia salah satu sahabat baiknya Marco
"Marco Ri, hmmm.. Marco kecelakaan," Terkejut bahkan sangat terkejut mendengar kabar itu. Gw bagaikan tersambar petir di siang hari bolong
"Sekarang Marco dimana Ben?" Kata gw yang tanpa gw sadari air mata sudah membasahi pipi gw
"Dia ada di RS Melati Ri,"
Gw pun langsung menuju ke sana. Dan sesampainya di sana Marco terbaring lemah tak berdaya dan gw hanya bisa melihat dia dari kaca tanpa bisa menyentuhnya. Perasaan gw kalut, gw bingung apa yang harus gw perbuat.
Gw hanya bisa menangis dan menangis.
Ben berusaha menenangkan gw dan dia bilang kalau Marco mengalami kecelakaan yang cukup parah benturan dan pendarahan yang begitu hebat. Bahkan motornya hancur.
Semakin perih hati ini dan gw semakin menyalahkan diri gw. Gak seharusnya gw ngijinin Marco ke rumah gw. Coba kalo gw bilang ke dia gw gak ada di rumah,maka gak gini jadinya.

Tapi saat itu gw baru sadar, gw gak ngeliat sosok orang tua Marco dan gw memberanikan diri buat nanya ke Ben
"Hmm, gini Ri. Sebenernya orangtua Marco itu udah gak ada. Disini Marco tinggal sama kakaknya,"
Satu lagi kejutan buat gw. Dan selama ini ternyata gw gak pernah tau. Ya, gw sama Marco emang gak pernah bicara tentang keluarga. Cuma sebatas nanya 'lu punya saudara berapa' dan gw gak nyangka denger semua cerita Ben.
2 hari sudah berlalu dan Marco masih koma di rumah sakit. Setiap pulang sekolah gw selalu ke rumah sakit buat lihat keadaan dia.
Hari ini gw diperbolehkan oleh dokter dan juga kakaknya untuk masuk ke ruang dimana Marco dirawat,biasanya gw hanya bisa ngeliat dari kaca.

"Marco," kata gw sambil menggenggam tangannya, "Bangun Co, gw udah kangen nih sama lu. Gw kangen bercanda bareng lu, gw kangen jalan sama lu, dan gw kangen ngelakuin semua bareng sama lu," tanpa sadar air mata itu sudah membasahi pipi gw
"Mana Co,katanya lu mau pamer piala lu ke gw? Bangun Co, lu harus bangun Co. Gw udah kangen dapet Lili putih dari lu. Bangun Co... Marco banguunnnn," gw udah gak kuat menahan semuanya. Hati gw sakit ngeliat lu cuma bisa terbaring di tempat tidur.
"Marco, sebenernya gw mau bilang ini pas lu dateng ke rumah gw malam itu. Tapi... lu belum sampai rumah gw malah sampai ke sini Co. Marco, gw sayang sama lu," kata gw dengan air mata mengalir deras
Tiba-tiba air mata menetes dari mata Marco.
"Marco, kamu dengerin aku? Kamu udah sadar?" Gw pun langsung memanggil kakaknya dan juga dokter.
"Marco,ini kakak. Kamu bisa denger kan?" Ucap Kak Lucky, kakak Marco
Marco hanya menitikan air mata dan berkata, "I... looo..veee... youuu... My... Ly..Ly.." dan mesin pemantau detak jantung hanya menunjukkan garis horizontal.
"Marcooooo....!!!" Aku mengguncangkan tubuhnya tetapi tidak ada respon sama sekali, "Marco, bangun Co..!! Mana piala yang mau kamu kasih liat ke aku? Bangun Co..!! Aku mau kamu kasih aku Lily putih lagi. Aku mau kita makan di restoran itu lagi! Aku mau kita ke danau itu.!! Bangun Co..!! Bangun Marco..!!" Gw gak sanggup nahan ini semua, gw gak bisa menghentikan air mata gw. Semua orang yang ada di situ sepertinya prihatin dengan gw bahkan kakaknya Marco
"Sudah Ri, Marco udah tenang di sana," kata kak Lucky menenangkan aku..
"Gak kak..!! Marco gak meninggal..!! Marco masih hidup kak..!! Kakak sayang kan sama Marco?? Kakak gak boleh ngomong gitu..!!"
"Kakak sayang Ri sama Marco," kata Kak Lucky sambil menitikan air mata, "Tapi kita harus hadapi kenyataan Ri, Marco udah gak ada. Dia udah tenang di sana,"
Gw hanya terdiam dan menangis melihat tubuh Marco ditutup kain putih bahkan gw gak sanggup saat datang ke pemakamannya. Gw masih gak percaya kalau tubuh yang ada di sana itu adalah Marco.
Satu yang gw sesali adalah kenapa perasaaan gw baru tersampaikan saat dia udah ada di penghujung hidupnya.
--||--

Sudah hampir dua tahun berlalu Co, gak mudah bagi gw buat ngeluapain lu dan gak akan pernah bisa. Oh iya Co, gw masih pakai kalung ini loh. Marco, lu akan selalu ada di hati ini walaupun tubuh lu gak akan pernah lagi ada di samping gw. Terimakasih Co buat kenangan indah yang udah lu ukir dalam hidup gw. Gw bahagia lu pernah jadi salah satu pengisi hidup gw. Makasih yah Marco..
Sekali lagi happy birthday yah Co dan makasih buat semua cerita indah yang pernah lu ukir di hidup gw. I love you Marco, from your Lily..

Tuesday, January 29, 2013

Lili Putih dan Kamu

Happy birthday Marco, aku kangen banget sama kamu.. Dulu kamu suka kasih aku Lili putih, kata kamu Lili itu lambang ketulusan dan suci, sekarang aku yang kasih ini ke kamu. Semoga kamu suka yah.. Hmm, aku jadi inget waktu kita pertama kali ketemu itu lucu banget. Hehehe..
--||--





Teng.. Teng.. Teng..

“Anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru. Namanya Marco, ia pindahan dari Bandung. Marco silahkan duduk di sebelah Riri,” kata Pak Josef sambil menunjuk ke arahku yang duduk di barisan paling kanan.
“Hi, Marco,” katanya sambil mengulurkan tangannya
“Sayuri,” balasku sambil tersenyum
“Lily?” Tanyanya
“Kok kamu tahu?” Tanyaku balik. Ya, bunga Lily. Itulah arti namaku.
“Aku suka budaya Jepang dan tahu sedikit bahasa Jepang. Hehehe,” jawabnya sambil tersenyum
“Ohh, pantes,” balasku
Perkenalan singkat dan tidak ada yang menarik menurutku. Hmm, Marco itu cowok kalem keliatannya sih pinter, tampangnya juga gak jelek kok. Eh, kok gw malah jadi menilai dia sih.
“Lily, eh sorry Riri maksud gw,” panggil Marco
“Ada apa yah?” jawab gw tak acuh.
“Gw ikut kelompok Fisika bareng lu yah, gw belom dapet kelompok nih,” pintanya sedikit memohon
“Hmm, gimana yahh? Gw musti minta persetujuan yang laen nih,” jawab gw seenaknya
“Yahh, tolong dong Ri. Please,” katanya dengan muka memelas
“Hmm, ok. Tapi traktir gw bakso yah. Hahaha,”
“Ok, ayo ke kantin,”
Marco memang baru sebulan masuk di sekolah kami, tetapi penggemarnya sudah banyak. Mulai dari teman satu kelas,adik kelas, bahkan kakak kelas. Tapi yah namanya juga Marco, dia bukan tipe cowok yang suka tebar pesona, dia sulit nyaman dengan sesorang padahal banyak yang mau jadi temannya atau bahkan pacarnya.
“Hai Lily, eh Riri. Lagi ngerjain PR nih?” Ledek Marco yang baru tiba di kelas
“Iya,kenapa? Mau ngeledek gw lagi? Gw lupa tau ada PR,” jawab gw ketus
“Yee, baru mau gw kasih pinjem PR gw, yaudah gak jadi. Hahahaha,” jawabnya dan langsung duduk di samping gw
“Yah Co, pinjem dong. Baik deh lu,” gw merayu.
“Oke, tapi traktir gw yah,” jawabnya sambil mengeluarkan buku Prnya
“Ah, matre banget sih jadi cowok,"
"Iya iya, nih pinjem. Gitu aja ngambek. Weeeee,"
Ya, hubungan kami semakin lama semakin dekat, bahkan itu membuat cewek-cewek di sekolah kami iri. Hahaha. Harus gw akui, Marco itu 'almost perfect' Postur tubuhnya tinggi, tegap. Wajahnya tampan dan harus gw akui, gw mulai suka dia..

"Ri, besok kan hari Sabtu nonton yuk sama gw. Ada film bagus tuh katanya,"
"Sabtu yah? Hmm, giman yah?"
"Kenapa? Gak bisa yah? Atau lu udah punya cowo?"
"Itu nanya apa introgasi gw panjang amat. Hahahaha,"
"Abis lu bikin gw deg-degan. Hehehe,"
"Lebay lu. Hahaha,"
"Jadi Sabtu bisa kan?"
"Oke, gw tunggu jam 7 jemput di rumah gw gak pake ngaret," jawab gw dan langsung meninggalkan Marco.
 Bisa dibilang ini date pertama gw sama dia, seneng banget pastinya.
Jam pun menunjukkan pukul tujuh, sebenernya sih gw gak sabar sekaligus deg-degan juga sih. Heheheh..
Tok.. Tok.. Tok..
Itu pasti Marco, pikirku. Aku pun segera menuju pintu dan membukanya.
"Sudah siap Ri?" Tanyanya sambil tersenyum
Ia hanya berbalut kemeja biru bermotif kotak-kotak serta dipadukan dengan celana jins gelap dan sepatu kets, tapi entah mengapa dia tampak menawan hari ini.
"Hmm, sudah kok," balasku sambil tersenyum
"Oh iya, ini," katanya sambil memberikan satu buket Lily putih, "Lily, itu sesuai kan sama nama kamu? Terus lily putih itu juga berarti ketulusan dan suci loh," jelasnya lagi
"Oh, terimakasih yah," balasku. Aku bingung harus berkata apa, bahkan aku pun tidak menyangka dia akan memberikan bunga itu.
Dan lagi-lagi pria ini membuatku terkejut atau mungkin lebih tepatnya membuatku kagum. Setelah nonton, ia mengajakku ke sebuah restoran yang sebenarnya sederhana, namun restoran ini memiliki dua tempat, yang satu di dalam gedung dan yang satu di taman belakang, dan ia mengajakku ke taman belakang. Sebuah meja telah khusus dipesannya,lengkap dengan bunga lily di atasnya.

"Ri, sebenernya sejak masuk sekolah itu gw udah tertarik sama lu. Buat gw, lu itu lucu, ramah, baik, dan masih banyak lagi deh. Hehehe,"
"Terus??"
"Yah, terus sekarang gw bukan hanya tertarik sama lu tapi gw udah mulai sayang sama lu,"
"Hmm, Marco. Jadi maksud lu ngajak gw ke sini lu mau nembak gw gitu?"
"Yah ketauan deh. Hahaha. Iya sih Ri, tapi gw gak minta jawaban lu, gw cuma mau lu tau apa yang gw rasain saat ini dan lu boleh jawab kapan pun lu punya jawabannya. Gw akan berusaha selalu nunggu," katanya sambil tersenyum
"Makasih yah Co," balas gw.

Marco, gw gak tau dia ini tipe laki-laki seperti apa, di saat cowok-cowok lain minta secepatnya jawaban ceweknya yang ditembak tapi dia gak. Dia malah mau nungguin gw. Tapi gak bisa gw pungkiri, rasa sayang itu mulai tumbuh di hati gw.

"Selamat yah Co, jadi ketua tim basket loh. Ciye ciyee makin banyak cewek-cewek yang ngefans dahh," ledek gw
"Apa sih Ri? Walaupun banyak cewek-cewek di luar sana yang minta tanda tangan gw, gw masih tetep nunggu jawaban lu kok," jawab Marco
"Ahh, gombal lu. Hahahaha,"
Marco baru saja terpilih menjadi ketua tim basket pria di sekolah kami. Memang dari awal gw udah duga kalau ini anak sebenarnya jago olahraga.
"Marco, kita disuruh rapat sama tim nih," panggil Nina. Karenina Agatha, dia adalah ketua tim basket putri yang sama-sama baru terpilih dengan Marco
"Tuh kan apa gw bilang Co, baru juga diomongin udah ada yang dateng. Hahaha," ledek gw\
"Apaan sih Ri? Jealous yah? Hati gw tetep buat lu kok. Hahaaha," balas Marco
"Hmm, Marco kita udah ditungguin dari tadi nih," panggil Nina lagi
"Ehh,iya. Ri, gw ke sana dulu yah," ucap Marco

Jealous? Cemburu? Benarkah itu? Seharusnya gw gak boleh gitu, gw kan bukan siapa-siapa Marco, gw belum jadian sama dia, jadi gw gak punya hak buat gitu.

"Co, besok sore temenin gw ke toko buku yuk. Gw mau cari novel baru nih," ajak gw pada Marco
"Besok sore yah Ri?" Tanya Marco seperti gelisah
"Iya, lu gak bisa yah?" Tanya gw balik
"Hmm, iya Ri. Sorry yah, gw harus desain baju buat tim sama Nina," jawabnya
"Ohh, yaudah gakpapa kok," jawab gw sambil berusaha tersenyum
"Sorry banget yah Ri,"
"Santai aja sih. Hahaha,"
"Lain kali pasti gw temenin deh Ri,"
"Santai aja sih Co. Hahaha,"
Gw akuin ada rasa kecewa saat Marco bilang gak bisa nemenin gw. Tapi apa boleh buat? Toh gw bukan siapa-siapa dia. Gw masih belum mau jawab pertanyaan dia karena gw masih belum yakin sama perasaan gw sendiri dan juga sama perasaan dia.

Baru aja gw mau ke toko buku tiba-tiba ada cowok tinggi yang sepertinya gw kenal berdiri di depan rumah gw.
Dia pun masuk ke rumah gw seakan-akan sudah akrab sama gw.
"Riri? Kamu Sayuri kan?" Tanyanya dengan ekspresis seperti menemukan harta karun dan cukup aneh bagi gw
"Iya,siapa yah?" Tanya gw bingung
"Reza, masih inget Ri? Reza tetangga kamu dulu," jawabnya dan langsung mengingatkan gw pada masa kecil gw. Ya, gw ingat siapa orang ini, tetangga sekaligus teman baik gw waktu masih kecil. Karena gw anak tunggal, dia udah gw anggap kaya kakak gw sendiri
"Kak Reza? Yah ampun udah lama banget Riri gak ketemu sama kakak," Kak Reza pindah waktu gw kelas 5 SD katanya sih papanya dipindah tugaskan ke luar kota
"Kamu udah gede yah Ri,cantik lagi. Heheheh,"
"Ahh,kakak bisa aja. Hahaha. Kakak juga makin ganteng, aku aja pangling tadi. Eh iya,kakak pindah lagi ke sini?"
"Yah bisa dibilang begitu. Hahaha. Aku kuliah di sini Ri,"
"Ohh, ngambil jurusan apa kak?"
"Aku ngambil kedokteran, kan kamu tau aku dari kecil pengen banget jadi dokter,"
"Iya, dulu kita sering banget main dokter-dokteran. Jadi inget waktu kecil deh. Heheheh,"
"Oh iya,kamu mau pergi Ri?"
"Iya nih kak, aku mau ke toko buku. Mau cari novel,"
"Masih gak berubah yah, dari dulu kamu suka banget baca. Hehehe,"
"Iya dong kak,kan mau jadi penulis. Hehehe,"
"Aku temenin yuk, mau gak?"
"Serius nih kak? Kebetulan dong kalau gitu, lumayan dapet tumpangan. Hehehe,"
"Iyaa, tapi aku ketemu dulu yah sama mama kamu. Udah lama kan gak ketemu. Hehehe,"
"Okedeh kak, ayo masuk,"
Keluargaku dan keluarga kak Reza memang sangat dekat. Bahkan,dulu mama itu sudah menganggap Kak Reza itu seperti anaknya sendiri begitu juga ibu kak Reza menganggap aku seperti itu.
"Kak, thankyou yah.. Karena ada kakak aku jadi ada temen deh. Hehehe,"
"Kamu udah kaya sama siapa aja Ri. Yaudah aku pulang dulu yah. Salam buat mama kamu,"
"Iya kak. Bye,"

Hari Senin, seperti biasa ini hari yang paling lama menurut gw. Hari paling lama menuju Sabtu maksudnya. Hahahaha
"Hai Ri, gw mau kasih sesuatu deh buat lu," kata Marco sambil menyerahkan kotak berwarna pink
"Apaan nih Co? Thanks yah,"
"Itu sebagai ganti gw gak bisa nemenin lu kemaren Ri,"
"Wahhh, thanks banget yah Co. Lu tau aja pengarang favorit gw,"
"Iya dong. Marco gito lohhh.. hahahha,"
"Bisa aja deh lu Co. Eh, kantin yuk.Laper nih,"
"Hmm, sorry Ri. Gw harus ke kelas Nina ngomongin buat turnamen,"
"Ohh, yaudah," dan gw langsung pergi meninggalkan Marco

"Hai Ri, sendirian aja? Pacarnya kemana?" Tanya Shinta, salah satu cewek centil di sekolah gw
"Yah sendiri lah, masa mau sama keluarga lu," jawab gw acuh
"Cowo yang biasa sama lu mana tuh? Siapa namanya Marco yah?" Kali ini Clara yang berbicara, teman Shinta yang selalu nempel sama Shinta
"Marco kan udah jadian sama Nina, masa lu gak tau sih?" Ujar Shinta
"Aduh non,kalau mau ngegosip jangan di sini yah," dan gw langsung meninggalkan mereka
Lagi-lagi perasaan apa ini? Cemburu? Iri? Kecewa? Sakit hati? Apa bener gw sayang sama Marco. Apa bener gw takut kehilangan Marco?
Nina itu cantik, pintar, dan jago main basket seperti Marco. Apa mungkin itu yang membuat Marco lebih nyaman bersama Nina? Apa gw harus jawab pertanyaan Marco sekarang? Tapi bahkan Marco sendiri sepertinya lupa.
Semua itu berkecamuk dalam kepala gw, bahkan pelajaran Bahasa Inggris yang biasanya mudah buat gw, kali ini gw gak bisa konsentrasi sama sekali. Entah perasaan apa ini...


-to be continue...

Wednesday, January 16, 2013

Diary si Janin

Ma, aku seneng banget ada di rahim mama
Kata malaikat mama itu cantik
Aku jadi gak sabar buat keluar terus liat mama
Terus pegang mama dengan tangan mungilku

Itu suara papa yah ma?
Tapi kok papa marah-marah terus ma?
Papa gak sayang yah sama aku?
Apa papa gak mau aku ada di rahim mama?

Ma, ini apa yang mama makan?
Kok beberapa hari ini mama makan ini terus?
Aku gak kuat ma makan makanan ini
Aku sakit ma..

Ma, kok mama masih makan itu?
Tubuh aku makin lemah ma
Tolong ma berhenti makan itu
Ma, aku udah gak kuat

Ma, kenapa mama paksa aku keluar?
Padahal ini kan belum waktunya
Umurku baru 2 minggu ma
Bahkan tubuhku belum terbentuk

Aku memang ingin cepat keluar buat liat mama
Tapi bukan begini caranya ma
Apa salah aku ma?
Apa mama gak sayang sama aku?

Maafkan aku kalau aku udah salah ada di rahim mama
Tapi aku kan gak bisa milih untuk lahir dari rahim siapa
Aku juga gak mau ada di rahim mama kalau itu buat mama susah
Tapi aku kan gak bisa milih ma..

Mama sama papa yang ngundang aku buat ada di rahim mama
Tapi sekarang aku dibuang
Apa dosaku ma?
Maafkan aku ma..

Sekarang aku udah tenang disini
Aku senang pernah ada di rahim mama
Maafkan aku yah ma pernah buat mama susah
Semoga adik aku nanti tidak bernasib sama sepertiku..
--||--


Tulisan ini lahir saat mendengar kisah sesorang..
Tulisan ini lahir dari keprihatinan kasus-kasus aborsi
Bayi yang tidak bersalah tidak seharusnya jadi korban karena kelakuan orangtuanya..