Sunday, January 15, 2012

Ketulusan Sang Mawar Putih



"Bu, Puspa pergi ke supermarket dulu ya."
"Tapi nak kamu kan besok mau menikah lagian ini sudah malam, sini biar ibu saja yang belikan."
"Sudah gak apa-apa bu, lagian juga dekat kok bu."
"Ya sudah, hati-hati ya."
Dan akhirnya Puspa pergi ke supermarket, walaupun sudah dilarang ia tetap memaksa. Tapi entah kenapa perasaan Ibu Yani cemas menantikan  kepulangan Puspa.
KRINGGG!!
suara telepon itu cukup mengejutkan Ibu Yani.
"Halo."
"Halo, dengan keluarga Puspita Maharani Dinata?"
"Iya. saya ibunya. Ada apa?" suaranya bergetar melambangkan ketakutan yang begitu mendalam
"Saya dari Rumah Sakit Cempaka Medika. Anak ibu, Puspita mengalami kecelakaan dan ia dirawat di sini." Suara di sebrang sana menjelaskan
"Baik saya akan segera ke sana."
Ibu Yani bergegas ke sana dan langsung memberitahu Ray yang merupakan calon suami Puspa.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?"
"Luka anak ibu cukup parah dan pendarahannya cukup hebat tapi kita pasti akan melakukan yang terbaik."
Tidak lama kemudian Ray tiba di sana
"Bu, kenapa bisa begini?"
"Tadi Puspa ijin pergi ke supermarket dan akhirnya seperti ini. Kalau tahu seperti ini ibu tidak akan mengijinkannya," tangis Ibu Yani langsung meledak
"Padahal besok hari pernikahan kami," kata Ray, suaranya pelan tapi menggambarkan kesedihan yang begitu mendalam.
Mereka larut dalam kesedihan masing-masing. Menangisi orang yang sangat mereka sayangi.
"Keluarga Puspita Maharani Dinata?" Suara itu membangunkan mereka dari lamunan
"Iya, saya ibunya, ada apa pak?"
"Kami dari kepolisian. Anak anda ditabrak oleh sebuah mobil saat hendak menyeberang, tapi kami belum bisa menemukan pelakunya karena tidak ada saksi mata, yang ada hanya supir taksi yang menolong anak ibu," jelas pak polisi
"Tolong pak, tangkap penabrak anak saya," kata Ibu Yani pasrah
"Kalau bisa hukum yang seberat-beratnya," Ray menimpali.
"Kami akan berusaha sebaik mungkin," seru pak polisi
Semalaman mereka menunggui Puspa di rumah sakit, menemani Puspa melewati masa kritisnya. Hingga akhirnya Puspa sadar kembali.
"Bu, Puspa di mana? Puspa kenapa bu?"
"Kamu di rumah sakit sayang, kamu kecelakaan," jelas Ibu Yani
"Di sini ada Ray bu?"
"Iya aku di sini. Ini aku bawa mawar putih untuk kamu," kata Ray sambil meletakan mawar putih di tangan Puspa
"Sayang mata aku lagi di perban jadi aku gak bisa lihat betapa cantiknya bunga ini," kata Puspa sambil tersenyum
"Tenang, kata dokter 2 hari lagi perban kamu bisa dibuka," Ibu Yani menjelaskan
"Bagaimana keadaanmu Puspita? Sudah baikan?" Tanya dokter Harun, dokter yang merawat Puspa
"Lumayan," jawab Puspa
"Maaf Bu Yani, bisa kita bicara di ruangan saya?"
Bu Yani mengikuti dokter Harun ke ruangannya dengan banyak pertanyaan di kepalanya.
"Ehm, begini bu. Kedua mata Puspita terkena benturan yang cukup keras yang dapat menyebabkan," dr Harun mengambil napas panjang baru melanjutkan omongannya, "Kemungkinan terburuknya, ia buta."
"Jadi maksud dokter Puspa buta?"
"Kita belum bisa memastikan, kita bisa tahu saat perbannya dibuka nanti."
Ibu Yani hanya diam mendengar penjelasan dokter Harun, betapa malangnya nasib Puspa.

"Ray, maaf ya gara-gara aku pernikahan kita batal."
"Buka gara-gara kamu kok. Ini semua emang rencana Tuhan," kata Ray mencoba menghibur Puspa walaupun sebenarnya ia sangat sedih.
"Wah, sepertinya ibu ganggu nih," kata Ibu Yani yang baru saja masuk.
"Ah ibu bisa aja, hehehe. Bu, tadi dokter Harun bilang apa?" Tanya Puspa
"Nnggg anu.. Hmmm.." Ibu Yani takut memberitahu Puspa
"Puspa baik-baik aja kan bu?" Tanya Puspa penasaran
"Ehm iya, kamu baik-baik saja kok," Ibu Yani tidak mau menambah beban Puspa dengan memberitahukan yang sebenarnya, terpaksa Ibu Yani berbohong.
Tapi Puspa sangat kenal siapa Ibu Yani, ia dapat merasakan ada sesuatu yang disembunyikan oleh Ibu Yani namun ia enggan menanyakannya.

Hari yang ditunggu Puspa akhirnya tiba.
"Sudah siap Puspa?" Tanya dr Harun
"Iya dok, saya sudah gak sabar," kata Puspa bersemangat
Nanti kalau perbannya sudah dibuka jangan langsung membuka mata ya Puspa," kata dr Harun memberi instruksi
Puspa pun mengangguk pelan, kemudian dr Harun perlahan-lahan membuka perban di mata Puspa.
"Oke Puspa, buka mata kamu pelan-pelan" perintah dr Harun
Puspa pun membuka matanya, sudah tidak sabar ia ingin melihat Ibu dan juga Ray.
Tapi, semua itu tidak dapat terwujud.
"Dok, kenapa semuanya gelap?" Tanya Puspa yang begitu ketakutan
"Kamu bisa lihat ibu nak?" Tanya Bu Yani disertai dengan tangisnya
"Puspa gak bisa lihat apa-apa bu," jawab Puspa sambil menangis
"Apa maksudnya ini dok?" Tanya Ray
Dokter Harun segera memeriksa Puspa
"Maaf, mata Puspa terkena benturan yang sangat keras dan inilah yang kami takutkan, kemungkinan terburuk ini diterima Puspa, Puspa mengalami kebutaan permanen akibat matanya terkena sesuatu yang merusak korneanya. Ia dapat melihat kembali jika ada yang mendonorkan kornea matanya untuk Puspa."
Puspa hanya bisa diam dan meratapi nasibnya yang begitu tragis, mungkin ini adalah cobaan terberat dalam hidunya.
"Bu, kenapa semua ini harus terjadi sama aku? Apa salah aku?" Tangis Puspa tak tertahankan lagi
"Sabar Pus, kita selalu ada buat kamu," Ray mencoba menenangkan Puspa
"Pergi!! Aku gak pantes buat kamu!! Aku cuma cewe buta yang gak berguna!!" Puspa meluapkan semua emosi dan kesedihannya
Dan Ray pun mengalah, ia keluar dari ruangan itu dan membiarkan Ibu Yani menenangkan Puspa
Ray begitu terluka mendengar perkataan Puspa, padahal ia menerima Puspa apa adanya. Saat Ray di luar ada seorang laki-laki yang mengintip ke kamar Puspa, laki-laki yang kira-kira berumur 50 tahun.
"Maaf Pak, baap mencari siapa?" Ray bertanya dengan sopan
"Ehm anu, saya ingin menjenguk anak ini,"
"Bapa siapa yah?"
"Sa..saa.. ya.." Bapak itu menjawab dengan gagap seakan ada sesuatu yang disembunyikan
"Loh bapa kan yang waktu itu membawa Puspa ke sini kan?" Tanya dokter Harun yang datang hendak memeriksa Puspa
"Ehm, iya"
"Oh, terima kasih Pak, karena bapa Puspa bisa diselamatkan." Kata Ray, kemudian dr Harun mengajak bapak itu masuk
"Puspa, bagaimana kabarmu?" sapa dr Harun ramah
"Apa yang bisa dikatakan oleh seorang yang buta dok? Apa saya harus berkata saya baik-baik saja?" jawab Puspa seenaknya
Mendengar pasien itu buta Bapak yang menolong Puspa seakan ikut larut dalam kesedihan Puspa
"Yang penting kamu kan sehat Puspa," kata dr Harun menghibur Puspa, "Oh iya, ini ada Bapak yang waktu itu menyelamatkan kamu."
"Wah, terimakasih pak. Saya Ibu Yani ibunya Puspa," kata Bu Yani sambil menjabat tangan bapak itu
"Saya Hartono," sambil membalas sambutan tangan Ibu Yani, "Bagaimana kabar kamu nak?"
"Beginilah kabar saya pak, kalau boleh memilih lebih baik saya tidak diselamatkan pak," jawab Puspa, "Bu, tolong antar Puspa ke kamar mandi."
Pak Hartono memperhatikan Puspa dari ujung kepala sampai ke ujung kaki seakan dia mengenal betul anak ini. "Maaf nak, di pergelangan kaki kamu itu tanda lahir?"  Tanya Pak Hartono sambil meperhatikan tanda di dekat mata kaki Puspa
"Iya pak, ada apa?" Tanya Puspa
"Tidak, saya permisi dulu yah," kata Pak Hartono
"Oh iya, terima kasih yah pak." Seru Ibu Yani
"Kalau begitu saya juga permisi dulu, saya juga harus memeriksa pasien lain," dokter Harun pamit

Hari-hari dilalui Puspa dengan penuh kesedihan dan penyesalan. Namun lama kelamaan ia pasrah akan kebutaannya dan Ray juga memberikan penjelasan bahwa ia mau menerima Puspa apa adanya dan Puspa pun menerima Ray kembali.
"Siang Puspa, saya ada kabar baik untuk kamu. Ada donor kornea untuk kamu. Apakah kamu bersedia?" kata dr Harun
"Saya sangat bersedia dok," jawab Puspa bersemangat
"Jadi kamu besok bersedia di operasi?" Tanya dr Harun
"Saya bersedia dok," jawab Puspa mantap
Keesokan harinya Puspa segera melakukan operasi, Ray dan Ibu Yani selalu berdoa agar operasinya berjalan lancar. Dan akhirnya operasi itu pun berjalan lancar dan butuh beberapa hari untuk pemulihan hingga akhirnya ia dapat melihat seperti biasa.
"Akhirnya aku dapat melihat kembali Ray,"
"Iya, aku juga senang kamu dapat melihat kembali," kata Ray
"Tapi nak, siapa pendonor kornea untukmu?" Tanya Ibu Yani
"Kata dr Harun si pendonor tidak mau identitasnya diketahui, tapi aku berterimakasih banget sama dia bu."
"Pagi Puspa, gimana sudah bisa menyesuaikan?" Tanya dr Harun sekaligus memeriksa Puspa
"Lumayan dok. Dok tolong bilangin pendonor kornea untuk saya terima kasih banyak yah," kata Puspa sambil tersenyum
"Pasti itu," balas dr Harun
Tiba-tiba beberapa pria berpakaian polisi memasuki kamar itu, "Permisi, kami dari kepolisian ingin memberi kabar kepada sdri Puspa bahwa penabrak anda telah menyerahkan diri dan kami ingin meminta kesaksian anda di kantor polisi nanti."
"Baik pak, setelah saya diijinkan pulang saya akan segera memberi kesaksian. Tapi pak, kalau boleh saya tahu siapa yan menabrak saya?" Tanya Puspa
"Penabrak kamu adalah seorang supir taksi yang bernama Hartono Praja Dinata," jawab seorang polisi
Mendengar nama tersebut Puspa sangat terkejut, ia seperti menerawang sesuatu.
"Loh, itu kan orang yang mendonorkan korneanya untuk kamu Puspa," seru dr Harun yang juga terkejut
"Loh, apa maunya orang itu?? Ada-ada saja" Seru Ibu Yani yang tidak kalah terkejutnya.
"Maaf, bisa saya beristirahat?" Pinta Puspa dengan pelan
"Oh baik Puspa, kami akan keluar," kata dr Harun
Maka Ibu Yani, Ray, dr Harun ,dan para polisi itu meninggalkan Puspa sendiri di ruangan itu.
Puspa menerawang nama itu, nama Hartono Praja Dinata berputar-putar di kepalanya tiba-tiba ingatannya kembali pada 10 tahun yang lalu. Ya, Puspa yakin dia adalah orangnya.

Akhirnya hari ini Puspa boleh pulang dan dia memutuskan untuk langsung pergi ke kantor polisi.
"Kamu yakin mau langsung pergi Pus?" Tanya Ray
"Iya, aku yakin kok. Aku kan udah sehat," jawab Puspa mantap
"Tapi harus aku temenin yah," kata Ray lembut
"Sip boss," kata Puspa sambil tersenyum
Dan mereka pun berangkat ke kantor polisi.
"Kamu yakin mau masuk sendiri aja?" Tanya Ray
"Yakin kok, kami tunggu di sini aja yah," kata Puspa
Akhirnya Puspa masuk sendiri dan menemui penabarak itu..
"Benar bapak adalah Hartono Praja Dinata?" Tanya Puspa
"Iya nak, saya Hartono Praja Dinata. Kamu Puspa kan nak?" Jawab bapa itu
Puspa diam menerawang ke masa lalu ia seperti melihat film yang diputar ulang tentang masa lalunya itu dan tanpa ia sadari ia meneteskan air mata, beruntung pak Hartono buta karena ia telah mendonorkan kedua kornea matanya pada Puspa jadi ia tidak dapat melihat air mata Puspa tapi ia daoat merasakan kesedihan dan kegundahan yang dialami Puspa.
"Maaf pak, saya harus pulang," Puspa segera meninggalkan tempat itu. Tak dapat ditahan lagi air matanya, air matanya mengalir sangat deras. Namun Ray yang ada di sebelahnya hanya diam memperhatikan dia dengan cemas, seakan dia tidak mau mengganggu luapan kesedihan Puspa. Ia menunggu sampai Puspa tenang.
"Aku antar kamu pulang yah," kata Ray lembut.
Puspa hanya mengangguk pelan ia sudah tidak sanggup untuk berkata-kata lagi. Setelah sampai di rumah ia langsung mengurung diri di kamarnya. Ia menangis semalaman dan tidak membiarkan seorang pun mengetahui penyebabnya.
Akhirnya saat ia siap, ia mengatakan semuanya pada Bu Yani dan Ray.
"Bu, Ray Puspa mau ngasih tahu sesuatu," Puspa memulai pembicarran
"Katakan saja sayang," kata Ibu Yani lembut
"Sebenarnya Hartono Praja Dinata adalah ayah kandung Puspa," jelas Puspa
"Kamu serius Pus?" Ray sangat terkejut
"Tahu darimana kamu nak?" Tanya Ibu Yani yang juga terkejut
"Nama itu, Hartono Praja Dinata. Nama yang gak akan pernah Puspa lupain. Nama satu-satunya ayah Puspa. Puspa bahagia sekaligus kecewa mengapa harus bertemu ayah dengan cara seperti itu. Ayah yang menabrak Puspa, ia yang membuat Puspa buta," Puspa berhenti sejenak menyeka air matanya, "Tapi ayah jugalah yang membuat Puspa dapat melihat kembali. Puspa tahu ayah pasti menyadari kalau Puspa adalah anaknya maka ia rela membiarkan matanya buta demi Puspa,"
"Lalu apa yang akan kamu lakukan? Bukankah kasusnya akan disidangkan?" Tanya Ibu Yani
Puspa menarik napas panjang kemudian menjelaskan, "Puspa tahu ayah memang salah telah menabrak Puspa tapi ayah sudah bertanggung jawab. Awalnya Puspa juga tidak bisa menerima dia kembali tapi Puspa sadar bagaimanapun dia itu adalah ayah Puspa, ayah kandung Puspa. Gak ada seorang pun yang dapat ngegantiin sosok dia buat Puspa. Puspa udah maafin dia dan Puspa gak mau ayah dipenjara, dia udah cukup menderita belasan tahun di penjara. Jadi Puspa akan mencabut tuntutan Puspa," jelas Puspa
"Aku akan dukung apa pun keputusan kamu," seru Ray
"Ibu juga, karena ibu yakin keputusan kamu adalah keputusan yang terbaik buat kamu," sambung Ibu Yani
Keesokan harinya Puspa langsung pergi ke kantor polisi untuk menjalankan niatnya.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang polisi yang di bajunya tertulis nama Doni Raharjo
"Saya ingin mencabut tuntutan saya kepada Hartono Praja Dinata," jawab Puspa
"Maaf, siapa nama anda?" Tanya pak Doni
"Puspa Dinata. Maaf, apakah saya bisa bertemu dengan Hartono Praja Dinata?" Tanya Puspa
"Silahkan, saya akan proses permintaan anda. Pak Eko tolong antarkan anak ini," kata Pak Doni

"Pak Hartono ada yang ingin bertemu dengan anda," panggil Pak Eko sambil membantu menuntun Pak Hartono
Puspa tidak sanggup lagi menahan air matanya dan langsung memeluk Hartono Praja Dinata, "Pa, Puspa kangen sama papa,"
"Papa juga kangen sama Puspa. Maafin papa yah Pus,"
"Puspa udah maafin papa sebelum papa minta, Puspa sayang papa," kata Puspa
"Papa juga sayang Puspa," kata ayahnya sambil mencium kening Puspa
"Pa, nanti pas acara pernikahan Puspa, Puspa mau papa mendampingi Puspa,"
"Kamu gak malu punya ayah buta dan bekas tahanan?" Tanya Pak Hartono
"Ngapain harus malu? Bagaimana pun papa tetep papa Puspa yang rela berkorban untuk Puspa,"
"Papa bangga punya anak seperti kamu nak,"
"Pa, jangan pernah tinggalin Puspa sendiri lagi yah,"
"Gak akan sayang, papa gak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama,"
"Puspa sayang papa,"
"Papa juga sayang Puspa."

Sunday, January 1, 2012

Bersyukur!

Aku adalah aku yang selalu menuntut, aku yang mementingkan diri sendiri, aku yang tidak pernah bersyukur tapi semua itu berubah setelah aku bertemu malaikat kecil yang membuka mata dan hatiku.
Ia bukan anak orang kaya, ia bukan anak yang berpendidikan, ia hanya seorang anak kecil yang tahu apa arti bersyukur.
Ia hanyalah seorang pengamen jalanan yang memiliki ibu yang lumpuh. Ia bernyanyi dari angkot yang satu ke angkot yang lain dan berharap ada yang memberinya uang.
Makan sehari 3 kali? Terlalu banyak baginya, dapat makan sehari sekali saja sangat beruntung.
Ibunya hanya terkulai lemah di rumah dan ia memiliki dua orang adik yang berumur 8 dan 6 tahun dan mereka sekolah! Padahal ia sendiri putus sekolah. Ayahnya sudah meninggal jadi ia yang menjadi tulang punggung keluarganya, seorang anak laki-laki yang berusia 12 tahun.
Betapa menderitanya dia, bagiku hidupnya terlalu tragis. Tapi baginya tidak.
Apakah ia menyesal lahir di keluarga miskin? TIDAK!!
Apakah ia menyesal putus sekolah demi adik-adiknya? TIDAK!!
Apakah ia menyesal kehilangan waktu bermain untuk bekerja? TIDAK!!
Ia bukan menyesal tetapi malah bersyukur.
Ia bersyukur walaupun dilahirkan di keluarga miskin karena dari situ ia dapat merasakan begitu berharganya sebutir nasi yang sering orang lain sia-siakan.
Ia tetap bersyukur walaupun putus sekolah, ia malah bangga dapat melihat adik-adiknya terus sekolah.
Ia masih bersyukur walaupun tidak bisa bermain seperti anak seusianya, lagi-lagi ia malah bangga, itu berarti ia dapat bermanfaat bagi keluarganya.
Melihat kisah anak ini membuat saya malu.
Saya masih dapat makan sehari 3 kali namun kadang jika saya tidak suka saya malah membuangnya
Saya masih dapat bersekolah dan itu dibiayai oleh orang tua, namun kadang saya tidak menjalankannya dengan baik, saya malah bermalas-malasan dan berpikir lebih enak kalau tidak sekolah
Dan saya masih punya kedua orang tua yang utuh dan lengkap tapi kadang malah melawan dan tidak menghargainya,
Belajar dari anak ini saya mencoba selalu bersyukur dan memanfaatkan yang ada sebaik mungkin bukan malah menyia-nyiakannya, karena di setiap sesuatu yang mungkin bagi kita buruk pasti terselip sesuatu yang indah dan berharga..