Monday, December 24, 2012

Pesta Natal

Di sebuah rumah pejabat di kota besar. Ia sedang membuat perayaan Natal yang begitu megah dan mewah. Banyak artis dan pejabat lainnya. Banyak juga makanan-makanan mewah. Semua yang datang bergembira merayakan Natal. Semua bernyanyi, menari, dan saling tertawa.
Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu, kebetulan sang pejabat yang membuka pintu itu
"Permisi tuan, bolehkah saya bergabung dengan pesta tuan?" Tanya tamu tersebut
Sang pejabat tersebut memperhatikan pakaian tamu tersebut yang begitu lusuh, "Maaf, sudah tidak ada tempat di dalam. Ini kuberikan roti untuk bekalmu," kata Sang pejabat dan kemudian mengusir tamu tersebut.

Sementara di rumah sederhana di kota tersebut, sebuah keluarga juga sedang merayakan Natal, merayakan natal dalam kesederhanaan. Dengan makanan yang sederhana, tanpa musik gegap gempita tapi tetap bersukacita. Tanpa pakaian mahal tapi tetap bersyukur. Tanpa kado-kado mewah tapi tetap harmonis. Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu rumah mereka, dan anak dari keluarga itu yang membukakan pintunya.
"Permisi adik, apa saya boleh ikut bersama kalian merayakan Natal?" Tanya tamu tersebut Anak kecil tersebut terdiam sejenak dan memperhatikan pakaian lusuh tamu tersebut dan rasa iba muncul dalam dirinya, "Silahkan, keluarga saya pasti senang kedatangan tamu," dan ia mengajaknya masuk.
Akhirnya mereka makan bersama, menyanyikan kidung Natal, suasana yang hangat dan penuh dengan sukacita dan damai Natal.


Natal bukanlah soal perayaan megah
Bukan soal baju bagus
Bukan soal makanan mewah
Natal itu adalah lahirnya Juruselamat
Ia lahir dalam kesederhanaan
Dengan satu misi: menyelamatkan manusia

Apa artinya perayaan megah
Apa artinya kado mewah
Apa artinya nyanyi-nyanyian meriah
Tanpa kita mengundang Dia yang telah lahir untuk kita

Natal yang sesungguhnya adalah saat Yesus lahir di hati kita dan kita berikan tempat yang utama di hati kita.. Merry Christmas 2012 :)

Monday, November 12, 2012

Guruku Pengajar Kehidupan

Cerita ini khusus saya persembahkan untuk salah seorang guru terbaik yang pernah saya temui
Beliau mengajar saya mulai dari kelas X sampai kelas XII. Bahkan menjadi wali kelas saya saat kelas XII.
Bagi saya, beliau adalah sosok yang patut diteladani. Beliau adalah sosok yang disiplin dan juga perhatian dengan anak muridnya.
Beliau selalu menerapkan kedisiplinan pada kami, murid-muridnya saat di sekolah.
Bagiku beliau adalah pahlawan bagi murid-muridnya.
Bukan pahlawan seperti pada tahun'45 yang membawa bambu runcing atau senjata lainnya. Beliau adalah pahlawan masa kini yang membagikan ilmu yang ia punya untuk mencerdaskan kehidupan generasi penerus. Mengajar itu sepertinya adalah panggilan dari dalam hatinya.
Beliau tidak pernah lelah memberikan pelajaran, bukan hanya pelajaran yang ada di dalam kurikulum, tetapi pelajaran kehidupan.
Bukan hanya yang tertulis di buku, tapi juga apa yang akan kami hadapi saat dewasa
Beliau sering bercerita di tengah-tengah pelajaran tentang bagaimana kami harus bersikap saat mengahadapi situasi tertentu.
Beliau juga mengajrakan bagaimana sikap kita terhadap orang tua, teman-teman bahkan juga masyarakat lain, padahal beliau bukan guru PPKn.
Mengajarkan bagaimana bertanggung jawab dari tugas-tugas yang diberikan.
Beliau selalu memanggil murid-muridnya yang tidak mengerjakan tugas dan selalu memerikasa dengan teliti satu persatu tugas itu.
Mengajar untuk jujur saat ia memberikan ujian.
Beliau mengawas dengan sangat ketat saat ujian yang membuat kami, murid-muridnya segan untuk bertanya atau pun melihat jawaban teman.
Beliau meletakkan standar yang tinggi pada nilai kami untuk memacu kami belajar.
Motivasi dan dukungan selalu ia berikan pada kami. Saat nilai kami turun atau pun kurang bagus beliau selalu bertanya kenapa dan selalu menyuruh kami belajar lebih giat lagi.
Beliau mengajarkan kami untuk taat dan fokus.
Pada saat beliau menjelaskan materi pelajaran, tidak boleh ada satu orang pun yang menulis atau melakukan hal lain. Kami hanya boleh mendengarkan apa yang beliau jelaskan. Dan ini memang membuat kami fokus dan lebih mudah mengingat apa yang ia jelaskan.
Namun, ia juga sering menyisipkan lelucon yang membuat kami menjadi tidak bosan dengan pelajarannya.
Ia tidak pernah menuntut balasan atas apa yang telah ia berikan untuk kami, murid-muridnya. 
Ia tidak pernah mengeluh saat mendidik kami, padahal kami sangat nakal.
Bukan hal baru bila kami muridnya berbuat sesuatu yang melanggar aturan dan dipanggil ke kantor guru. Dan beliau ada di sana bukan untuk membela kami, tetapi juga untuk menegur kami agar tidak mengulangi kesalah itu.
Tak pernah ia menyerah untuk mengubah kami menjadi lebih baik, padahal kami sangat sulit diatur.
Bangun setiap pagi dan pulang pada malam hari hanya untuk mengajar kami. Ia mengorbankan waktunya bersama keluarganya hanya untuk mendidik kami.
Jasanya begitu besar bagi masa depan kami. Jika kami sukses itu tidak lepas dari ajaran beliau. Sedikit atau banyak, setiap muridnya pasti hapal dengan sosok beliau.
Bagi kami, beliau bukan hanya guru tetapi sudah seperti orang tua kedua kami. Beliau siap mendengarkan semua keluhan kami dan berusaha memberikan solusi terbaik.
Pahlawan tanpa tanda jasa memang gelar cocok diberikan untuknya.
Satu hal yang saya tidak pernah lupa dengan beliau adalah beliau hapal tulisan setiap anak muridnya. Terbukti, perhatiannya tulus terhadap murid-muridnya. Dan saya bangga pernah menjadi muridnya.


Monday, November 5, 2012

Kado Terindah

"Happy Birthday to you, Happy Birthday to you.. Selamat ulang tahun yah Dora, mama sayang banget sama kamu," kata mama sambil mengecup pipi Dora
Itu adalah pada saat ulang tahunku yang ke-5.
Nama lengkapku adalah Feodora Sasmito. Kalau kata mama Feodora itu artinya anugerah Tuhan (berat juga yah.. hehehe..) dan Sasmito adalah nama belakang yang diturunkan alm. bokap gw. Yap, ayah, papa, atau bokap gw udah meninggal. Beliau meninggal pada saat umur gw 3 tahun. Beliau meninggal karena kecelakaan. Dan sampai saat ini umur gw hampir 17 tahun nyokap gw gak pernah menikah lagi dan dengan sekuat tenaga bekerja untuk menghidupi gw, anak beliau satu-satunya.

"Mama pergi ke kantor dulu yah sayang, kamu baik-baik yah dirumah," pesan mama dan langsung meninggalkan rumah
"Bi, tolong siapin makanan Dora yah," seru Dora dari dalam kamar
"Baik non," jawab Bi Imas
Bi Imas, dia adalah orang yang setia merawat gw sejak gw masih kecil. Bi Imas adalah satu-satunya teman gw di rumah, maklum mama itu adalah single parent jadi jarang di rumah.

"Ini non, bibi sudah siapkan makanan kesukaan non. Nasi goreng spesial dengan telur mata sapi. Hehehe," seru Bi Imas sambil mengantarkan makanan ke kamar Dora
"Wah wangi banget Bi, kau jadi tambah laper nih. Hehehe," jawab Dora
"Yaudah Bi, makasih yah," jawab Dora sambil tersenyum
"Mau Bibi suapin apa makan sendiri non?" Tanya Bibi
"Makan sendiri aja Bi, kan udah mau 17 tahun masa makan aja masih disuapin. Hehehehe," balas Dora sambil tertawa
"Yaudah bibi taruh sendoknya dan piringnya di samping tempat tidur yah non," kata Bibi dan langsung meninggalkan kamar Dora

Aku, Feodora, sebenarnya bukan anak yang manja. Mungkin kalian melihat bahwa aku anak manja yang selalu bergantunga pada orang. Tapi sebenarnya ini karena kekurangan yang aku miliki. Kedua mataku sudah tidak dapat melihat lagi sejak umur 3 tahun. Kejadian kelam yang selalu aku coba untuk lupakan. Kejadian yang merenggut pengelihatan dan juga ayahku.
Ya, kecelakaan tragis yang terjadi saat aku berumur 3 tahun. Waktu itu kami sekeluarga baru pulang dari rumah nenek dan malam itu hujan cukup deras tapi kami tetap memutuskan untuk pulang karena esok harinya papa harus bekerja. Namun di perjalanan ada sebuah truk yang menabrak mobil kami dari depan dan aku tidak tahu lagi apa yang terjadi. Aku yang waktu itu duduk di depan, di samping papa hanya merasakan benda tajam seperti pecahan kaca masuk ke mataku. Saat aku sadar, aku sudah tidak dapat melihat dan kehilangan papa.
Tapi aku mulai terbiasa tidak dapat melihat, bahkan aku juga bersekolah di sekolah khusus dengan menggunakan huruf braille.

"Dora, mama pulang. Kamu udah makan sayang?" Kata mama sambil mencium dahiku
"Udah kok ma, mama capek yah?" Tanyaku
"Gak kok. Oh iya kamu kan minggu depan ulang tahun, kamu mau kado apa?" Tanya mama.
Mama, orang yang selalu ingat ulang tahunku di saat aku sendiri lupa akan itu dan beliau pasti selalu memberikanku kado di saat ulang tahunku.
"Dora mau lihat bintang ma," Entah kenapa kata-kata itu tiba-tiba keluar dari bibirku. Mungkin aku jenuh dengan kebutaanku ini.
Aku merasakan mama terdiam sejenak seperti menerawang sesuatu
"Dora, berdoa aja yah sama Tuhan. Emm, mama ke kamar dulu yah," suara mama begitu parau seperti menahan luka
Apa aku salah berkata seperti itu? Apa aku telah membuat mama merasa bersalah? Aku terus bertanya dalam hati.
Tapi jujur, aku sangat ingin melihat..

***
3 hari lagi adalah hari ulang tahunku dan mama membawa kabar bahagia.
"Dora, mama dapat kabar kalau ada yang mau mendonorkan matanya untuk kamu," kata mama dengan sangat bahagia
"Beneran ma? Aku seneng banget!" Kataku sambil memeluk mama
"Iya sayang, tapi maaf. Hanya satu kornea yang didonorkan yang didonorkan," kata mama datar
"Gakpapa ma. Aku udah seneng banget kok bisa ngeliat lagi. Walaupun gak sempurna kayak dulu," jawabku bahagia
"Yaudah kamu istirahat, besok kita ke rumah sakit yah," kata mama
"Oke ma," kataku sambil tersenyum
Aku sangat bahagia mendengar hal ini, walaupun hanya satu mata, tapi aku dapat melihat lagi. Mencari pendonor mata itu sulit, apalagi golonagn darahku AB- golongan darah yang sangat langka.

"Gimana Dora, kamu siap?" Tanya mama sambil mengantarkanku ke rumah sakit.
"Siap ma," jawabku
Sampai di rumah sakit aku langsung masuk ke ruang rawat, tapi mama tidak dapat menemaniku bahkan saat aku operasi. Mama bilang dia ada keperluan. Sebenarnya aku sangat sedih, tapi apa boleh buat. Tapi mama sudah berjanji bahwa nanti orang yang pertama kali aku lihat adalha mama.
Beberapa jam lagi aku akan operasi. Aku sudah tak sabar sekaligus takut sebenarnya. Hehehe..
Akhirnya saat itu tiba, aku harus memasuki ruang operasi seorang diri..
Berjam-jam aku berada di ruang operasi, namun aku tidak tahu apa-apa karena aku dibius.

"Bagaimana Dora, sudah enakkan badannya?" Kata Dokter Iwan, dokter yang merawatku
"Sudah lumayan dok, tapi masih lemes deh," jawabku sambil terbaring di kasur rumah sakit
"Yasudah sabar yah, besok kita akan buka perbanmu," lanjut Dokter Iwan
"Iya dok, saya sudah gak sabar. Oh iya dok, mama gak dateng yah?" Tanyaku sedikit bersedih
"Hmmm, mama kamu... Dateng kok tapi waktu itu kamu belum sadar. Hmm, saya periksa pasien lain dulu yah. Sampai besok Dora," kata Dokter Iwan seakan tidak mau aku bertanya lagi.
"Bi, emang mama tadi dateng yah?" Aku bertanya pada Bi Imas yang menemaniku karena aku tidak yakin dengan jawaban dokter.
"Hmmm, iya non," jawab Bi Imas singkat dan sepertinya ada yang disembunyikan juga.
"Yaudah deh Bi, aku tidur dulu," aku berusaha mempercayai mereka dan lebih baik tidur sampai besok saat perbanku akan dibuka.
Hari ini, 17 September aku tepat berumur 17 tahun dan juga aku dapat melihat lagi. Aku sangat senang.

"Gimana Dora, udah siap?" Tanya Dokter Iwan
"Siap dok, tapi mama udah dateng dok?" Tanyaku penasaran
"Ini mama sayang," kata mama diikuti sengan suara pintu tertutup. Sepertinya mama baru datang.
"Ya sudah, kita buka yah. Nanti kalau disuruh buka mata baru buka pelan-pelan yah," Dokter Iwan menjelaskan
Lapis demi lapis perban dibuka dan aku sudah tidak sabar menunggu instruksi dokter untuk membuka mata.
"Oke Dora, matanya dibuka pelan-pelan yah. Karena kamu belum terbiasa dengan cahaya," jelas Dokter Iwan
Aku pun mengangguk dan membuka mata perlahan.
Aku mulai bisa melihat bayang-bayang di sekitarku dan lama-lama mulai jelas.
Ada seorang wanita di depanku yang membawa kue ulang tahun dengan lilin 17. Itu pasti mama, pikirku.
"Mama?" Tanyaku?
"Iya Dora, ini mama," kata mama sambil menahan air matanya
"Yang itu Bi Imas?" Tanyaku sambil menunjuk wanita yang sudah agak tua di samping mama
"Iya non, ini Bi Imas," jawabnya sambil menitikan air mata
"Ma, Dora senang banget bisa melihat lagi," kataku sambil tersenyum bahagia
"Mama juga senang sayang," kata mama sambil memelukku
"Ma, kok mata mama diperban juga kaya Dora?" Tanyaku bingung saat melihat perban di mata mama
"Hmmm, inii.. Hmmm, mata mama lagi gak sehat sayang," kata mama seperti menyembunyikan sesuatu
"Mama pasti bohong!" Aku tidak tahu kenapa aku bisa berkata seperti itu, tapi hatiku yang berkata itu.
"Bu Lina, anda harus menceritakan semuanya," kata Dokter Iwan pada mama
"Ceritain apa ma? Tolong jangan sembunyiin apa pun drai aku!" Kataku seidkit membentak
Mama hanya menangis seakan tidak sanggup mengatakannya padaku.
Itu membuat aku semakin penasaran bahkan marah.
"Ma, tolong ceritain semua sama aku!" Kataku dengan nada lebih tinggi
"Sebenarnya, yang mendonorkan kornea mata untukmu adalah mama kamu Dora," Dokter Iwan menyela
Aku tersentak, terkejut, kaget, sangat tidak menyangka bahwa kornea mata yang sekarang ada padaku ini adalah milik mamaku
"Bener itu ma??" Tanyaku sambil menangis
Mama hanya mengangguk lemah
"Kenapa ma? Kenapa mama harus menderita buat aku? Aku udah terlalu banyak nyusahin mama. Jawab ma!!" Kataku setengah berteriak dan menangis
"Mama hanya mau kamu bisa melihat lagi sayang. Mama mau kamu bisa ngeliat bintang lagi. Biarin mama merasakan apa yang kamu rasakan. Ini gak sebanding sama apa yang udah kamu derita selama ini," jelas mama sembil menangis
"Tapi ma, aku gak mau ngeliat bintang kalau bikin mama menderita. Aku udah terbiasa gak ngeliat. Tapi mama sudah terbiasa dengan kedua mata,"
Mama kemudian memelukku, "Karena mama sudah terbiasa melihat, mama mau kamu juga merasakan apa yang mama rasakan. Sekarang kamu bisa melihat walau hanya dengan satu mata,"
"Ma, mama udah banyak berkorban buat Dora. Ini adalah kado terindah yang Dora terima. Makasih yah ma," kataku sambil memeluk mama
"Yaudah jangan nangis lagi, Tiup lilinnya yuk, masa ulang tahun nangis sih," kata mama sambil mengusap air mataku.
"Makasih yah ma, aku beruntung banget punya mama kaya mama," kataku sambil mencium mama
"Mama juga beruntung banget punya kamu Feodora, kamu benar-benar anugerah dari Tuhan,"
***

Itu adalah kisahku 15 tahun yang lalu. Sekarang aku dapat melihat dengan kedua mataku. Ini juga adalah karena hadiah dari mama. Sebelum mama meninggal, dia mewasiatkan agar matanya didonorkan padaku. Dan kini mata mama selalu bersamaku, bukan hanya matanya, bahkan semua tentang dirinya tersimpan jelas di hati ini. :)

Thursday, November 1, 2012

Ijinkanku Menanti



Kuberdiri di sini
Menatap dalam kekosongan
Melihat ke belakang
Tapi, tak tersisa lagi bayang dirimu

Tak lagi kulihat bayangmu di sampingku
Tak lagi kudengar langkahmu di sampingku
Tak ada lagi pesan darimu
Tak lagi kudengar suaramu

Usai sudah kisah ini
Berakhir sudah ikatan indah itu
Tak ada lagi kata sayang
Tak ada lagi kata cinta

Tapi, memori tentangmu masih melekat di otakku
Deru napasmu terdengar jelas di telingaku
Wangi aroma tubuhmu masih tercium di hidungku
Bahkan, masih kuhapal suara tawamu

Dan aku masih setia di sini
Menunggu walau tak ada kepastian
Menanti walau tak ada harapan
Karena hanya ini yang bisa membuatku bahagia

Thursday, September 27, 2012

Hidup itu Singkat

Hidup itu singkat
Hmm, memang singkat
Hanya 70 sampai 80 tahun
Itu pun jika Tuhan mengijinkan

Hidup itu singkat
Hari ini Senin, besok Sabtu
Hari ini masuk TK, besok sarjana
Hari ini masih belajar berjalan, besok sudah tua

Hidup itu singkat
Ada waktunya bahagia, ada waktunya bersedih
Ada waktunya tertawa, ada waktunya menangis
Ada waktunya menabur, ada waktunya menuai

Hidup itu singkat
Ada yang mendapatkan dan ada yang kehilangan
Ada yang bersuka dan ada yang berduka
Hidup itu terlalu singkat untuk disia-siakan

Hidup itu..
Bukan tentang sebanyak apa kebahagiaan yang didapat
Bukan tentang sebesar apa harta yang dimiliki
Tapi tentang bagaimana kita menjalaninya

Monday, August 27, 2012

Terimakasih Sahabat

Kisah kali ini adalah lanjutan dari kisah sebelumnya >> http://tmrkawaii.blogspot.com/2012/07/you-are-my-real-prince.html
Mungkin agak aneh yah dari yang cinta-cinta tapi kali ini judulnya tentang sahabat. Daripada lama-lama langsung aja enjoy it ;)

"Hei, seru amat sih Nis ngobrolnya," seru Ika yang tiba-tiba datang
"Eh Ika, iya nih si Sony bisa banget ngelawaknya. Hahaha," jawab Nisa
"Ahh, itu mah lo aja kali Nis yang doyan ketawa. Hahaha," balas Sony
"Eh iya, thanks yah Nis udah nemenin Sony daritadi," ucap Ika
"Santai aja lagi, lagian Sony asik kok orangnya," balas Nisa
"Udah dong kalian, kok gw malah jadi kayak anak kecil yang dititipin ibunya sih? Hahaha," ledek Sony
"Oh iya, pulang yuk Son. Nis, mau bareng gak?" Sambung Ika
"Gak deh, gw masih ada urusan," jawab Nisa
"Oke, kalau gitu kita duluan yah, bye Nis," ucap Ika
"Bye yah Nis," Sony juga berpamitan
"Bye Son," jawab Nisa pelan

***

"Son, gak nyangka yah kita bisa jadian. Aku tuh masih mikir aja loh dulu kamu tuh aku cuekin tapi kamu masih setia nunggu aku. Padahal,....." Ika terdiam sejenak
"Padahal apa?" Tanya Sony penasaran
"Hmm, padahal kamu lebih deket sama Nisa," jawab Ika pelan
"Ka, dengerin aku yah," kata Sony sambil menatap mata Ika, "Aku kan udah bilang sama kamu kalau yang aku sayang itu kamu, bukan yang lain dan sampai kapan pun akan tetap begitu," jawab Sony lembut tapi pasti
"Makasih yah Son," jawab Ika lembut

Sejujurnya Ika masih ragu terhadap Sony, walaupun Sony telah menyentuh hatinya tidak dapat dipungkiri di sisi hatinya masih tersimpan nama 'Benny'. Tapi Ika selalu berusaha meyakinkan dirinya bahwa Sony adalah orang yang tepat.

"Ka, kita jalan yuk hari Sabtu," ajak Sony
"Sorry Son, aku mau nemenin mama ke salon," jawab Ika
"Ohh," jawab Sony singkat
"Kamu gak marah kan?" Tanya Ika
"Gak kok," ucap Sony singkat

***

"Eh Son, tumben lu malem minggu maen ke rumah gw, gak jalan sama Ika?" Tanya Nisa sambil mempersilahkan Sony masuk
"Ika pergi sama nyokapnya Nis, daripada di rumah yah mending gw ke rumah lo deh," jawab Sony dengan murung
"Ya udah kita ke mall aja, gimana?" Ajak Nisa semangat
"Terserah lo aja deh," jawab Sony acuh
Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk pergi ke mall dan menghabiskan waktu di sana. Tapi pemandangan yang tidak menyenangkan dilihat mereka. Ika sedang bersama seorang laki-laki dan laki-laki sangat mereka kenal, 'Benny'
Sony dan Nisa pun langsung menghampiri mereka.
"Aku pikir dengan kita jadian kamu udah bisa nerima aku tapi ternyata aku salah," ucap Sony dan langsung pergi meninggalkan mereka
"Gw bener-bener gak nyangka Ka, ternyata lo itu sebusuk ini! Males gw punya sahabat kaya lo!" Sambung Nisa dan kemudian pergi menyusul Sony
"Ka, sorry yah. Gara-gara gw mereka salah paham sama lo. Padahal kita kan bener-bener udah gak ada apa-apa," ucap Benny yang merasa tak enak
"Udah gakpapa Ben, nanti gw bisa jelasin ke mereka. Gw balik ke tempat nyokap gw yah Ben, bye," dan Ika pun langsung pergi menemui mamanya.
Sepulang dari mall Ika langsung menelepon Nisa dan berusaha menjelaskan semuanya.
"Halo Nis,"
"Ada apa lagi Ka?" jawab Nisa ketus
"Gw mau jelasin ke lo, kalau apa yang lu pikirin soal gw sama Benny itu salah Nis," Ika berusaha menjelaskan
"Cukup Ka, gw udah muak denger penjelasan lo!" jawab Nisa dengan nada meninggi
"Tapi gw bener gak ada apa-apa sama Benny Nis," jelas Ika lagi
"Tapi emang lu gak mikir yah perasaan Sony saat dia lihat lu berdua?"
"Tapi gw gak sengaja ketemu dia di mall Nis, dan kenapa lu juga jalan sama Sony?"
"Yahh, gw kan cuma mau menghibur dia Ka," jawab Nisa gugup
"Terus kenapa lu marah banget sama gw dan lu ngebelain Sony habis-habisan? Sebenernya sahabat lu itu gw apa Sony sih?" tanya Ika
"Yahhh, lu berd...ua saha...bat gw lah," jawab Nisa terbatah-batah
"Jujur Nis, kenapa lu selalu ngebelain Sony dan sementara lu sellau nyalahin gw?" Pertanyaan Ika sangat membuat Nisa terkejut
"Yahhhh, gakk...papa.. Ka," jawab Nisa gugup seakan menyembunyikan sesuatu
"Tolong jujur sama gw Nis, lu suka yah sama Sony?" Bagaikan disambar petir saat Nisa mendengar pertanyaan Ika itu
"........" Nisa pun hanya terdiam
"Nis, jawab gw Nis!" Kali ini suara Ika meninggi
"Iya Ka, gw suka sama Sony! Gw suka sama dia sebelum lu suka sama dia. Gw suka sama dia tapi dia lebih milih lu! Padahal lu itu udah nyuekin dia. Dan sekarang lu udah tahu semuanya, puas lu Ka??" Suara Nisa meninggi dan disertai dengan air mata
Ika pun langsung mematikan teleponnya dan tak kuasa ia menahan air matanya. Jadi selama ini sahabatnya sendiri suka pada pacarnya. Semua itu bergejolak di pikiran Ika. Ika tak tahu apa yang harus ia lakukan. Apakah ia harus tetap mempertahankan Sony tapi Nisa pasti terluka atau ia harus melepas Sony demi Nisa. Pikiran itu membuat kepalanya sakit dan ia memutuskan untuk tidur dan berharap bahwa apa yang dialaminya hari ini adalah mimpi.
 ***
Matahari pagi menyambut Ika dengan hangat. Saat melihat handphone mungilnya ada 2 missed call dari Sony dan 1 pesan dari Sony juga.
"Ka, maafin aku. Aku terlalu egois dan gak mau denger penjelasan kamu. Mafain aku yah. Aku tahu ini gak seperti yang aku pikirkan. Oh iya, hari minggu kita ketemu di kafe Pelangi jam 10 yah. Aku harap kamu mau datang :)"
Bingung, resah, gelisah bercampur semua di hari Ika. Pengakuan sahabatnya itu benar-benar mengganggu pikirannya. Entah ia harus menemui Sony atau tidak tapi lubuk hatinya mengatakan kalau ia harus menemui Sony.
Dan tepat jam 10 Ika sudah tiba di kafe Pelangi dan sudah ada Sony duduk di sana.
"Aku pikir kamu gak bakal datang Ka," ucap Sony
"Aku pasti datang kok," jawab Ika disertai dengan senyuman
"Oh iya Ka, maafin aku soal yang kemarin. Aku tahu aku pasti salah paham,"
"Yang harusnya minta maaf itu aku Son, maafin aku karena udah buat kamu kecewa. Aku mau kita putus Son," ucap Ika sambil menundukkan kepalanya. Tak mampu ia melihat wajah kekecewaan Sony
"Tapi kenapa Ka? Apa salah aku?" Tanya Sony sambil menatap Ika
"Kamu gak salah apa-apa. Aku yang salah. Selamat tinggal," ucap Ika dan langsung pergi meninggalkan Sony
Di sepanjang perjalanan pulang Ika terus menangis. Ia sudah tak kuat menahan air matanya. Sebenarnya ia tak rela melepas Sony, tapi Ika pikir Nisa lebih pantas menerimanya.

Seperti biasa, Sony pun langsung ke rumah Nisa dan menceritakan semuanya pada Nisa.
"Sabar yah Son, mungkin Ika gak serius bilang semua itu sama lo," Nisa menghibur Sony. Padahal ia tahu apa yang sebenarnya dilakukan sahabatnya ini. Ia hanya mau supaya Sony bisa bersama Nisa.
"Tapi gw gak sanggup Nis. Gw udah terlalu sayang sama Ika," ucap Sony
"Emang gak ada yang bisa ngegantiin posisi Ika di hati lu Son?" Tanya Nisa penasaran
"Gak ada Nis," jawab Sony datar
"Termasuk gw?" Tanya Nisa lagi
Kali ini Sony cukup terkejut mendengar pertanyaan itu, "Iya Nis, apalagi lu. Lu itu udah gw anggep sahabat terbaik dan akan tetap begitu," jawab Sony
"Tetep jadiin gw sahabat terbaik lu yah Son, karena itu udah buat gw bahagia banget," ucap Nisa penuh ketenangan
"Iya Nis, gw janji lu bakal tetep jadi sahabat gw kapan pun itu," jawab Sony
"Gw bakal bantu lu ngomong sama Ika Son," ucap Nisa sambil tersenyum
"Thankyou yah Nis," balas Sony dengan senyum mengembang di wajahnya
***
"Ikaaaaa, susah banget sih lu gw cariin," ucap Nisa sambil berlari ke arah Ika
"Ada apa yah Nis?" Tanya Ika bingung
"Gw mau ngomong sama lu," ucap Nisa dan langsung mengajak Ika ke kantin
"Mau ngomong apa sih Nis?" Tanya Ika lagi
"Gw tahu kalau lu udah putus sama Sony dan gw tahu itu semua karena gw. Jadi gw mau lu jangan ngorbanin perasaan lu buat gw Ka," ucap Nisa
"Gak, itu bukan  gara-gara lu. Gw emang udah gak cocok aja sama dia," jawab Ika acuh
"Ka, gw tahu siapa lu jadi lu gak usah bohong sama gw Ka. Gw tahu kalau lu itu udah sayang kan sama Sony?" Tanya Nisa lembut
"Jujur Nis, emang iya gw udah mulai sayang sama Sony tapi rasa sayang gw kalah sama rasa sayang lu ke dia Nis, dan gw yakin lu lebih pantes buat dia," jawab Ika sambil menahan air matanya
"Tapi lu salah Ka, Sony itu sayang banget sama lu dan gw udah tanya sendiri kok sama dia kalau dia tuh cuma pengen lu dalam hidupnya, bukan yang lain. Termasuk gw," jelas Nisa
"Tapi lu gimana? Lu kan udah sayang banget sama dia," ucap Ika lagi
"Tapi lu yang lebih pantes buat dia. Dan kalau lu menghargai gw jangan sia-siakan dia yah. Anggep aja itu semua demi gw," ucap Nisa
"Nis, makasih yah. Gw beruntung banget punya sahabat kaya lu," kata Ika sambil menitikan air mata
"Gw juga Ka, bangga punya sahabat kaya lu," Kata Nisa sambil memeluk Ika
"Ehm, ehm.. Udah dong berpelukannya,"
"Sony??" Ika terkejut
"Iya, gw yang nyuruh dia kesini," jawab Nisa
"Ka, lu mau kan tetep jadi princess di hati gw?" Tanya Sony
"Pasti Son, apalagi sekarang gw udah dapet restu dari sahabat gw ini," kata Ika sambil mencubit pipi Nisa
"Sakit tahuuuu," kata Nisa sambil memegang pipnya, "Yaudah yah prince and princess lanjutin dah berdua gw mau pergi dulu mau cari prince gw. Hahahaha," Nisa melanjutkan

"Sahabat yang sejati tahu mana yang terbaik untuk sahabatnya dan sahabat akan berkorban untuk sahabatnya itu walaupun mengorbankan perasaannya sendiri. Tapi seorang sahabat juga harus menegur sahabatnya jika salah. Dan kuncinya adalah saling mengerti dan memahami. Hargai dan jangan sia-siakan sahabatmu" -tamz-

Monday, July 16, 2012

You Are My Real Prince

"Gimana Ka, udah siap buat ospek besok?" Tanya Nisa pada Ika
"Mudah-mudahan Nis, gw deg-degan juga nih," jawab Ika
"Hai cewek-cewek cantik, lagi pada ngerumpi nih yah? Ikutan dong,"  sambung Sony yang tiba-tiba datang
"Makasih Son, gw tau kok gw cakep. Hahaha," jawab Nisa
"Yeee, bukan lo tapi Ika dong, hehehe," jawab Sony
"Ahh Son, bisa aja lo. Hahahaha," sambung Ika
"Ka, gw balik duluan yah. Mau nemenin nyokap pergi nih," ucap Nisa
"Oke deh Nis, salam buat nyokap lu yah," balas Ika
"Iya, bye," kata Nisa dan langsung meninggalkan Ika dan Sony
"Ka, gak terasa yah udah satu tahun lebih gw deket sama lu, dari lu masih jadi ade kelas gw sampe sekarang lu udah jadi mahasiswi," celoteh Sony
"Iya Son, gak terasa yah," balas Ika
"Yah, walaupun kita gak satu kampus hati gw masih buat lu kok," ucap Sony
"Sorry Son, tapi gw sampai sekarang belom bisa ngeyakinin diri gw kalau lu itu emang yang terbaik buat gw," jawab Ika
"Gw gak pernah maksa lu buat sayang sama gw kok, lagian ini kemauan gw sendiri buat nunggu lu," ucap Sony dengan nada yang begitu lembut
"Son," ucap Ika sambil menatap mata Sony, "Gw lebih suka kalau lu itu cari cewe lain Son, gw gak mau dibilang ngasih harapan kosong ke lu," ucap Ika
"Ka, tolong jangan suruh gw ngasih hati gw ke orang lain. Tolong ijinin gw selalu ada buat lu tanpa lu harus selalu ada buat gw," balas Sony
"Tapi Son...." ucap Ika ragu
"Tolong Ka, biarin gw buktiin ke lu kalau gw emang tulus sayang sama lu," timpal Sony
"Makasih yah Son," ucap Ika sambil menahan air mata yang menggenang di matanya

***
"Aduh Ka, gw deg-degan nih. Kira-kira senior kita gimana yah??" Ucap Nisa dengan suara kepanikan
Maklum, ini hari pertama mereka menjadi mahasiswi
"Aduh Nis, jangan bikin gw makin takut dong," balas Ika
"Coba kita satu kampus sama Sony, kan enak tuh punya kenalan senior. Hahahaha," celoteh Nisa
"Ada-ada aja lu, udah mending dengerin tuh senior ngomong apa," balas Ika
"Ka, liat deh. Itu kaya Benny," kata Nisa sambil menunjuk seorang laki-laki
"Iya Nis, itu emang Benny. Berarti dia satu kampus dong sama kita," balas Ika sambil tercengang dengan sosok laki-laki itu
"Emang lu gak tau Ka dia kuliah di mana?" Tanya Nisa
"Gak, kan lu tau gw udah gak berhubungan sama dia satu tahun lebih," jawab Ika
"Emang jodoh kali lu sama dia, hahaha," ledek Nisa
"Ahh apa sih lu. Udah mending perhatiin senior tuh," balas Ika
"Ahh ngeles aja deh lu. Hahaha," ledek Nisa lagi
"Udah yah neng kepo, mending perhatiin aja tuh. Hahahaha," ledek Ika balik
***
"Akhirnya kita resmi jadi mahasiswi yah Nis," ucap Ika
"Iya Ka, gw jadi terharu," balas Nisa
"Gak usah lebay juga kali. Hahaha," Timpal Ika, "Eh Nis, masa kemaren Benny sms gw, kayaknya dia tau deh kita satu kampus sama dia," lanjut Ika
"Terus lu bales?" Tanya Nisa
"Bales, abis gw gak enak. Nanti disangka sombong lagi. Lagian gw kan udah komitmen gak mau musuhan sama dia," jawab Ika
"Yahh, asal jangan kepincut lagi aja deh. Hahahaha," canda Nisa
Saat mereka sedang bercanda, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang mereka sangat kenal menghampiri mereka
"Hai, udah lama yah gak ketemu," sapa laki-laki itu
Mata mereka berdua terbelalak melihat laki-laki itu. Ya, itu Benny dan gak mungkin salah.
"Benny??" Kata Ika yang sedikit terkejut
"Iya Ka, kalian berdua apa kabar?" Sapa Benny lagi
"Gw sih baik-baik aja, tapi ada yang sakit hati tuh," jawab Nisa ketus
"Nis, apa-apaan sih lu," Sela Ika, "hmmm, kita berdua baik-baik aja kok," lanjut Ika
"Gak nyangka yah kita bisa satu kampus," ucap Benny
"Iya Ben. Ehh, gw sama Nisa duluan yah, udah sore nih. Bye," ucap Ika
Ika tidak mau terlalu lama terlibat perbincangan dengan Benny. Rasa itu sebenarnya masih ada walaupun hanya tersisa sedikit. Itu sebabnya Ika menjaga jarak dengan Benny.

"Ka, nanti malam kita dinner yuk," ajak Sony
"Sorry Son, gw kayanya gak bisa deh. Hari ini gw capek banget," tolak Ika secara halus
"Oh, ya udah istirahat aja yah," jawab Sony tanpa ada raut kekecewaan di wajahnya
Dan Ika tidak menjawabnya lagi, sepanjang perjalanan dari kampus ke rumah Ika, hanya itu percakapan mereka. Tidak biasanya Ika diam seperti itu. Sepertinya ada sesuatu yang ia pikirkan atau bahkan ia sembunyikan dari Sony

Lagu 'The Power of Love' mengalun lembut dari ponsel Ika, dan ternyata itu adalah nada dering ponsel kesayangannya itu. Betapa terkejutnya saat ia melihat nama yang muncul di layar ponselnya. BENNY, buat apa dia menelpon Ika, pikirnya.
"Halo"
"Halo Ika, lagi apa?"
"Ada perlu apa yah lu telepon gw?"
"Gakpapa, lagi mau ngobrol aja nih sama lu. Hmm, gw ganggu yah?"
"Gak kok"
"Atau jangan-jangan lu takut ketauan cowok lu teleponan sama gw? Hahaha"
"Gak berubah yah lu, tetep aja asal ceplos. Hahahaha,"
"Emang gw superman apa berubah, hahaha. Eh, jawab dulu udah punya cowok baru yah sekarang?"
"Gak, orang sampe sekarang gw masih single kok. Lu kali tuh yang udah punya cewe, cewe lu kan banyak. Hahahaha"
"Gak ada kok, di hati gw masih ada lu nih"
"Hmm, Ben udah dulu yah gw mau tidur nih,"
Ika sangat tak menyangka Benny akan berkata seperti itu, masih sangat jelas terekam di pikiran Ika kejadian 1 tahun yang lalu. Ingin ia kubur ingatan itu tapi tak bisa, sama seperti rasa cintanya pada Benny

"Udah selesai Ka kuliahnya? Jadi pulang bareng gw kan?" Tanya Benny dan itu sangat membuat Nisa yang ada disana terkejut bukan main
"Hmm, gw pinjem Ika bentar yah," ucap Nisa dan langsung membawa Ika menjauh dari Benny
"Ada apa sih Nis?" Tanya Ika
"Aduh pake nanya lagi. lu deket lagi sama dia? Lu belom kapok sakit hati lagi?" Ucap Nisa
"Gw gak ada apa-apa Nisa sayang. Gw cuma temenan kok sama dia. Lagian dia udah minta maaf kok sama gw soal kejadian yang dulu itu dan keliatannya dia juga udah berubah kok," Ika menjelaskan
"Terus, Sony mau lu kemanain?" Tanya Nisa lagi
"Sony? Gw sama sama dia kan gak ada apa-apa. Sama kaya gw dan Benny," jawab Ika
"Terserah lu deh Ka," seru Nisa dan langsung meninggalkan Ika
Entah apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Setiap yang berhubungan dengan Sony pasti ia selalu begitu
"Sorry Ben, gw lama yah?" Ucap Ika pada Benny
"Gapapa kok Ka. Eh kita ke taman sebentar yah," ajak Benny
"Oh, boleh," Ika pun mengikuti jalan Benny menuju taman di kampusnya yang tidak begitu luas tapi sangat sejuk.
Mereka pun duduk di sebuah bangku mungil berwarna putih
"Ka, gw mau ngomong serius sama lu," ucap Benny
"Mau ngomong apaan?" Tanya Ika yang sangat bingung
"Gw bener-bener nyesel dulu pernah nyakitin lu Ka. Dan itu adalah kesalahan terbesar gw. Gw mau kita ngulang semuanya itu lagi," ucapan Benny begitu serius dan meyakinkan
"Jujur Ben, gw masih punya rasa sama lu, tapi maaf gw gak mau ngulang sakit itu Ben. Gw belom siap," jawab Ika sambil menahan genangan air mata di ujung matanya
"Gw janji gw gak bakal nyakitin lu Ka. Dan gw gak maksa kalau lu emang belom siap sekarang," ucap Benny sambil menghapus air mata yang telang mengalir di pipi Ika
"Ikaa??"
Suara itu mengejutkan mereka berdua. Suara yang sudah pasti Ika hapal.
"Sony?" ucap Ika dengan gugup
Sony yang tadinya ingin menjemput Ika tidak menyangka disuguhi pemandangan mesra seperti itu, "Jadi ini keputusan lu Ka?" Tanya Sony dengan gemetar sambil menahan emosinya, "Selamat yah Ka. Sorry gw ganggu lu berdua," dan Sony pun langsung pergi meninggalkan mereka berdua
Percuma Ika berteriak bahkan mengejar Sony, ia tetap tidak mau berbalik
"Itu siapa Ka?" Tanya Benny yang dari tadi memperhatikan
"Siapa dia bukan urusan lu dan jangan ganggu gw lagi," jawab Ika dan ia langsung pulang meninggalkan Benny

Perasaan Ika kacau. Ia bingung ada apa dengan dirinya. Ia merasa bersalah telah membuat Sony sakit hati. Tapi mungkinkah itu hanya perasaan iba dan mungkinkah hatinya hanya untuk Benny?
Hanya satu orang yang mengerti Ika, ia pun mengambil ponselnya dan menghubungi Nisa
"Halo Nisa?"
"Kenapa Ka?"
"Gw mau cerita"
"Cerita apa? Cerita kalau lu udah balikan sama Benny dan lu bikin Sony sakit hati?"

"Daaaa.. darii mana lu tau itu Nis?"
"Sony udah cerita semua sama gw. Gak nyangka gw Ka lu jilat ludah lu sendiri"
"Gak gitu Nis, gw gak balikan sama Benny"
"Terserah Ka, itu bukan urusan gw"

Bukannya membaik malah semakin tambah bebannya. Nisa, sahabatnya sendiri kecewa padanya. Ia tidak bermaksud membuat Sony sakit hati. Sony yang begitu baik padanya. Yang begitu tulus mencintainya. Dan ia pun tidak menjilat ludahnya sendiri. Ia menolak Benny untuk dekat seperti dulu. Kali ini pikirannya makin kacau. Sony tidak bisa dihubungi. Mungkin ia mau menenagkan isi hatinya, tapi Ika juga mau menjelaskan. Ada apa dengan dirinya, mengapa ia begitu peduli pada hati Sony? Bukankah hatinya buat Benny? Tidak. Ika sudah menyadari bahwa Sony telah menyentuh hatinya, Sony mulai mengobati lukanya secara perlahan dan Ika pun sebenarnya mulai membuka hatinya untuk Sony.
"Son, maafin gw yah. Gw gak bermaksud buat nyakitin lu. Dan Benny itu bukan siapa-siapa gw. Gw mau ketemu sama lu. Kalau lu gak mau ketemu lagi sama gw gakpapa. Tapi tolong jadiin ini pertemuan terakhir kita. Gw tunggu lu besok di danau jam 4 sore" itulah pesan yang dikirimkan Ika pada Sony. Ia sangat berharap Sony membaca pesannya itu dan mau datang ke tempat itu

***

Sebelum pukul 4 Ika sudah tiba di danau tempat mereka biasa bertemu.
Jam 4 tepat tapi belum ada tanda-tanda kehadiran Sony, Ika masih tetap menunggu. Mungkin ia telat pikirnya
Sudah 30 menit Ika menunggu namun Sony tetap tidak datang. Tapi Ika masih setia menanti.
Tepat pukul 5 dan Sony belum datang juga. Kali ini Ika putus asa dan berniat untuk pulang
"Mungkin, dia udah gak mau ketemu sama gw," ucapnya berbisik
"Kata siapa gw gak mau ketemu sama lu?" Suara itu mengejutkannya lagi, ya itu Sony
"Sony?" Kata Ika terkejut, "Lu mau ketemu sama gw?"
"Lu mau ngomong apa emang sama gw?" Kata Sony sambil mengambil posisi duduk di bawah pohon yang rindang
"Gw mau minta maaf sama lu Son. Gw udah bikin lu sakit hati. Tapi ini gak seperti yang lu kira kok. Gw sama Benny gak ada apa-apa," Ika menjelaskan
"Kalau ada apa-apa juga gakapa kok. Kan lu bukan siapa-siapa gw dan lu gak perlu minta maaf karena gw sendiri yang mau nunggu lu dan harusnya gw udah siap buat sakit hati," jawab Sony tanpa menatap wajah Ika
"Tapi ini salah gw Son. Lu pasti sakit hati kan?" Tanya Ika
"Tenang aja Ka, gw gak sakit hati. Dan sekarang gw tau kalau gw itu gak seperti 'Pangeran Impian' lu itu," ucap Sony
"Cukup Son! Lu yang udah ngajarin gw arti pangeran yang sesungguhnya," jelas Ika
"Tapi PANGERAN lu itu bukan gw kan Ka?" kali ini nada bicara Sony meninggi, "Gw seneng kok kalau lu balik lagi sama 'Pangeran Impian' lu itu,"
"Tapi Son, gw gak ada apa-apa sama Benny. Tolong Son dengerin penjelasan gw dulu," ucap Ika yang sudah tak sanggup menahan air matanya, "Lu gak tau kan Son isi hati gw? Sekarang di hati gw udah ada lu Son"
Sony begitu terkejut mendengar kata-kata Ika
"Lu udah berhasil nyentuh hati gw Son. Tolong jangan ninggalin gw dan bikin gw sakit hati untuk kedua kalinya," lanjut Ika
Sony pun mengusap air mata Ika dan berkata, "Gak pernah ada niat gw buat nyakitin hati lu Ka. Lu terlalu berarti buat gw," kemudian Sony memegang tangan Ika, "Do you want to be my princess?"
"Of course my prince," jawab Ika dengan lembut namun pasti
"Nah gitu dong, kan enak kalau gini,"
"Nisa??" Ucap Ika yang terkejut melihat Nisa
"Sony yang bilang ke gw kalau lu berdua mau ketemu jadi karena penasaran gw dateng aja. Hehehe," Nisa menjelaskan
"Oh jadi sekarang ngadu terus nih? hahaha," ledek Ika
"Kan curhat Ka, hehhe," jawab Sony
"Eh, btw selamat yah. Lama banget tau gak sih nungguin lu orang jadian. Mending makan yuk. Hahaha," ajak Nisa
"Makan aja cepet lu, tapi ayu deh. Hahahaha," jawab Sony
Akhirnya, kisah cinta Ika berakhir indah. Ia menemukan dan menerima sesorang yang tulus mencintainya. Seseorang yang rela berkorban untuknya. And he is 'The Real Prince" for Ika..

Sunday, July 1, 2012

The Real Prince

Vennica, biasa disapa Ika, seorang anak yang populer di sekolahnya. Gadis yang pandai, cantik, ia juga pandai menari. Orang-orang melihat hidupnya begitu sempurna, tapi tidak dengan kisah cintanya.

“Ka, bulan depan ada lomba dance. Mau ikut gak?” Tanya Clara, teman satu timnya
“Nanti gw pikir-pikir dulu deh yah. Gw masuk ke kelas dulu yah Ra,” Ika pun meninggalkan Clara

Namun, ia adalah anak yang sedikit sombong. Maklum dengan semua kelebihan yang dimilikinya semua orang pasti kagum padanya. Tapi kalau sudah dekat dengannya dia akan berbuat sangat baik bahkan lebih baik dari yang kita kira.

“Nisaaaa... nulis puisi lagi yah?” Tanya Ika pada sahabatnya itu
“Ka, jangan kenceng-kenceng. Gw kan malu,” jawab Nisa sambil memperhatikan keadaan kelas
“Ngapain malu? Puisi lo itu bagus banget tau Nis, masa lo gak sadar sih,” kata Ika sambil mengambil posisi duduk di sebelah Nisa, “Oh iya Nis, lihat gambar gw deh,” ucap Ika sambil mengeluarkan kertas dari tasnya
“Gambar pangeran impian lo?” Tanya Nisa sambil memperhatikan gambar itu
“Iya, pangeran tampan yang baik, kaya, rendah hati terus bisa main gitar sama jago nyanyi. Keren banget Nis!!” celoteh Ika
“Ika sayang, yang kaya gitu mah adanya cuma di sinetron. Hahahah,” ledek Nisa
“Yee biarin siapa tau ada. Hahaha,” jawab Ika

‘Teng.. Teng.. Teng’ bel masuk berbunyi

‘Pangeran Tampan’ itu memang impian Ika. Itu juga yang membuat Ika sampai sekarang belum mempunyai pacar. Ika begitu terobsesi pada ‘Pangeran Tampan’nya itu dan mempunyai impian menikah seperti putri di negeri dongeng

“Clara, kalo temen-temen yang lain setuju buat ikut lomba itu, gw setuju deh,” kata Ika
“Beneran Ka? Udah lama nih kita gak lomba,” jawab Clara
“Iya, besok gw bakal ke SMA Fajar buat daftarin tim kita,” kata Ika sambil tersenyum
“Makasih banyak Ika,” kata Clara, “Eh, gw pulang dulu yah,” Clara melanjutkan

Tim dance Ika memang sudah sering mengikuti lomba dan sering juga memenangkan perlombaan jadi tim dance mereka cukup terkenal.

“Permisi kak, kami dari SMA Nusantara ingin mendaftar lomba dance,” kata Ika pada panitia
“Oh, tunggu sebentar yah. Ben, tolong nih ada yang mau daftar,” orang tersebut memanggil temannya.
Dan ternyata, sangat terkejut Ika melihat sosok yang bernama Benny. Orang itu hampir seperti ‘Pangeran Impian’nya. Badannya tinggi, tubuhnya proporsional dan tampan. Ahirnya, Tuhan mempertemukan di dengan pangerannya, pikirnya.

“Ehm, kamu yang mau daftar?” Tanya Benny
“Ehmm, iya kak,” jawab Ika
“Jangan panggil gw kakak, panggil aja gw Bennny, kalo lo?” kata Benny sambil mengulurkan tangannya
“Ehmm, Vennica. Tapi biasa dipanggil Ika,” balas Ika
“Ya udah isi form ini dulu yah,” kata Benny sambil menyerahkan selembar formulir
Mungkin ini anugerah bagi Ika bisa berkenalan dengan cowok setampan itu.
“Ehm kak, eh Benny ini formnya,” kata Ika sambil mengembalikan form itu
“Oke, nanti kamu kami hubungi lagi yah,” ucap Benny
“Oke deh, makasih yah,” ucap Ika dan langsung pergi meninggalkan sekolah itu

Semalaman Ika membayangkan wajah tampan pangerannya itu. Ia tak sabar untuk menceritakan pada Nisa.
Dan benar saja, keesokan harinya Ika langsung bercerita dengan heboh pada Nisa

“Nis, lu tau ga kemaren gw ketemu siapa?” Tanya Ika dengan penuh semangat
“Mana gw tau kan lu belom bilang,” jawab Nisa acuh
“Gw ketemu PANGERAN GW!!” Seru Ika sambil mencubit pipi Nisa
Nisa seakan tak percaya akan perkataan sahabatnya itu, tapi Ika begitu meyakinkan, “Coba ceritain sama gw kronologisnya Ka,”
“Nih, jadi pas kemaren gw mau daftar lomba di SMA Fajar gw ketemu sama Benny, panitia yang GUANTENG BUANGET!! Dan lo tau?? Gw kenalan Nis!!” Ika menceritakan dengan sangat semangat
“SMA Fajar? Itu mah sekolah sepupu gw. Hahahha,” sambung Nisa
“Tapi sepupu lu itu bukan Benny kan? Hahaha,” ledek Ika
“Bukan, sepupu gw itu Rico,” jawab Nisa
“Cari info tentang Benny dong Nis,” pinta Ika
“Hmm, gimana yah??”
“Tolong yah Nisa sayang,” pinta Ika dengan muka memelas
“Iya deh iya. Hahahahha,” jawab Nisa
“Makasih Nisa sayang,” kata Ika sambil mencubit pipi Nisa
“Udah balik sana ke tempat lo, udah mau masuk nih,” ucap Nisa pada Ika
“Oke boss,” dan Ika kembali ke kursinya di belakang Nisa

****
Hari ini hari Minggu, biasanya kalau tidak ada kegiatan Ika dan Nisa sering pergi ke mall bersama dan mimpi apa Ika semalam, di sana ia bertemu dengan Benny!

“Benny?” sapa Ika
“Iya, Ika yah?” Sapanya balik
“Iya, masih inget? Sendiri?” Tanya Ika
“Inget lah, masa cewek secantik lo gw lupa, hehehhe. Gak sendiri kok, sama mama,” jawab Benny
“Wah, anak baik yah,” ledek Ika, “Oh iya, kenalin temen gw Nisa,”
“Hai, gw Benny,” sapa Benny
“Gw Nisa, salam kenal,” balas Nisa
“Oh iya Ben, soal lomba dance di sekolah lo, udah ada kabar terbarunya belom?” Tanya Ika
“Belom sih. Gimana kalau gw minta pin lo aja,” jawab Benny sambil mengeluarkan handphonenya
“Nah, udah gw accept tuh,” ucap Ika
“Oe, nanti gw hubungin yah. Sekarang gw mau ke tempat nyokap gw dulu. Bye,” Benny pun berpamitan dan pergi meninggalkan merea berdua
“Ikaaaaa, tuh cowok emang cakep yah. Hehehhe,” ucap Nisa
“Iyalah, dan sekarang gw udah dapet pinnya Nis!!” kata Ika girang, “Oh iya, lu udah cari info belom tentang si Benny?” Tanya Ika sambil menyeruput minuman di depannya
“Udah dong,” jawab Nisa santai
“Gimana? Gimana?” Tanya Ika penasaran
“Dia itu punya band, bisa maen gitar terus kapten tim basket juga. Terus salah satu cowok populer juga disana. Tapi kalo soal percintaannya gw gak tau soalnya kata sepupu gw dia gak jelas gitu sih,” jelas Nisa
“Itu kriteria pengeran gw banget Nis!! Emang jodoh deh gw. Hahaha,” jawab Ika antusias
“Ya ya ya. Kalo lu seneng gw juga seneng deh. Hahaha,” ucap Nisa

Dan benar saja, malam harinya Benny langsung bbm Ika
“Hai lagi apa? Ganggu gak?”
“Gak kok. Hmm, lagi nonton aja nih. Lu?”
“Sama dong. Nonton apa?”
Dan dari situ hubungan mereka semakin dekat. Sudah seminggu ini Benny dan Ika bbm-an secara rutin. Bahkan, sekarang Benny sering menjemput Ika di sekolah.

“Ciyee yang pulang dijemput sama pangerannya,” ledek Nisa
“Apa sih lu? Udah yah gw pulang dulu. Bye,” ucap Ika

Bahkan perhatian yang lebih pun diberikan Benny pada Ika. Kali ini sepertinya harapan Ika tidak bertepuk sebelah tangan. Sudah hampir sebulan hubungannya dengan Benny berjalan lancar, walaupun mereka belum resmi berpacaran.

“Gimana Ka, udah siap buat besok?” Tanya Benny saat sedang mengantar Ika pulang
“Yah, lumayan lah. Doain aja. Hehehhe,” jawab Ika
“Tenang, pasti gw doain kok, gw semangatin juga! Hehhehe,” ucap Benny
“Makasih yah Ben,” jawab Ika

Dan hari itu pun tiba. Perlombaan yang telah lama dinantikan oleh Ika dan teman satu timnya. Dan tentu harapan mereka adalah memenangkan perlombaan itu.

“Semangat yah Ika, lu pasti bisa!!” Kata Nisa menyemangati Ika
“Nah, giliran gw. Doain gw yah Nis!” Ucap Ika
“Semangat Ka, gw juga ngedoain! Hehhee,” ucap Benny

“Dan sekarang peserta terakhir dari SMA Nusantara!” Ucap sang MC dan semua penonton pun  bertepuk tangan menyambut mereka.
Dan penampilan yang sangat menakjubkan disuguhkan oleh Ika dan timnya. Sekarang saatnya untuk pengumuman pemenang yang membuat Ika dan timnya tegang, bahkan lebih tegang dari saat tampil
“Juara ke-3 diraih oleh SMA Fajar,” kata sang MC disambut sorak sorai penonton
“Juara ke-2 diraih oleh SMA Nusantara dan juara ke-1 direbut oleh SMA Kasih,”

Kaget, bangga, sealigus kecewa. Itulah perasaan Ika sekarang. Kecewa kaalu ia harus menjadi juara 2 tetapi bangga juga arena ia dapat menjadi juara.
“Selamat yah Ika,” seorang cowok yang tidak tampan namun menarik memberinya ucapan selamat.
“Makasih, siapa yah?” Tanya Ika bingung
“Gw Sony. Kita satu sekolah kok.  Tapi mungkin gw gak sepopuler lu jadi lu gak kenal gw,” jawab pemuda yang bernama Sony itu
“Oh, sorry gw gak tau. Salam kenal deh,” jawab Ika sambil tersenyum, “Gw duluan yah Son, sampai ketemu nanti di sekolah,”
“Bye, sampai ketemu,” balas Sony

****
Hari ini Ika datang ke sekolah dengan mata sembab. Ini membuat Nisa sahabatnya bertanya-tanya.
“Lu kenapa Ka? Ada masalah?” Tanya Nisa penasaran
“Benny Nis, Benny,” jawab Ika sedih
“Kenapa Benny? Kecelakaan?” Tanya Nisa panik
“Gak. Gw udah gak berhubungan lagi sama dia,” jawab Ika pasrah
“Kenapa? Kok bisa?” Tanya Nisa lagi
“Jadi kan udah tiga hari kemarin sikapnya ke gw tuh berubah banget. Padahal sebelumnya gak ada apa-apa Nis. Dan pas gw tanya jawabannya tuh nyakitin banget Nis. Nih lu baca sendiri bbmnya,” jelas Ika sambil memberikan handphonenya pada Nisa

Ika       : “Ben, lu udah males yah bbman sama gw?”
Benny  : “Ga kok. Bukan gitu,”
Ika       : “Udah bilang aja kalo lu udah gak mau bbman sama gw”
Benny  : “Bukan gitu Ika. Tapi, kita kayanya udah gak bisa deket lagi deh”
Ika       : “Maksud lu apa?”
Benny  : “Yah gw bilang gini supaya lu bisa cari cowo lain”
Ika       : “Terus kata-kata lu selama ini omong kosong?”
Benny  : “Kata-kata apa? Emang gw pernah bilang apa?”
Ika       : “Selama ini tuh lu aya ngasih harapan ke gw terus sekarang lu seenaknya bilnag gini?”
Benny  : “Harapan? Gak tuh. Hahaha”
Ika       : “Oke, makasih yah buat sakit hatinya”

“Buset Ka, bisa-bisanya tuh cowo bilang begitu ke lu? Biar gw kasih pelajaran sini!” Seru Nisa yang saat itu sangat kesal
“Udah lah, ngapain sih Nis ngurusin cowok kaya gitu, gak penting juga. Gw juga gak kenapa-napa kok,” Ika berusaha untuk tegar
“Pokoknya besok kita harus have fun! Nonton, makan, jalan-jalan! Pokoknya lu gak boleh sedih, apalagi galau!” Ucap Nisa panjang lebar
“Iya Nisa, gak bakal gw ngegalauin orang kaya gitu,” Jawab Ika

Benar saja, keesokan harinya pagi-pagi Nisa sudah ada di rumah Ika dan langsung menculik Ika untuk jalan bersamanya.
“Gimana Ka? Have fun kan? Hahaha,” ledek Nisa
“Have fun sih, tapi gw laper. Hahaha,” jawab Ika, “Makan yuk,” ajak Ika
Mereka pun langsung menuju restoran favorit mereka. Dan disuguhi pemandangan yang tidak mereka duga.
“Nis, itu Benny kan?” Tanya Ika kaget
“Iya dan dia sama cewe Ika. Mesra banget lagi,” jawab Nisa sambil memperhatikan
Dan tak kuasa air mata pun menetes di pipi Ika. Sangat kecewa, hatinya begitu perih. Sebenarnya masih ada rasa di hatinya. Tak menyangka kalau pangeran yang ia banggakan seperti itu.
Semalaman ia menangis. Tak sanggup rasanya mengingat kejadian itu. Begitu cepatnya ia mendapat pengganti dirinya atau mungkin mereka memang sudah lama. Banyak pikiran berkecamuk di kepalanya. Bahkan pikiran itu pun masih terbawa sampai di sekolah. Ia tak bisa fokus mengikuti pelajran. Adegan kemarin seolah diputar berulang-ulang di pikirannya.

“Ika, udah dong. Makan dulu yah. Gak usah dipikirin yang kemarin. Sorry gara-gara gw lu jadi ngeliat dia lagi,” hibur Nisa
“Bukan Nis, tapi gara-gara lu gw jadi tau kebenaran,” jawab Ika
“Haii, boleh gabung di sini?” ucap Sony yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka
“Duduk aja, kantin bukan punya gw kok. Hahhaha,” jawab Nisa
“Eh, Ika kenapa? Kayanya sedih amat,” kata Sony sambil memperhatikan Ika
“Bukan urusan lo!” Jawab Ika ketus dan ia langsung pergi meninggalkan Sony dan Nisa
“Duh Nis, bilangin Ika sorry yah kalo gw bikin dia tersinggung atau apa,” pinta Sony
“Tenang aja, dia Cuma sensi kok,” hibur Nisa dan ia pun langsung menyusul Ika

Berhari-hari Ika memikirkan tentang Benny dan perempuan itu, bahkan Nisa sendiri sebagai sahabtanya pun bingung. Dan ia memutuskan untuk bercerita pada Sony karena ia tahu Sony sebenarnya menyimpan perasaan pada Ika.
“Ka, sorry yah yang kemaren,” ucap Sony
“Gapapa kok, itu gw aja yang lagi sensi,” jawab Ika
“Bisa ikut gw sebentar gak?” Ajak Sony
“Kemana?” Tanya Ika bingung
“Ke tempat yang bisa bikin lu tenang,” jawab Sony
Entah kenapa tiba-tiba Ika begitu percaya pada Sony dan mengikuti ajakan Sony. Dan benar, ajakan Sony tidak mengecewakan. Mereka pergi ke sebuah danau yang begitu indah karena di situ juga terdapat taman yang sejuk yang banyak ditumbuhi pepohonan.
“Ka, ini tempat gw biasa merenung kalo gw lagi sedih,” ujar Sony
“Kata siapa gw lagi sedih?” Tanya Ika penasaran
“Kata gw terus kata Nisa juga sih. Hehehe,” jawab Sony
“Emang bener yah tuh anak. Comel banget. Haahaha,” ucap Ika
Tiba-tiba Sony memegang tangan Ika, “Ka, gw mau jujur sama lo. Sebenernya gw udah lama suka sama lo. Sejak pertama kali kita ketemu pas orientasi sekolah,” jelas Sony
“Lu suka sama gw kenapa? Karena gw cantik? Atau karena gw jago dance?,” Tanya Ika
“Bukan, tapi karena gw tau siapa lu. Gw tau gimana karakter lu. Bagi gw bukan fisik yang terpenting. Gw tau sebenernya lu itu orangnya baik, tulus, dan sebenernya lu itu peduli sama sekitar lu,” jelas Sony lagi
“Ternyata lu mata-matain gw yah? Hahahah,” ujar Ika bercanda
“Ika, gw emang gak setampan pangeran impian lu, tapi gw tulus sayang sama lu. Lu bisa pegang kata-kata gw,” ucap Sony
“Gw tau kok Son kalo lu tulus. Nisa udah cerita ke gw. Tapi maaf gw belom siap buat buka hati gw lagi untuk saat ini. Tapi gw mau kita tetep temenan,” pinta Ika
“Gak perlu lu bilang gw juga bakal selalu ada buat lu. Dan gw bakal nunggu lu sampai gw gak mampu lagi buat nunggu,” ucap Sony dengan penuh keyakinan
“Makasih yah Son, lu udah ngajarin gw banyak hal. Dulu bagi gw pangeran itu harus tampan, gagah, menarik, pokoknya perfect dah. Tapi sebenernya pangeran itu adalah dia yang melakukan segala sesuatu dengan tulus,” ucap Ika sambil tersenyum

“Pangeran yang sejati adalah ia yang mampu melakukan sesuatu dengan tulus dan juga memberikan cintanya dengan tulus” –tamz-

Friday, June 15, 2012

Terima Kasih Luka

Tak menyangka kisah kita akan berakhir
Apalagi brakhir tragis seperti ini
Kisah yang telah lama kita ukir seakan tak berarti
Janji yang dulu kau ucapkan kini membeku
Tak ada lagi kata cinta
Tak ada lagi kata sayang
Hanya luka yang kau lukiskan
Luka yang begitu dalam saat kau bersama dia
Luka yang begitu perih saat kau lebih memilih dia
Tapi luka ini juga yang membuat aku mengerti tentang MERELAKAN
Luka ini juga yang membuat aku mengerti bahwa tak ada yg abadi
Dan luka ini juga yang mengajarkan aku tentang KETEGARAN
Terimakasih telah memberikan luka ini..


inspired by a friend and for a friend..

Thursday, June 14, 2012

Kesalahan Terindah

“Stell, hari ini lu sampe pagi apa gak?”
“Gak lah, gw sih udah ada pelanggan tapi gw gak mau sampe pagi, mau belajar buat quiz besok gw”
“Hari gini masih belajar?? Gak banget deh! Buat apa jadi sarjana kalo gak bisa ngasilin duit?”
“Buat banggain nyokap gw lah! Dia kan taunya gw kuliah bukan jadi PSK!”

Stella, cewek berusia 20 tahun dan berprofesi sebagai PSK (Pekerja Seks Komersial). Ia memilih pekerjaan ini untuk membiayayi kuliah dan hidupnya. Walaupun pekerjaannya hina, ia tetap bertekad untuk dapat menjadi sarjana dan membuat ibunya bangga.

"Neng, malem ini udah ada jadwal belom? kalo belom sama kita aja.. hahaha"
“Sorry yah, gw bukan cewe murahan!”
“Emang biasa dibayar berapa si neng? Hahahha”
Stella pun langsung pergi meninggalkan mereka tanpa berucap apapun. Ejekan dan cacian sudah sangat sering diterima Stella seakan itu adalah makanannya sehari-hari.

“Gila Stel! Tadi quiznya susah banget!” Seru Lita, sahabat baik Stella
“Gampang tau, makanya belajar neng! Hahaha” Jawab Stella santai
“Yah lo sih enak otaknya kaya profesor, lah gw belajar 1 bab aja sampe mabok,” kata Lita
“Ya udah makan dulu aja yuk, laper nih gw,” ajak Stella
Dan seperti biasa mereka makan makanan favorit mereka, ‘Baso Pak Ujang’. Baso itu emang terkkenal paling enak di Universitas Nusantara.
Saat mereka sedang makan, tiba-tiba ada seorang pemuda yang mendatangi mereka.
 “Hi, boleh gabung?”
“Duduk aja, kan kantin bukan punya gw ngapain ijin sama gw,” jawab Stella ketus
“Jutek amat. Hehehe.. Nama gw Ronald, boleh kenalan sama lo?” Tanya Ronald sambil mengulurkan tangannya pada Stella.
“Penting yah nama gw buat lo?” Tanya Stella cuek
“Jadi cewe jutek amat sih lu Stel! Hi Ronald, nama gw Lita dan ini sahabat gw namanya Stella.” Sela Lita
“Stella? Artinya bintang kan? Bagus banget namanya” kata Ronald
“SKSD banget sih lo! Udah yuk Lit mending pergi aja, jadi gak napsu makan gw!” Ajak Stella dan mereka pun meninggalkan Ronald sendiri.
Ronald sebenernya emang udah suka sama Stella dari dulu, tapi baru kesampean sekarang buat kenalan sama Stella, walaupun dicuekin Ronald tetep berusaha supaya bisa makin dekat sama Stella.
“Lit, pasti lu kan yang ngasih pin gw ke si Ronald?” Tanya Stella pada Lita
“Iya, dia kan cakep Stel, hajar aja udah..  hahahha..” Jawab Lita
“Ta, gw  tahu cowo itu kaya gimana, pasti dia Cuma mau tubuh gw doang!” Seru Stella
“Stell, ga semua cowo kaya gitu, emang lu mau ngejomblo seumur hidup?” Tanya Lita
“Mungkin..  hahaha..” Jawab Stella santai
“Tapi kayanya da serius tuh sama lu ,” kata Lita
“Ahh bodo deh,” jawab Stella
Tapi sebenarnya Stella juga melihat  keseriusan itu dan dia mulai berusaha membuka hatinya untuk Ronald.
“Ciee yang pulangnya dijemput.. hahahha,” ledek Lita
“Apaan sih lu, orang cuma pulang bareng doang,” sanggah Stella
“Mau bareng juga gak Lit?” tanya Ronald
“Gak lah, gak mau jadi nyamuk gw. Hahaha” jawab Lita sambil bercanda
“Udah yuk nal pulang aja, biarin aja dia tinggalin di sini. Dah neee.. hahhaa,” sambung Stella
“Lit, gw duluan yah,” Ronald pun pamit dan langsung masuk ke mobil dan meninggalkan Lita.
“Kita mau kemana nih nal? Langsung pulang?” Stella membuka pembicaraan
“Terserah lo aja maunya kemana, gw mah ikut aja. Hahaha,” jawab Ronald
“Hmm, gimana kalo makan dulu? Laper nih,” kata Stella sambil memegangi perutnya yang saat itu memang sudah keroncongan
“Boleh. Stel, gw mau nanya nih,” kali ini nada bicara Ronald sangat serius
“Yaudah nanya aja, nanya gratis ini,” jawab Stella cuek
“Sorry sebelumnya, emang bener apa yang diomongin anak-anak kalo lu itu PSK?” Tanya Ronald sangat hati-hati
Stella terkejut dengan pertanyaan Ronald karena Ronald belum pernah seserius ini, Stella pun menghela napas panjang, “Hmm, cepat atau lambat lu bakal tau dan emang lu harus tau. Iya gw itu emang PSK, dan pasti gw udah gak virgin. Dan sekarang lo udah tau semuanya dan gw udah siap kok kalo lu gak mau ketemu lagi sama gw.”
“Semua orang pasti punya alasan kan, boleh tau apa alasan lu milih profesi itu?” Tanya Ronald
“Apa pun alasan gw lu gak perlu tau!” Jawab Stella ketus
“Tapi gw harus tau supaya...” Ronald pun langsung menghentikan kata-katanya
“Supaya apa? Supaya lo punya alasan buat ninggalin gw? Lo jijik sama gw yang SAMPAH MASYARAKAT ini? Kalo lu mau ninggalin gw yah lu pergi aja, gw udah biasa kok!”
“Bukan gitu Stell, gw cuma mau tau aja kok dan gw gak bakal ninggalin lo,” jawab Ronald sedikit gugup
“Gak usah munafik deh lu! Pasti kalo lu gak mau ninggalin gw lu mau manfaatin gw kan?”
“Gak Stell, gw gak mau semua itu!”
“Terus mau lo apa? Badan gw? Apa mau tidur sama gw? Gw tau kok cowok itu kaya apa!” Seru Stella
“Gak Stell, gw gak begitu,”
“Alah bullshit! Nanti juga lu pasti gitu!Kalo lu udah dapet apa yang lo mau lo pasti bakal buang gw kan?  Udah turunin gw di sini! Atau gw lompat nih!”
“Oke Stell oke, tapi kamu harus tau aku bukan cowok kaya gitu,” Ronald berusaha menjelaskan
“Gw GAK PEDULI!” Stella membanting pintu dan langsung meninggalkan Ronald
“Stell gw bisa buktiin kalo gw gak sama kaya cowo-cowo yang lu kenal!” Ronald masih berusaha menjelaskan.
Tapi Stella tidak menghiraukannya, menoleh pun tidak.
Berhari-hari Ronald menghubungi Stella, tapi tetap tidak ada jawaban dari Stella. Dan sudah hampir seminggu Stella tidak masuk kuliah. Rasa bersalah dan khawatir semakin menyelimuti Ronald. Bahkan ia harus mengumpulkan sejuta keberanian untuk bertanya pada Lita tentang Stella.
“Lit, gw boleh nanya sama lo?”
“Nanya apa? Stella?”
“Iya, gimana keadaan Stella?”
“Gak cukup lu udah buat Stella sakit hati?”
“Gw bisa jelasin Lit,”
“Yaudah lu jelasin sekarang!”
Ronald pun menjelaskan semuanya kepada Lita dan ia sadar mungkin ia telah membuat Stella salah paham padanya.
“Oh, mungkin emang lu berdua salah paham,” Lita mulai mengerti masalah yang ada, “Stella emang sensitif sama cowo Nal, soalnya dia udah banyak ketemu cowok dan mereka Cuma mau manfaatin dia terus dia ditinggal begitu aja,”
“Tapi gw gak kaya gitu Lit, gw tulus sama Stella,” jelas Ronald
“Asal lu tau aja yah, gw bangga sebenrnya sama Stella walaupun emang jalan yang dia ambil salah. Ini alasan kenapa Stella milih jadi PSK, itu karena dia mau biayain kuliah dia sendiri dan bagi dia cuma cara ini yang bisa dia lakukan. Dia juga punya tekad yang kuat buat banggain orang tuanya dengan jadi sarjana dan dapet nilai terbaik,” Lita  menjelaskan
“Gw gak nyangka kalo dia itu bener-bener cewek yang tangguh,” Ronald menimpali
“Tapi gw gak yakin apa lu masih bisa ngomong gitu setelah lu tau.....”
“Tau apa Ta? Apa yang gw gak tau?”  Tanya Ronald penasaran
“Hmm, Stella sekarang...” Lita menarik nafas panjang dan kemudian baru melanjutkan ucapannya, “Dia hamil nal,”
Ronald terdiam sejenak dan ia sangat terkejut mendengar perkataan Lita dan ia pun langsung segera bisa memutuskan sikap apa yang harus ia ambil.
“Anterin gw ke kost Stella Ta, gw mohon,” nada suaranya begitu tulus dan iba sehingga Lita pun tak sanggup untuk menolaknya
“Oke gw anterin,”
Mereka pun segera menuju kost Stella tidak jauh dari kampus mereka.
Tok.. Tok.. Tok..
“Stell, ini gw Lita. Boleh gw masuk?”
“Masuk aja, gak dikunci kok,” suara yang begitu lemah dan penuh beban terdengar dari dalam rumah itu.
“Lu baik-baik aja Stell?” Tanya Lita sambil masuk ke dalam rumah
“Gw gpp kok,” jawab Stella lemah. Ia terkejut karena Lita datang ebrsama Ronald. “Ngapain lu ngajak dia kesini Lit?” kali ini nadanya langsung berubah menjadsi marah sekaligus gugup.
“Stell, gw udah tau semuanya dari Lita,” kata Ronald lembut
“Tau apa lu?” Tanya Stella masih dengan nada yang sama
“Gw tau kalau lu itu lagi hamil,” jawab Ronald
Bagaikan disambar petir Stella saat mendengar perkataan Ronald itu, ia malu bahkan sangat malu.
“Iya, kenapa kalo gw hamil? Lo mau menghina gw? Atau lu mau bilang ke semua orang kalu gw itu hamil?” Tanya Stella sambil menangis
“Stell..” Kata Ronald sambil memegang tangan Stela, “Gw mau kita menikah,  anak di kandungan lu itu perlu bapak dan gw siap jadi bapaknya,”
Dan sekali lagi Ronald membuatnya terkejut, bahkan bukan hanya Stella yang terkejut, Lita yang ada di situ juga terkejut.
“Tapi, gw ini PSK dan sekarang gw hamil dan gak tau siapa bapaknya! Lu salah kalau milih gw,” jawab Stella dan kali ini air matanya keluar lebih deras.
“Stell, semua orang bisa dan berhak berubah. Dan gw yakin kok lu bisa berubah. Lu jadi PSK karena keadaan kan? Dan gw janji bakal ngluarin lu dari pekerjaan itu,” Ronald meyakinkan
“Tapi Nal, lu itu anak baik-baik dan gw?? Gw ini najis! Lu salah kalau milih gw,”
Sambil memegang tanga Stella Ronald berkata, “Kalau emang aku salah milih kamu, itu bakal jadi KESALAHAN TERINDAH yang pernah aku buat,”
Stella hanya diam terpaku menatap mata Ronald yang begitu tulus.
“Jadi kamu mau kan terima aku dan buktiin kalau aku gak salah milih kamu,”  kata Ronald lembut
Stella diam, berpikir sejenak melihat betapa tulus cinta yang Ronald berikan, “Aku akan berubah bersama kamu dan buktiin bahwa aku orang yang tepat buat kamu,” jawab Stella yakin
Lita yang hanya memperhatikan mereka tanpa sadar meneteskan air mata melihat betapa tulusnya cinta mereka berdua. Cinta yang semula diragukan tapi ternyata sangat tulus.


"Penyesalan memang datang terlambat tetapi terus menyesal bukanlah solusi. Bangkit dari keterpurukan dan berubah agar penyesalan itu tidak terjadi dua kali"