Wednesday, December 28, 2011

Janji Suci Mawar Putih

"Tolong!! Mama!! Mama!!"
"Pergi Pusapa, pergi dari sini!!"
"Aaaarrgghh," Puspa terbangun dari tidurnya.
Lagi-lagi mimpi buruk itu mewarnai tidurnya. Mimpi tentang kerusuhan '98. Ia mencari air putih untuk menenangkan dirinya. Jam baru menunjukkan pukul 03.00 maka ia mencoba mengambil posisi untuk kembali tidur dan berharap mimpi itu tidak akan terulang.
****

"Bu, Puspa pergi dulu ya."
"Hati-hati yah nak."
Puspa segera meninggalkan rumahnya dan langsung pergi ke tempat Bu Diana, pemilik toko bunga. Ia bekerja di sana membantu Bu Diana.
"Mba, saya minta mawar putihnya satu buket yah," kata seorang pelanggan
"Iya mas, ini bunganya," kata Puspa sambil memberikan bunganya. Ternyata pembeli itu cukup tampan dan sepertinya mereka terkejut melihat satu sama lain dan sempat terdiam beberapa saat.
"Hm.. jadi berapa yah?"
"Jadi Rp 350.000;"
"Ini," kata si pembeli sambil menyerahkan sejumlah uang.
"Terima kasih," balas Puspa disertai dengan senyum manis di wajahnya.
Mungkin itu adalah hari keberuntungan bagi Puspa karena ia mendapat pelanggan yang tampan dan baik, tetapi ia tetap tidak mau membuka hatinya.
Hampir setiap hari pelanggan tampan itu membeli mawar putih di toko Bu Diana.
"Ini mas bunganya."
"Ehm sorry, jangan panggil gw mas. Panggil aja gw Ray. Kalau lo siapa?" Kata pembeli itu sambil mengulurkan tangannya.
Tapi Puspa tidak mau menjabat tangannya, "Maaf, saya Puspita tapi biasa dipanggil Puspa."
Semakin lama mereka semakin akrab, tetapi spertinya Puspa tetap menjaga jarak.
"Ray, kamu setiap hari beli mawar putih buat pacar kamu yah?" Puspa memberanikan diri bertanya.
"Bukan, gw belum punya pacar. Ini buat nyokap gw. Dia suka banget sama mawar putih," Ray menjelaskan
"Oohh," Puspa bingung harus menjawab apa.
"Kapan-kapan lo gw kenalin deh sama nyokap gw, mau kan?" Ray mencoba membangun suasana.
"Boleh tuh." Dan selanjutnya mereka terlibat perbincangan singkat.
Entah kenapa perasaan Ray terhadap Puspa semakin lama semakin berbeda. Sepertinya Ray mulai menyukai Puspa. Bagi Ray, Puspa itu sosok wanita yang istimewa. Sebenarnya Puspa juga mulai menyukai Ray, tapi ia takut dan berusaha menghilangkan rasa itu.
"Pus, ntar malam kamu ada acar gak? Kita pergi makan malam yuk," Ray mencoba melakukan pendekatan.
"Maaf Ray, aku gak bisa. Ini mawar putih pesanan kamu."
Selalu begitu, Puspa selalu menolak ajakan Ray. Seolah-olah ia menghindar dari Ray. Tapi bukan Raynaldo Satria Hardianto namanya kalau menyerah begitu saja.
Suatu malam Ray mengikuti Puspa pulang dari toko bunga sampai ke rumahnya. Tapi ia terhenti dan sangat terkejut saat membaca papan yang terpampang di depan rumah Puspa 'Panti Asuhan Kasih Ibu'
Jadi selama ini Puspa tinggal di panti asuhan, pikirnya. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang dan kembali ke sana esok siang.
"Permisi.." Karena tidak ada jawaban Ray memutuskan untuk masuk dan melihat-lihat.
"Maaf de, cari siapa yah?" Suara ibu itu cukup mengagetkan Ray.
"Saya cari Puspa bu, ibu kenal?" Tanya Ray sesopan mungkin.
"Oh tentu kenal donk, ada apa kamu mencari dia? Oh iya, silahkan masuk, bicara di dalam saja," wanita itu mengajak Ray masuk dan mempersilahkannya duduk.
"Oh iya, nama saya Handayani biasa anak-anak memanggil saya Ibu Yani."
"Saya Ray bu."
"Oh iya, ada apa kamu mencari Puspa?" Tanya Ibu Yani dengan senyum mengembang di wajahnya.

"Jujur bu, saya mencintai Puspa, bagi saya dia istimewa. Tapi dia selalu menghindar dari saya bu, tapi saya yakin sebenarnya Puspa juga suka sama saya."
"Memang Puspa selalu menghindar dari laki-laki dan itu semua karena.." Ibu Yani menjelaskan dengan hati-hati, "karena masa lalunya."
Kata-kata Ibu Yani semakin membuat Ray penasaran.
"Masa lalu apa bu?"
"Sebenarnya ini masalah pribadi tapi karena melihat kesungguhanmu ibu akan memberitahu tapi kamu tidak akan meninggalkannya setelah tahu masa lalunya kan?"
Ray mengangguk mantap, "Saya terlalu mencintainya untuk meninggalkannya bu."
Ibu Yani mengambil napas panjang dan kemudian menceritakan semuanya.
"Dulu Puspa memiliki keluarga yang bahagia sampai umur 7 tahun. Namun sejak kerusuhan '98 petaka itu menimpa dirinya. Ibunya diperkosa oleh sekelompok pemuda di depan matanya. Tapi ia dan adik laki-lakinya diselamatkan oleh ketua RT. Saat itu ayahnya sedang berada di luar kota dan tidak mungkin pulang dalam situasi seperti itu. Setelah ayahnya pulang ia amat sangat terkejut atas kejadian yang menimpa istrinya dan merasa sangat bersalah. Sejak saat itu ayahnya depresi dan suka mabuk-mabukan. Hingga pada suatu hari saat ayahnya mabuk ia kalut dan memukul adiknya hingga meninggal dan itu membuat ayahnya meringkuk di penjara. Itu membuat Puspa semakin trauma. Ia takut menjalin hubungan dengan laki-laki, ia takut kejadian ibu dan adiknya terulang. Bahkan saat pertama kali dibawa oleh tetangganya ke sini dia tidak mau bicara dengan siapa pun. Ibu harap kamu dapat menyembuhkan trauma dan mengobati luka di hatinya."
"Iya bu, saya akan berusaha," Ray menjawab dengan penuh keyakinan.
"Kamu janji yah jangan nyakitin dia," Ibu Yani berpesan sambil menahan air mata yang hampir menetes.
"Iya bu, saya janji."
"Ibuu, Puspa pulang," suara itu mengejutkan mereka.
"Loh Ray, kamu kok ada di sini?"
"Iya Pus, nak Ray datang cari kamu. Ibu tinggal dulu yah," Ibu Yani meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.
"Kok kamu bisa tahu rumah aku Ray?"
"Hmm.. Gw ngikutin lo kemarin."
"Ha?? Kamu apa-apaan sih? Ngapain kamu ngikutin aku?" Raut wajah Puspa langsung berubah tapi tatapan matanya tetap tenang.
"Maafin gw Puspa, gw cuma mau kenal lo lebih dekat, kenapa sih lo selalu nolak gw?" Nadanya tidak keras tapi tegas.
"Tapi bukan gitu caranya!"
"Terus gimana caranya? Apa yang harus gw lakukan supaya lo mau nganggep gw? Apa kalau gw mati baru lo nganggep gw?"
"Cukup Ray! Kamu gak tahu gimana hidup aku!" Jawab Puspa sambil menahan air matanya.
"Kenapa? Lo takut gw nyakitin lo? Lo takut kejadian nyokap sama ade lo keulang?" Kali ini suaranya lebih keras.
"Cukup Ray!! Cukup!! Aku gak mau lihat kamu lagi!" Air mata sudah membasahi pipi Puspa, tak sanggup lagi ia menahannya.
"Maafin gw Pus, tapi lo gak bisa terpuruk terus kaya gini, lo harus lihat masa depan lo. Lo harus lupain masa lalu lo," suaranya lembut namun tegas tapi tak mampu membuat Puspa lebih tenang.
"Mana bisa aku ngelupain itu?? Kejadian yang udah buat mama sama adikku meninggal, kejadian yang udah buat aku hidup sebatang kara. Gimana aku bisa ngelupain itu semua??" Tangisnya kali ini semakin meledak.
"Gw bakal buktiin kalau gw serius sama lo dan gak akan nyakitin lo," suaranya lembut memancarkan kedamaian yang membuat Puspa lebih tenang.
"Ayo ikut gw," kata Ray sambil menarik tangan Puspa dengan lembut.
Tidak ada paksaan, entah mengapa Puspa rela mengikuti laki-laki itu. Masuk ke mobilnya dan duduk manis sampai ke tempat tujuan tanpa bertanya ke mana mereka akan pergi.
Dan mobil Ray berhenti di depan sebuah rumah yang tidak begitu besar tetapi indah. Ray masuk ke rumah itu dan tanpa diperintah Puspa mengikutinya. Ia masuk ke sebuah ruangan dan mencium kening wanita yang sedang duduk di sana. Betapa terkejutnya Puspa melihat wanita itu, tidak terlalu tua mungkin usianya tidak beda jauh dengan Ibu Yani tapi ia duduk di kursi roda. Sebenarnya ia cantik, namun penampilannya berantakan.
"Ini nyokap gw," Erik memulai pembicaraan. "Udah 2 tahun mama begini, ia depresi." Puspa hanya mendengarkan dengan seksama layaknya seorang murid mendengarkan gurunya.
"Ini terjadi karena bokap gw. Ia selingkuh dan menikahi wanita lain di belakang mama. Kejadian itu membuat mama marah, kecewa, dan depresi berat. Ia mencoba bunuh diri dengan lompat dari jendela kamarnya di lantai dua, tapi ia masih bisa diselamatkan namun itu membuat kakinya patah."
"Kenapa kamu cerita semua ini ke aku?" Puspa akhirnya bersua.
Sambil tersenyum Ray menjawab pertanyaan Puspa, "Gw cuma mau nunjukkin kalau masa lalu yang kelam bukan cuma milik lo, tapi gw gak mau terpuruk, gw mau bangkit. Kalau gw terpuruk terus siapa yang bakal ngurus mama? Gw gak mau egois."
Tiba-tiba Ray memegang tangan Puspa dengan lembut dan Puspa diam saja, dia tidak berusaha merampas tangannya dari genggaman Ray.
"Pus, di depan mama gw mau bilang sama lo. Gw sayang sama lo dan ini semua jujur dari hati gw. Biar mama yang jadi saksi."
"Jujur, aku juga sayang sama kamu, tapi..." Sura Puspa tertahan agak lama, "tapi aku takut."
Ray mengambil setangkai mawar putih dari meja rias mamanya dan memberikannya pada Puspa.
"Lihat mawar putih ini. Ini adalah lambang janji gw. Gw janji gw gak akan nyakitin lo. Gw jamin lo bisa pegang kata-kata gw." Ray menatap Puspa dengan lembut dan matanya memancarkan ketulusan.
Sejenak ruangan itu menjadi sunyi seolah semua terlelap dalam pikirannya masing-masing.
"Jadi lo mau kan jadi bagian dalam hidup gw?" Suara Ray memecah kehiningan.
Puspa memandang Ray dan kemudian tersenyum, "Aku akan coba."

Monday, December 26, 2011

Sajak untuk Merpati

Entah rasa apa ini
Perasaan yang tidak dapat kuungkapkan
Dapatkah kau membacanya
Seberkas harapan yang kutaruh di hatimu

Kau menguasai hatiku
Tidak!!
Bukan cuma itu
Kau juga menguasai pikiranku

Bayangmu tak pernah lepas dari hatiku
Senyummu tak pernah hilang dari pikiranku
Sosokmu terkunci rapat di otakku
Inikah yang dinamakn candu?

Tapi itu semua hanya angan
Tak mungkin aku memiliki dirimu
Tak dapat kugapai hatimu
Harapanku akan sirna dimakan waktu

Tapi aku enggan menahan rasa ini
Tapi aku pun tidak dapat mengungkapkannya
Aku malu
Aku takut

Hanya rasa terpendam yang ada
Perasaan yang tak akan pernah tersampaikan
Impian yang mulai sirna
Hanya angan membara yang tersisa di hati ini

Hati ini tak dapat membencimu
Jiwa ini tak sanggup melupakanmu
Tak pernah kusesali pernah menyayangimu
Dan aku bahagia melihatmu kelak bahagia walaupun bukan bersamaku..

Saturday, December 24, 2011

Natal.. hhmmm ..

Natal.. hmm..
Waktu kecil kalau gw denger kata 'Natal' pasti di otak gw langsung kepikiran sama yang namanya 'kado'. Dulu waktu gw sekolah minggu setiap Natal pasti gw selalu dapat kado dan di masa kecil gw Natal yah gitu-gitu aja, perayaan di gereja, dapat kado, dan selesai. Tapi biarpun gw masih kecil gw sempet mikir Natal kan hari lahirnya Yesus Kristus tapi kenapa kita yang dapat kado?
Tapi setelah masa kanak-kanak itu gw tinggalkan, gw dapat suatu pandangan baru tentang Natal.
Natal bukan sekedar perayaan besar-besaran, pesta mewah atau bahkan dapat kado.
Natal bagi pandangan remaja gw adalah wujud ucapan syukur kita atas lahirnya Yesus Kristus di dunia ini dan juga rasa terima kasih kita atas segala pengorbananNya, mulai dari dilahirkan di kandang sampai mati di kayu salib.
Menurut gw Natal itu gak harus mewah, Natal gak harus dirayain besar-besaran apalagi kalau perayaan kita itu gak ngundang yang ulang tahun, yaitu Yesus Kristus. Tapi bukan berarti kita bikin acara Natal yang asal-asalan yah. Menurut gw lagi nih, Natal itu dilihat dari hati kita, kesungguhan kita yang benar-benar menempatkan Dia di tempat pertama di hati kita. Dan gw baru ngerti sekarang kalau bagi-bagi kado di hari Natal itu sebagai ungkapan kasih kita terhadap sesama. Tapi, bagi-bagi kado gak harus cuma di hari Natal aja kan??

*maaf kalau tulisan gw salah, ini hanyalah pandangan seorang remaja..

MERRY CHRISTMAS 2011..

Wednesday, December 21, 2011

Seruan Hati Untuk Ibu

Aku memanggilnya dgn sebutan 'mama', mungkin ini juga kata pertama yang keluar dari bibirku.
9 bulan ia mengandungku, membawa beban berat di perutnya, sakit mungkin sudah biasa baginya, sulit bergerak mungkin akan membuatnya terbiasa.
9 bln sudah dilalui dan tibalah saat yang paling meneganggkan, mama rela memperatruhkan nyawanya, menahan sakit yang begitu hebatnya agar aku dapat terlahir di dunia ini.
Perjuangannya tidak sampai di situ saja, setiap malam aku menangis dan ia rela bangun di tengah malam untuk melihat keadaanku. Ia mengajariku cara berjalan, ia yang menopangku saat aku terjatuh.
Ia yang selalu menyuapiku walaupun harus menunggu begitu lamanya aku mengunyah.
Dia yang tanpa bosan menunggu aku saat aku baru masuk sekolah.
Aku pun beranjak dewasa, mungkin aku mulai membangkang.
Marah, itu mungkin sudah biasa bagiku. Pertama aku kesal dengan ia yang selalu marah, melarang aku melakukan ini itu, yang tak pernah segan untuk menghukumku.
Tapi, semakin aku dewasa aku sadar, marah itu adalah luapan kasih sayangnya yang khawatir aku akan jatuh di kesalahan yang sama, larangan itu adalah cara untuk memberitahuku mana yang baik dan mana yang buruk, dan hukuman itu adalah cara mendidik aku agar menjadi kuat dan mengerti apa arti tanggung jawab.
Aku salah menilaimu, engkau adalah orang yang selalu siap mendengarkan keluh kesahku, engkau yang mengajarkan aku apa arti perjuangan, engkau yang mengajarkan aku bagaimana cara menjadi wanita yang sesungguhnya.
Aku tidak akan pernah bisa membalas perjuangan dan pengorbananmu, ma. Aku hanya bisa berterima kasih lewat tulisan ini.
Maafkan aku kadang aku membuatmu marah dan kecewa.
Aku bangga memilikimu, aku bangga bisa memiliki sosok wanita seperti dirimu.
you aren't PERFECT but you are the BEST.. love u mom..

Tuesday, December 20, 2011

My Super Daddy

Aku memanggil orang ini dengan sebutan 'papa', mungkin sejak aku bisa berbicara panggilan ini terucap dari bibirku.
Ia adalah sosok yang bijaksana
yang tidak pernah meninggikan salah satu anaknya, semua sama di matanya.
Kasih sayangnya tidak timpang
semua mendapat kasih sayangnya tanpa melihat prestasi, kelakuan, apalagi fisik.
Waktu kecil, ia rela menggendongku sejauh apa pun itu, hanya agar aku tidak lelah. Setelah lelah bekerja ia rela melihatku walaupun aku sudah tertidur. Saat pergi bersamanya ia bagaikan penjaga yang selalu melindungiku.
Saat aku beranjak remaja, ia selalu memberiku arahan. Sebenarnya ia mengkhawatirkanku tapi ia berusaha mengerti aku di masa ini.
Saat aku remaja, aku sepertinya mulai menjauh darinya. Aku lebih senang berkumpul dengan teman-temanku. Aku jarang berada di rumah. Tapi ia selalu berusaha mengerti dan selalu mencari waktu untuk sekedar menanyakan bagaimana sekolahku.
Dia orang pertama yang mencariku saat aku pulang terlambat.
Dia adalah orang yang selalu ingin memenuhi keinginanku, menunda keinginannya demi keinginanku.
Ia yang selalu menyemangatiku saat aku lelah.
Ia adalah sosok yang selalu siap saat aku membutuhkannya.
Ia selalu membiarkan aku memilih, ia juga mendukung keputusan yang aku ambil.
Ia tidak mengekang tapi juga tidak membebaskanku, ia mengatur pada porsi yang pas baginya dan yang terbaik untuk aku.
Ia rela mendapat 0 demi memberiku 100
Ia selalu memberikan yang terbaik bagiku walaupun ia mendapat yang terburuk.

Kisah ini aku tulis dengan tetes air mata, bukan air mata kesedihan tapi air mata kebanggaan.
Bangga memiliki ayah sepertimu.
Thanks for everything, dad..
you are the best father in the world..

Monday, December 19, 2011

Maaf Aku Menyiakanmu

"Panggil aja aku Citra"
"Oke, aku Erik"
Itu adalah awal perkenalan gw dengan Erik, kakak kelas gw dan itu juga awal gw mengalami LOVE AT THE FIRST SIGHT atau bahasa gaulnya cinta pada pandangan pertama. Ka Erik itu ganteng, tinggi, berwibawa. Pokoknya cowok idaman banget deh. Dan semua hal gw lakuin supaya bisa deket sama dia. Mulai dari jadi pengurus OSIS sampai ikut ekskul basket, padahal gw gak suka basket.
Dan akhirnya perjuangan gw gak sia-sia. Semakin lama gw semakin deket sama dia, mulai dari bbm-an, sms-an. telepon-an, wtw-an sampe mention2-an.
"Cit, besok jalan yuk temenin gw cari buku," ajak Dio, dia adalah sahabat gw, sahabat dari bayi malah.
"Duh, sorry yo. Gw udah ada janji sama Erik," jawab gw sedikit mengacuhkan Dio
"Yah, elo Cit. Sekarang setiap gw ajak jalan pasti gak bisa. Selalu aja ada janji sama Erik." Dio berbicara santai tapi sedikit menegur gw
"Sebodo, hidup hidup gw kenapa lo yang sewot? Nyokap gw aja biasa aja. Apa lo jealous yah?"
"Yah gak lah, lo kan sahabat gw dari kecil dan kita juga udah komitmen kan gak bakal suka satu sama lain," jelas Dio
"Iya sih," jawab gw acuh tak acuh
"Ya udah kayanya gw harus cari temen jalan baru nih, soalnya lo sibuk terus sih," sindir Dio
"Ya udah sana," jawab gw singkat tanpa memperdulikan Dio

14 November 2011
Mungkin ini adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidup gw. Erik nembak gw dan pastinya gw langsung terima dia dan hari itu kita langsung jadian..

Hari-hari bersama dia gw lewatin dengan bahagia. Dia perhatian banget sama gw. Sebenernya gw kangen juga sih sama Dio soalnya semenjak gw jalan sama Erik gw jarang banget ketemu Dio. Tapi buat gw selama ada Erik no problem.

14 Desember 2011
Hari ini gw sama Erik mau ngerayain 1 month anniv kita, Erik udah nunggu di resto tempat fav kita buat bikin kejutan sementara gw pergi ke sana sendiri. Tadinya mau di anter supir tapi karena udah telat banget gw dengan terpaksa naik ojek dan tuh tukang ojek gw suruh cepet-cepet supaya gw gak telat-telat banget.
Tapi tiba-tiba di belokan ada sebuah truk besar berlawanan arah dengan motor gw, langung aja tuh tukang ojek banting stir ke arah kiri, tapi dari belakang gw ada motor yang melaju dengan kencang dan spontan langsung nabrak kaki kiri gw dan membuat kaki gw terjepit dan selanjutnya gw gak sadarkan diri.

Saat gw terbangun, tahu-tahu gw udah ada di sebuah ruangan yang terang dan putih. Di situ gw lihat ada mama, papa, Dio, dan orang yang memakai baju putih.
"Om, tante lihat Citra siuman," gw tahu itu pasti suara Dio
"Aku di mana ma?" tanya gw sambil berusaha manyesuaikan mata gw dengan terangnya cahaya di ruangan ini
"Kamu di rumah sakit sayang, kamu kecelakaan," jawab mama sambil menangis
"Tapi aku harus pergi ma, aku udah ada janji sama Erik!" Gw berusaha untuk turun dari kasur tapi gw terhenti karena kaki kiri gw gak bisa digerakkan.
"Kaki Citra kenapa ma?"
Gak ada seorang pun yang berani menjawab pertanyaan gw.
"Kaki Citra kenapa ma??" Kali ini gw sambil berteriak dan menitikan air mata
"Ka..mu.. Kata dokter kamu.. Kaki kamu patah dan..." mama berusaha menjelaskan tapi terbatah-batah
"Dan apa ma? Cepet kasih tahu Citra!!" Gw gak sanggup menahan emosi gw
"Dan tempurung lutut kamu retak, jadi kamu gak bisa jalan dulu," mama menjelaskan sambil menangis dan memeluk gw
Gw hanya bisa terdiam dan menangis mendengar penjelasan mama. Gw takut menjalani kehidupan gw tanpa bisa bejalan.
"Tapi kata dokter kalau kamu rutin terapi dan perawatan kamu bakal sembuh kok," kata papa menyemangati gw
"Tapi berapa lama pa??" gw berusaha mencari harapan di sana
"Mungkin satu sampai dua tahun," jelas papa
Gw berusaha menerima jawaban itu. Mata gw melihat sekeliling ruangan itu mencari sosok Erik tapi gw gak menemukannya.
"Ma, Erik tadi dateng ke sini?" Tanya gw ke mama
"Gak sayang, mungkin besok." jawab mama
"ooo" cuma itu yang bisa gw jawab
Sehari, dua hari, tiga hari bahkan sampai seminggu gw di rumah sakit Erik sama sekali gak dateng. Gw gak bisa menghubungi dia karena hp gw hilang pada saat kecelakaan itu. Tapi kata Dio dia udah bilang ke Erik kalau gw kecelakaan dan masuk rumah sakit.
"Kamu udah siap sayang? Semua udah di beresin kan?"
........
"Citra,, kamu denger mama kan?" suara itu membangunkan lamunan gw
"Eh, iya ma. Udah kok. Ayo jalan." Jawab gw, sementara mata gw  masih mencari di sekeliling rumah sakit. Mencari sosok Erik yang selalu gw tunggu.
Keesokan harinya gw langsung ke sekolah, dengan kursi roda tentunya dan dibantu Dio. Orang pertama yang paling ingin gw temui adalah Erik.
Dan langsung gw suruh Dio buat nganter gw ke kelas Erik. Di situ Erik sedang ngobrol bareng temen-temennya. Gw suruh Dio buat nunggu di luar.
"Erik," panggil gw dengan lembut, tapi Erik seakan terkejut melihat sosok gw dia melihat seakan gw ini hantu atau sejenisnya. Dia melihat gw dari ujung rambut smapai ujung kaki.
"Rik, kok kamu ngeliat aku begitu?"
"Gak papa kok, kita ngobrol di luar aja yah," Erik segera mendorong kursi roda gw ke luar kelas.
"Rik, aku seneng deh akhirnya bisa ketemu kamu. Kamu baik-baik aja kan? Oh iya, kamu kok gak jenguk aku di rumah sakit sih?" gw begitu antusias bertanya
"Kamu lumpuh yah?" Erik bertanya seakan dia tidak mendengar pertanyaan gw
"Untuk sekarang sih iya, tapi satu atau dua tahun lagi aku bisa jalan kaya biasa kok," jawab gw meyakinkan Erik
"Sorry cit, gara-gara gw lo jadi kaya gini. Gw udah denger ceritanya kok," Erik meminta maaf tetapi tetap melihat gw dengan aneh
"Gpp kok rik, mungkin emang udah jalannya kaya gini, hehe.." jwb gw berusah menghibur dia
"Cit" Erik memegang kedua tangan gw "Maaf banget yah Cit,gw rasa hubungan kita harus sampai di sini deh"
"Tapi kenapa Rik?" gw meminta penjelasan
"Lo tahu kan gw itu ketua OSIS terus gw juga kapten tim basket dan lo tahu sendiri kan nyokap gw perfectionist banget dan gw jujur gw juga gak bisa terima kalau cewek gw lumpuh," Erik menjelaskan
"Tapi gw kan bakal sembuh Rik!" Gw berusaha meyakinkan
"Sorry Cit, tapi gw gak bisa nunggu selama itu," jawab Erik dan langsung pergi meninggalkan gw
Sontak air mata langsung mengucur deras di kedua pipi gw, gw gak sanggup ngelewatin ini semua. Gw ngerasa Tuhan tuh gak adil banget buat gw, Dia ngasih cobaan yang berat banget dalam hidup gw.
Dio menghampiri gw,"Lo kenapa Cit kok nangis?"
"Tolong anterin gw pulang" Kata gw tanpa menjawab pertanyaan Dio
Dan Dio langsung mengantar gw pulang tanpa bertanya lebih jauh.
Selam 3 hari gw cuma mengurung diri di kamar. Jujur, kata-kata Erik ngebuat gw down dan malu kalau gw lumpuh dan seakan gak ada lagi harapan supaya gw sembuh. Gw cuma bisa mengurung diri di kamar tanpa mau pergi ke sekolah atau terapi di rumah sakit. Mama dan papa selalu berusah menghibur gw dan sahabat-sahabat gw juga selalu berusaha menyemangati gw. Bahkan setiap hari Dio selalu membawa makanan kesukaan gw.
"Cit, gw masuk yah," kata Dio sambil mengetuk pintu kamar gw
Tadinya gw gak mau ngijinin dia masuk tapi dia maksa gak akan pergi dari pintu kamar gw sampe gw ngijinin masuk. "Ya udah masuk aja Yo"
"Nih Cit gw bawa coklat kesukaan lo yang di dalemnya ada almondnya nih," seru Dio sambil memberikan coklat ke tangan gw
"Thx yah,"
"Jalan yuk Cit, kemaren gw liat di butik langganan lo banyak barang baru tuh, bagus-bagus lagi." Jelas Dio dengan sangat antusias
"Buat apa? Semua itu udah gak guna buat gw, sekarang gw lumpuh, gak ada yang bisa gw lakukan."
"Lo salah! Liat diri lo, lo tuh cantik! Cowok mana sih yang gak suka sama lo??"
"Erik, dia gak suka sama gw karena gw lumpuh,"
"Cowok tuh bukan dia doang! Lu pantes dapetin yang lebih baik dari dia! Come on Cit!"
"Lo tahu apa sih soal hidup gw?? Erik tuh berarti banget buat gw! Erik udah nolak gw jadi buat apa lagi gw hidup???"
"Gw lebih tahu hidup lo dibanding dia! Hei, lo masih muda! Tunjukin sama dia kalau lo tuh bukan cewek lemah!"
"Tapi apa yang gw bisa lakuin tanpa kaki gw ini??" Gw udah gak sanggup nahan air mata ini
"Banyak!! Lo tahu kan 'Nick Vujicic' dia itu lebih parah dari lo! Dia gak punya kaki dan tangan, tapi apa yang bisa dia perbuat?? Dia jadi motivator! Dia gak ngeliat kekurangan dia, dia mau dari kekurangannya itu dia bisa bermanfaat bagi orang lain. Liat diri lo Cit! Lo masih punya kedua tangan dan kaki lo ini gak selamanya lumpuh, lo masih bisa sembuh! Tapi gimana lo mau sembuh kalau lo terus-terusan terpuruk gini? Miris gw liat lo Cit!" Dio menegur gw panjang lebar dan gw hanya bisa diam karena apa yang dia katakan semuanya benar.
"Gw mau tidur, jadi lebih baik lo pulang," gw udah gak sanggup mendengar semua kebenaran yang akan dibeberkan Dio
"Ok gw pulang, tapi renungin perkataan gw tadi," Dio keluar dari kamar gw dan gw kembali sendiri di kamar.
Semalaman gw memikirkan apa yang dikatakan Dio, tentang semua kebenaran yang dia ungkapkan.
Keesokan paginya...
"Ma, hari ini kita sarapan apa?" tanya gw dengan wajah penuh semangat
Mama gw sempat terkejut dengan kedatangan gw apalagi gw memakai seragam, "Mama bikin basi goreng kesukaan kamu nih,"
"Wah, udah lama nih ma aku gak makan nasi goreng, hehe."
Gw melahap nasi goreng itu dengan penuh semangat dan setelah selesai gw langsung berangkat ke sekolah. Sebelum berangkat mama menncium jidat gw seakan mama mengantar anaknya yang baru pertama kali sekolah.
Di sekolah gw langsung bertemu Dio, sepertimya Dio juga kaget seperti mama.
"Napa lo ngeliat gw kaya ngeliat setan??" ledek gw
"Gpp, udah berani masuk lo?" Dio ngeledek gw balik
"Udah lah, ngapain takut gw kan bukan cewek lemah. hahha" Gw menjawab pertanyaan Dio dengan candaan dan kami berdua bercanda bersama. Rasanya gw kangen banget suasana seperti ini.
"Jadi kapan lo mau jak gw jalan? Katanya mau traktir gw lo!" Gw berusaha membangun suasana
"Kapan-kapan. bweee" Dio berlari kecil meninggalkan gw sambil mengeluarkan lidahnya yang membuat wajahnya semakin aneh. hehehe..
"Tunggu dong, curang nih, gw kan gak bisa lari,"
"Oh iya gw lupa, ywd sini buruan gw tunggu di sini,"
"Awas yah gw kejar lo! hahahahaa"

Persahabatan memang ikatan yang paling murni.
Seorang sahabat mampu menjadi cheerleader saat kamu lemah.
Seorang sahabat mampu menjadi tong sampah saat kamu ingin meluapkan keluh kesahmu.
Seorang sahabat mampu menerima kamu apa adanya dengan segala kekuranganmu.
Hargailah sahabatmu dan jangan tukar mereka dengan apa pun.

Monday, December 12, 2011

Jadilah Anak-Anak

Ini berawal saat saya melihat sekelompok anak sedang bermain. Mereka bermain begitu riang, berlari-lari, bercanda, tertawa bersama.
Semakin lama saya semakin memperhatikan mereka dan itu membuat saya berpikir mereka BERBEDA tetapi MENYATU.
Itu semakin membuat saya berpikir dan mengingat kembali masa kecil saya.
Sama seperti anak-anak itu yang bermain tanpa bertanya "Dari suku mana kamu? Apa status sosialmu? Apa agamamu? Apa jabatan ayahmu?"
Mereka menerima semua anak yang ingin bermain dengan melihat keinginannya, sungguh mereka benar-benar mempraktekan apa arti tidak boleh pilih kasih.
Dan ini membuat saya berpikir lebih jauh tentang apa yang terjadi di sekitar saya. Semakin dewasa, orang semakin membuat perbedaan di antara mereka.
Mereka menjadikan sesuatu sebagai patokan pergaulan, seperti suku, agama, status sosial, bahkan jabatan.
Hmm.. di mana masa kecil kita dulu? di mana saat-saat kita dapat menerima semua orang tanpa memandang status, agama, suku, jabatan? Katanya manusia itu sama derajatnya di mata Tuhan, tapi apa kenyataannya??
Bisakah kita menjadi seperti anak-anak itu? BISA!
Mulailah belajar untuk dapat menerima semua orang tanpa melihat latar belakangnya..
Saya juga termasuk salah satu orang yang sedang belajar.. :)