Monday, November 5, 2012

Kado Terindah

"Happy Birthday to you, Happy Birthday to you.. Selamat ulang tahun yah Dora, mama sayang banget sama kamu," kata mama sambil mengecup pipi Dora
Itu adalah pada saat ulang tahunku yang ke-5.
Nama lengkapku adalah Feodora Sasmito. Kalau kata mama Feodora itu artinya anugerah Tuhan (berat juga yah.. hehehe..) dan Sasmito adalah nama belakang yang diturunkan alm. bokap gw. Yap, ayah, papa, atau bokap gw udah meninggal. Beliau meninggal pada saat umur gw 3 tahun. Beliau meninggal karena kecelakaan. Dan sampai saat ini umur gw hampir 17 tahun nyokap gw gak pernah menikah lagi dan dengan sekuat tenaga bekerja untuk menghidupi gw, anak beliau satu-satunya.

"Mama pergi ke kantor dulu yah sayang, kamu baik-baik yah dirumah," pesan mama dan langsung meninggalkan rumah
"Bi, tolong siapin makanan Dora yah," seru Dora dari dalam kamar
"Baik non," jawab Bi Imas
Bi Imas, dia adalah orang yang setia merawat gw sejak gw masih kecil. Bi Imas adalah satu-satunya teman gw di rumah, maklum mama itu adalah single parent jadi jarang di rumah.

"Ini non, bibi sudah siapkan makanan kesukaan non. Nasi goreng spesial dengan telur mata sapi. Hehehe," seru Bi Imas sambil mengantarkan makanan ke kamar Dora
"Wah wangi banget Bi, kau jadi tambah laper nih. Hehehe," jawab Dora
"Yaudah Bi, makasih yah," jawab Dora sambil tersenyum
"Mau Bibi suapin apa makan sendiri non?" Tanya Bibi
"Makan sendiri aja Bi, kan udah mau 17 tahun masa makan aja masih disuapin. Hehehehe," balas Dora sambil tertawa
"Yaudah bibi taruh sendoknya dan piringnya di samping tempat tidur yah non," kata Bibi dan langsung meninggalkan kamar Dora

Aku, Feodora, sebenarnya bukan anak yang manja. Mungkin kalian melihat bahwa aku anak manja yang selalu bergantunga pada orang. Tapi sebenarnya ini karena kekurangan yang aku miliki. Kedua mataku sudah tidak dapat melihat lagi sejak umur 3 tahun. Kejadian kelam yang selalu aku coba untuk lupakan. Kejadian yang merenggut pengelihatan dan juga ayahku.
Ya, kecelakaan tragis yang terjadi saat aku berumur 3 tahun. Waktu itu kami sekeluarga baru pulang dari rumah nenek dan malam itu hujan cukup deras tapi kami tetap memutuskan untuk pulang karena esok harinya papa harus bekerja. Namun di perjalanan ada sebuah truk yang menabrak mobil kami dari depan dan aku tidak tahu lagi apa yang terjadi. Aku yang waktu itu duduk di depan, di samping papa hanya merasakan benda tajam seperti pecahan kaca masuk ke mataku. Saat aku sadar, aku sudah tidak dapat melihat dan kehilangan papa.
Tapi aku mulai terbiasa tidak dapat melihat, bahkan aku juga bersekolah di sekolah khusus dengan menggunakan huruf braille.

"Dora, mama pulang. Kamu udah makan sayang?" Kata mama sambil mencium dahiku
"Udah kok ma, mama capek yah?" Tanyaku
"Gak kok. Oh iya kamu kan minggu depan ulang tahun, kamu mau kado apa?" Tanya mama.
Mama, orang yang selalu ingat ulang tahunku di saat aku sendiri lupa akan itu dan beliau pasti selalu memberikanku kado di saat ulang tahunku.
"Dora mau lihat bintang ma," Entah kenapa kata-kata itu tiba-tiba keluar dari bibirku. Mungkin aku jenuh dengan kebutaanku ini.
Aku merasakan mama terdiam sejenak seperti menerawang sesuatu
"Dora, berdoa aja yah sama Tuhan. Emm, mama ke kamar dulu yah," suara mama begitu parau seperti menahan luka
Apa aku salah berkata seperti itu? Apa aku telah membuat mama merasa bersalah? Aku terus bertanya dalam hati.
Tapi jujur, aku sangat ingin melihat..

***
3 hari lagi adalah hari ulang tahunku dan mama membawa kabar bahagia.
"Dora, mama dapat kabar kalau ada yang mau mendonorkan matanya untuk kamu," kata mama dengan sangat bahagia
"Beneran ma? Aku seneng banget!" Kataku sambil memeluk mama
"Iya sayang, tapi maaf. Hanya satu kornea yang didonorkan yang didonorkan," kata mama datar
"Gakpapa ma. Aku udah seneng banget kok bisa ngeliat lagi. Walaupun gak sempurna kayak dulu," jawabku bahagia
"Yaudah kamu istirahat, besok kita ke rumah sakit yah," kata mama
"Oke ma," kataku sambil tersenyum
Aku sangat bahagia mendengar hal ini, walaupun hanya satu mata, tapi aku dapat melihat lagi. Mencari pendonor mata itu sulit, apalagi golonagn darahku AB- golongan darah yang sangat langka.

"Gimana Dora, kamu siap?" Tanya mama sambil mengantarkanku ke rumah sakit.
"Siap ma," jawabku
Sampai di rumah sakit aku langsung masuk ke ruang rawat, tapi mama tidak dapat menemaniku bahkan saat aku operasi. Mama bilang dia ada keperluan. Sebenarnya aku sangat sedih, tapi apa boleh buat. Tapi mama sudah berjanji bahwa nanti orang yang pertama kali aku lihat adalha mama.
Beberapa jam lagi aku akan operasi. Aku sudah tak sabar sekaligus takut sebenarnya. Hehehe..
Akhirnya saat itu tiba, aku harus memasuki ruang operasi seorang diri..
Berjam-jam aku berada di ruang operasi, namun aku tidak tahu apa-apa karena aku dibius.

"Bagaimana Dora, sudah enakkan badannya?" Kata Dokter Iwan, dokter yang merawatku
"Sudah lumayan dok, tapi masih lemes deh," jawabku sambil terbaring di kasur rumah sakit
"Yasudah sabar yah, besok kita akan buka perbanmu," lanjut Dokter Iwan
"Iya dok, saya sudah gak sabar. Oh iya dok, mama gak dateng yah?" Tanyaku sedikit bersedih
"Hmmm, mama kamu... Dateng kok tapi waktu itu kamu belum sadar. Hmm, saya periksa pasien lain dulu yah. Sampai besok Dora," kata Dokter Iwan seakan tidak mau aku bertanya lagi.
"Bi, emang mama tadi dateng yah?" Aku bertanya pada Bi Imas yang menemaniku karena aku tidak yakin dengan jawaban dokter.
"Hmmm, iya non," jawab Bi Imas singkat dan sepertinya ada yang disembunyikan juga.
"Yaudah deh Bi, aku tidur dulu," aku berusaha mempercayai mereka dan lebih baik tidur sampai besok saat perbanku akan dibuka.
Hari ini, 17 September aku tepat berumur 17 tahun dan juga aku dapat melihat lagi. Aku sangat senang.

"Gimana Dora, udah siap?" Tanya Dokter Iwan
"Siap dok, tapi mama udah dateng dok?" Tanyaku penasaran
"Ini mama sayang," kata mama diikuti sengan suara pintu tertutup. Sepertinya mama baru datang.
"Ya sudah, kita buka yah. Nanti kalau disuruh buka mata baru buka pelan-pelan yah," Dokter Iwan menjelaskan
Lapis demi lapis perban dibuka dan aku sudah tidak sabar menunggu instruksi dokter untuk membuka mata.
"Oke Dora, matanya dibuka pelan-pelan yah. Karena kamu belum terbiasa dengan cahaya," jelas Dokter Iwan
Aku pun mengangguk dan membuka mata perlahan.
Aku mulai bisa melihat bayang-bayang di sekitarku dan lama-lama mulai jelas.
Ada seorang wanita di depanku yang membawa kue ulang tahun dengan lilin 17. Itu pasti mama, pikirku.
"Mama?" Tanyaku?
"Iya Dora, ini mama," kata mama sambil menahan air matanya
"Yang itu Bi Imas?" Tanyaku sambil menunjuk wanita yang sudah agak tua di samping mama
"Iya non, ini Bi Imas," jawabnya sambil menitikan air mata
"Ma, Dora senang banget bisa melihat lagi," kataku sambil tersenyum bahagia
"Mama juga senang sayang," kata mama sambil memelukku
"Ma, kok mata mama diperban juga kaya Dora?" Tanyaku bingung saat melihat perban di mata mama
"Hmmm, inii.. Hmmm, mata mama lagi gak sehat sayang," kata mama seperti menyembunyikan sesuatu
"Mama pasti bohong!" Aku tidak tahu kenapa aku bisa berkata seperti itu, tapi hatiku yang berkata itu.
"Bu Lina, anda harus menceritakan semuanya," kata Dokter Iwan pada mama
"Ceritain apa ma? Tolong jangan sembunyiin apa pun drai aku!" Kataku seidkit membentak
Mama hanya menangis seakan tidak sanggup mengatakannya padaku.
Itu membuat aku semakin penasaran bahkan marah.
"Ma, tolong ceritain semua sama aku!" Kataku dengan nada lebih tinggi
"Sebenarnya, yang mendonorkan kornea mata untukmu adalah mama kamu Dora," Dokter Iwan menyela
Aku tersentak, terkejut, kaget, sangat tidak menyangka bahwa kornea mata yang sekarang ada padaku ini adalah milik mamaku
"Bener itu ma??" Tanyaku sambil menangis
Mama hanya mengangguk lemah
"Kenapa ma? Kenapa mama harus menderita buat aku? Aku udah terlalu banyak nyusahin mama. Jawab ma!!" Kataku setengah berteriak dan menangis
"Mama hanya mau kamu bisa melihat lagi sayang. Mama mau kamu bisa ngeliat bintang lagi. Biarin mama merasakan apa yang kamu rasakan. Ini gak sebanding sama apa yang udah kamu derita selama ini," jelas mama sembil menangis
"Tapi ma, aku gak mau ngeliat bintang kalau bikin mama menderita. Aku udah terbiasa gak ngeliat. Tapi mama sudah terbiasa dengan kedua mata,"
Mama kemudian memelukku, "Karena mama sudah terbiasa melihat, mama mau kamu juga merasakan apa yang mama rasakan. Sekarang kamu bisa melihat walau hanya dengan satu mata,"
"Ma, mama udah banyak berkorban buat Dora. Ini adalah kado terindah yang Dora terima. Makasih yah ma," kataku sambil memeluk mama
"Yaudah jangan nangis lagi, Tiup lilinnya yuk, masa ulang tahun nangis sih," kata mama sambil mengusap air mataku.
"Makasih yah ma, aku beruntung banget punya mama kaya mama," kataku sambil mencium mama
"Mama juga beruntung banget punya kamu Feodora, kamu benar-benar anugerah dari Tuhan,"
***

Itu adalah kisahku 15 tahun yang lalu. Sekarang aku dapat melihat dengan kedua mataku. Ini juga adalah karena hadiah dari mama. Sebelum mama meninggal, dia mewasiatkan agar matanya didonorkan padaku. Dan kini mata mama selalu bersamaku, bukan hanya matanya, bahkan semua tentang dirinya tersimpan jelas di hati ini. :)

No comments:

Post a Comment