Sunday, September 2, 2018

Let's Get Lost: Sombori - Labengki

Holaaa, sudah lama banget gak nulis. Kali ini mau berbagi cerita perjalanan ke Pulau Celebes 17-19 Agustus 2018 yang digadang-gadang katanya Raja Ampatnya Sulawesi. Untuk perjalanan kali ini saya ikut open trip Piknik Nusantara . Yang kira-kira mau pergi tapi gak ada teman atau cuma sedikit atau yang gak mau ribet, ikut Open Trip aja. Selain gak ribet, di Open Trip itu kalian bisa juga dapat banyak teman lohh. Yuk lah langsung aja ke cerita perjalanannya.

17 Agustus 2018
Meeting Point di Bandara Haluoleo, Kendari. Jadi saya memutuskan untuk naik Sriwijaya (karena lebih murah sebenarnya), keberangkatan dari Soekarno Hatta pkl 00.05 WIB, tiba di Makassar pkl. 03.20 WITA, tapi karena satu dan lain hal, agak sedikit terlambat, jadi tiba di Makassar kurang lebih pkl 04.00 WITA (agak lupa saya). Transit di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar sebetulnya menyenangkan karena bandaranya besar dan karena Bandar Udara Internasional jadi banyak toko-toko atau tempat makan yang buka 24 jam. Pukul 06.35 WITA baru terbang lagi ke Kendari, tiba di Kendari kurang lebih pkl 07.20 WITA. Oh iya, out of topic sebentar, saya senang banget naik Sriwijaya, kayanya dulu gak kaya gini (atau saya yang lupa karena sudah lama banget). Jadi sebelum take off, setelah awak kabin memeragakan tentang alat keselamatan, awak kabin mengumumkan untuk berdoa bersama. Sepele kelihatannya tapi saya senang aja, karena baru pertama kali naik pesawat disuruh berdoa sama-sama dulu.
Lanjut lagi soal liburan. Perjalanan dari Bandara Haluoleo ke dermaga tempat kami menyeberang itu kurang lebih 1 jam. Dari dermaga menuju Pulau Labengki kurang lebih 2,5-3 jam. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam dengan kapal. Spot pertama yang kami datangi adalah Danau Mahumalalang. Kalau kalian cari fotonya itu bagus (pasti). Tapi ternyata untuk foto dengan latar belakang danau yang airnya hijau dan jernih itu, kita harus memanjat bebatuan, karena danaunya itu ternyata ada di balik bebatuan yang kita panjat itu. Tapi ini gak seberapa, hari esok ternyata lebih menantang. Hahahaa.
Danau Mahumalalang

Kapal yang kita pakai selama di Sombori - Labengki

Puas berfoto, lanjut lagi ke spot berikutnya yaitu Kimaboe Hills yang di papan petunjuknya tertulis "Raja Empat". Kali ini trekkingnya bagus, soalnya udh ada tangga aspal, jadi gampang banget naiknya. Kebanyakan di sini spot fotonya memang harus naik-naik gitu karena di sini akan lebih indah kalau lihatnya dari atas. padahal dari bawah juga bagus sih. Airnya jernih banget.
Jadi di sini kita dapat dua view karena berseberangan, yaitu Teluk Cinta dan Raja Empat itu, mungkin namanya seperti itu karena viewnya mirip Raja Ampat. Kalau teluk cinta mungkin karena bentuknya itu seperti love. Kalau mau jelas lihatnya harus pakai drone, tapi dari atas juga kelihatan sih bentuknya.
view Teluk Cinta

View Raja Empat


Lanjut lagi ke spot terakhir sebelum ke homestay yaitu pantai pasir panjang. Saya sih gak eksplor pantainya soalnya lebih tertatik mau snorkeling. Jadi langsung deh ke spot snorkeling. Memang Indonesia itu bawah lautnya indah banget. Spot snorkeling yang kemarin itu terumbu karangnya banyak. Ikannya banyak jenisnya tapi jumlahnya gak begitu banyak dan ombaknya lumayan besar yah, gak tenang gitu airnya.
Sudah capek snorkeling langsung balik deh ke homestay di Pulau Labengki Kecil. Dari dermaga ke homestay dekat banget. Jalan kaki sebentar juga sampai. Oh iya, kayanya laut di sini semuanya bening deh, dekat homestay juga lautnya bening banget. Kalau dulu katanya nginapnya di Balai Desa di Sombori tapi katanya sekarang udah gak boleh lagi. Oh iya, untuk sinyal di beberapa tempat memang susah tapi di homestay ini atau di Pulau Labengki sinyalnya sudah 4G kok dan cepat juga, tapi hanya untuk provider telkomsel yah.

18 Agustus 2018
Hari ini perjalanan agak jauh, ke Sombori, katanya sih sekitar 2jam lebih deh. Pemberhentian pertama itu Pantai Koko (CMIIW), jadi ada dua bibir pantai di sana, saat kita turun langsung disambut bibir pantai lainnya di seberangnya dan pastinya airnya jernih banget.
Pantai Koko

Pantai Koko


Lanjut lagi kita ke Pantai Air Kiri, kalau pantai kiri itu latar belakangnya ada tebing yang tinggi gitu dan lagi-lagi airnya bening guys.
Pantai Air Kiri


Lanjut ke spot berikutnya yaitu Gua Allo, kebetulan saya tidak turun dan masuk ke dalam goa. Tapi saya kasih lihat nanti fotonya dari teman-teman yang masuk.
dalam Gua Allo

Oh iya, untuk turun ke Gua Allo sebaiknya memakai sepatu/sandal karena banyak bulu babi di airnya yang menuju Gua Allo.
view di luar Gua Allo

Oh iya, tadinya habis dari Gua Allo kita mau ke spot yang banyak banget jadi objek foto, yaitu rumah nenek tapi sayang, ternyata semalam rumah nenek terkena badai katanya jadi roboh. Tapi yang roboh itu hanya spot fotonya. Rumah nenek yang asli (yang ditinggali) masih tetap bediri, jadi kami langsung menuju Balai Desa yang ada di Pulau Mbokita.
Di perjalanan menuju balai desa kami bertemu sekelompok lumba-lumba yang lompat-lompatan dengan indahnya, how lucky we are. Pemberhentian selanjutnya adalah Pulau Mbokita di Pulau tersebut ada balai desa yang dulu digunakan oleh pengunjung untuk menginap. Belum turun kapal saja kita sudah disambut anak-anak yang lompat dari jembatan. Kecil-kecil sudah pandai berenang mereka dan mereka ramah sekali loh. Dan lagi-lagi saya harus katakan airnya bening banget. Indah banget dah kalau tinggal di sini setiap hari ngeliatin laut aja. Ini ada videonya nih anak-anak lagi lompat-lombatan dari jembatan.
bersama anak-anak di Pulau Mbokita

Oh iya, fyi balai desa ini letaknya di atas laut, jadi semacam rumah panggung gitu dah di belakangnya ada beberapa rumah penduduk. Pokoknya di Pulau ini alat transportasinya kapal deh. Selesai makan siang di dekat Balai Desa kita lanjut ke Pulau Kayangan Sombori. Nah, yang ini lebih menantang dibanding Danau Mahumalalang kemarin. Kita harus nanjak ke atas yang pijakannya itu batu dan tanah. Sebenarnya akses ke Pulau Kayangan ini sudah ada tangga semen tapi karena air belum pasang jadi kapal tidak bisa menepi di sana, jadilah kita harus berjuang kaya gini. Untungnya, turunnya bisa lewat tangga. Sebetulnya trekkingnya tidak jauh tapi karena pijakannya masih alami jadi agak sulit. Tapi semua kesusahan itu terbayar kok saat kamu tiba di atas. Rasanya gak mau turun. Tapi sayang karena sudah sore dan saat itu gerimis jadi kita gak bisa lama-lama deh di atas.
Puncak Pulau Kayangan

Lanjut lagi ke Sombori Hills yang katanya viewnya mirip dengan Raja Ampat, ini puncaknya nih dari segala panjat-panjatan sebelumnya. Trekking kurang lebih 15-30 menit kayanya (agak lupa), pijakannya batu semua, jadi bawa sarung tangan kalau ke sini karena batunya tajam-tajam. Katanya ini lebih bagus dari Puncak Pulau Kayangan yang sebelumnya.
Jalan Menuju Sombori Hills

Seperti ada pepatah mengatakan "hasil tidak akan mengkhianati proses" dan ini benar adanya, tiba di atas rasanya semuanya terbayar sudah. manjat-manjat batu tajam yang penuh perjuangan itu terbayar dengan pemandangan yang indah banget di atas sana dan lagi tidak ingin pulang rasanya.
Kali ini bukan hanya karena pemandangan yang indah tapi karena turunnya nanti jalannya sama dengan pada saat naik tadi. Tidak ada tangga atau jalanan aspal di sini. Tidak bisa berlama-lama juga karena sudah kesorean dan rombongan banyak jadi fotonya gak bisa lama-lama.
Sombori Hills

Kami meninggalkan Sombori Hills sekitar jam 5 kalau tidak salah. Tapi ada sebagian yang kembali ke homestay ada sebagian yang masih snorkeling, saya ikut rombongan yang kembali ke homestay. Perjalanan menuju homestay kurang lebih 3 jam dan selama kurang lebih 3 jam inilah banyak cerita yang tercipta. Jadi ternyata pada saat itu ombak sedang tinggi. Awalnya masih santai saja, masih bisa tertawa dan bercanda karena ombak masih bisa ditolerir. Lama kelamaan langit mulai gelap dan ombak semakin tinggi dan kami belum sampai. Sudah tidak terdengar lagi suara tawa dari kapal. Ada yang memejamkan mata karena takut, ada juga yang pura-pura tidur padahal takut juga, ada juga yang pikirannya sudah gak karuan ke mana, ada juga yang dalam hatinya berdoa minta keselamatan, ada yang teringat orang tuanya, dan pasti semuanya menyimpan harapan untuk tiba di homestay dengan selamat. Bukan melebih-lebihkan tapi memang begitu yang kami alami. Kapal terombang-ambing di tengah laut yang gelap ditambah hujan dan tidak ada sinyal. Di laut kami tidak melihat ada kapal lain, jadi hanya kapal kami saja di tengah laut. Kapal sempat menabrak ombak yang tinggi atau entah bahasanya apa karena saya kurang paham, jadi kapalnya itu naik ombak gitu trus turun dan bunyi 'BUK' benar-benar berasa seperti membentur sesuatu di bawah. Belum lagi kapal sempat oleng ke kiri dan ini oleng banget.Tapi bersyukur sama Tuhan dan terimakasih buat awak kapal yang sangat handal karena kami tiba di homestay dengan selamat tanpa kekurangan suatu apa pun. Pengalaman yang gak akan bisa dilupakan mungkin. Malam itu pun ditutup dengan indomie goreng, teh manis hangat, dan pisang goreng serta cerita tentang ombak malam itu yang tidak ada habisnya walau diceritakan berkali-kali.

19 Agustus 2018
Hari terkhir di pulau yang indah ini. Di Pulau Labengki Kecil ini ada mercusuar yang sudah tidak terpakai sepertinya dan ada pantai yang indah banget. Jadilah kami pagi-pagi ke sini, jalan kaki 5-10 menit. Karena dekat banget dari homestay.

Mercusuar di Labengki Kecil

Di dekat mercusuar ada pantai yang indah (lupa namanya), airnya bening, gak ada sampah rasanya gak mau pulang. Mau di sini aja rasanya.

Pantai di dekat Mecusuar


Oh iya, sepanjang perjalanan dari satu spot ke spot lain kita selalu disuguhi dengan pemandangan indah, banyak tebing atau bukit batu yang mengelilingi laut tersebut. Tapi apa daya, besoknya harus kembali menghadapi realita, harus duduk lagi di depan laptop buat cari modal liburan selanjutnya. hahahaha.
Menurut info guide lokal kita, kita harus keluar dari Pulau Labengki pkl 09.00 karena ombak akan tinggi lagi. Gak mau dong mengulang kejadian semalam. Dari Pulau Labengki menuju dermaga kurang lebih 3 jam dan benar saja, ombaknya lumayan tinggi, walaupun tidak setinggi semalam dan lagi-lagi hanya ada kapal kami di tengah lautan luas itu. Perjalanan menuju dermaga dihiasi dengan canda tawa karena tidak seseram ombak kemarin dan lagi masih siang. Dengan sampainya di dermaga maka selesailah perjalnan Sombori-Labengki.
Dermaga Penyeberangan

bersama anak-anak di dermaga

Sebelum ke bandara kita sempat makan siang dulu dan beli oleh-oleh tapi tidak eksplor kota Kendari. Mungkin kapan-kapan kalau ke sini lagi hehehehe.
Pulang dari Kendari menuju Jakarta menggunakan Lion Air pukul 19.50 WITA yang menurut jadwal akan berhenti di Makassar 35 menit. Tapi apa daya, ternyata pesawat dari Kendari - Makassar delay sekitar 1 jam, jadi kami tiba di Jakarta sekitar 23.40 WIB yang seharusnya di jadwal 22.50 WIB.
Tapi walaupun banyak drama yang terjadi, perjalanan kali ini tetap tidak mengecewakan, banyak dapat pengalaman baru, teman baru, dan tentunya cerita baru.



Kalau pada tanya worth it ga sih? Menurut saya sih worth it yah, karena di sini masih sepi, gak ramai turisnya, wisatanya masih alami banget dan untuk open trip dengan harga yang masih termasuk murah dibanding wisata alam lainnya.
Tapi kalau mau lebih jelasnya langsung aja ke sana dan nilai sendiri kira-kira worth itu gak sih perjalanan udara kurang lebih 3 jam (direct), perjalanan darat kurang lebih 1 jam, dan perjalanan laut kurang lebih 3 jam dengan wisata yang ditawarkan.
Dan kalau ada yang tanya sama Raja Ampat bagusan mana? Berhubung saya belum pernah ke Raja Ampat jadi saya juga gak bisa jawab, tapi sepertinya kita tidak bisa membandingkan tempat wisata yang satu dengan yang lain karena setia tempat pasti punya keunikannya masing-maisng.


No comments:

Post a Comment