Monday, June 24, 2019

Let's Get Lost - Sulawesi Selatan (Makassar - Part 1)

Balik lagi nih bersama saya yang mau cerita tentang kemarin, tentang perjalanan ke Sulawesi Selatan. Mari kita mulai ceritanya.

Day 1 - 1 Juni 2019

pukul 04.00 WIB sudah berangkat dari rumah menuju Bandara Soetta karena pesawat kami flight pagi pkl. 05.35 dan drama pun dimulai. Jadi pas lagi ngantri mau taruh koper ke bagasi ada salah satu rombongan kami yang mau nitip barang buat masuk koper, nah gw kan mau buka tuh koper gw dan ternyata jeng jeng jeng (biar seru) nomor kunci kopernya salah dong, seinget gw itu nomornya karena gw gak pernah ganti-ganti, tapi tadi pagi sebelum ke bandara gw emang buka koper gw dan mungkin berubah di situ tapi gw gak sadar, jadilah gw dari ngantri sampai pas nimbang koper nyoba kunci koper mulai dari 000 dan kami tiba di Makassar kurang lebih 09.00 WITA, hal yang pertama gw lakukan setelah ambil koper adalah nyoba kunci lagi dong. Dan sambil nunggu dijemput teman di Makassar akhirnya kopernya terbuka dong :'). Gak penting ya? Emang, cuma pengen cerita aja gw mah.

Lanjut ke perjalanan di Makassar. Jadi dari Bandara kami langsung menuju ke Rammang-Rammang. Rammang-Rammang itu katanya 'amazon'nya Sulawesi. Jadi kita tuh menyusuri sungai, sewa perahu buat menuju ke suatu desa gitu. Sewa perahu udah ada tarifnya tapi gak tahu deh bisa ditawar apa gak. Kemarin kita ber-enam jadi harga sewanya 250.000 rupiah.
Perahu untuk menyusuri Rammang-Rammang

Menyusuri sungai lupa berapa lama tapi gak lama-lama banget kayanya. Jadi kiri kanan itu banyak tanaman gitu, nah perahunya jalannya cuma ditengah-tengah gitu. Terus selama perjalanan juga disuguhi pemandangan pegunungan karst.
Menyusuri sungai

Sampailah kita di Kampung Berua, retribusi masuknya Rp. 5.000 per orang. Jadi di sana ada apa aja? Ada sawah, goa berlian, pondok buat ngopi-ngopi santai gitu. Oh iya, di Kampung Berua itu masih ditinggali penduduk setempat. Jadi selain kawasan wisata, kawasan tersebut juga meupakan tempat tinggal para penduduk. Sebenarnya Kampung Berua dan kawasan wisata Rammang-Rammang itu enak banget buat dieksplor dan kayanya harus satu hari penuh deh soalnya masih ada tujuan lain selain Kampung Berua ini.
Kampung Berua

Kampung Berua


Kampung Berua

Yang di Kampung Berua terkenal sih ada Goa Berlian yang di dalamnya ada berliannya. Masuknya sempit gitu, jadi masuk ke tempat yang ada berliannya harus naik ke atas goa gitu dan naiknya itu cuma bisa satu orang, jadi satu-satu kalau mau masuk dan turun. Dan di atas juga ga bisa masuk banyak-banyak karena tempatnya sempit. Di atas ada yang jaga dan jelasin berliannya yang mana terus prosesnya gimana. Terus ada satu spot namanya Padang Ammarung, jadi naik ke sana bisa lihat kurang lebih pemandangan di Kampung Berua.
Kampung Berua dari Padang Ammarung

Setelah puas (capek) berkeliling kita balik lagi ke tempat awal kita, naik perahu lagi dan manyusuri sungai lagi.

Habis dari Rammang-Rammang kami lanjut ke Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, tapi di sana gak eksplor banyak, kami cuma ke tempat penangkaran kupu-kupu tapi sayang, kupu-kupunya gak ada, kata guidenya kalau mau banyak kupu-kupu pas pagi. Jadilah kami naik ke atas ke salah satu tempat yang iconic (setelah cari-cari refrensi di google) yaitu Helena Sky Bridge. Oh iya tiket masuknya (sudah termasuk Helena Sky Bridge) adalah Rp 22.500



Kalau berdasarkan gambar-gambar di google sih bagus tapi pas datang ke sana seperti kurang terurus. Kata guidenya juga waktu awal-awal dibuka memang diurus banget tapi lama-lama jadi kaya gak keurus gitu. Padahal bagus loh, sayang juga kalau gak keurus. Jadi di jembatan itu kita nyebrang dari satu sisi ke sisi lain, tenang aja pakai pengaman kok. Tingginya? lumayan lah bisa buat kaki gemeteran. Jadi ini kan jembatan gantung gitu jadi pas jalan goyang-goyang gitu kan, nah itulah yang menarik. Buat foto-foto dan meguji adrenalin bagus loh.
Helena Sky Bridge

Helena Sky Bridge


Lanjut lagi masih di kawasan Taman Nasional ada air terjun, jadi kita masuk untuk main air dan sekalian mandi di sana karena malamnya kami akan berangkat menuju Toraja. Tiket masuk ke kawasan air terjun ini Rp 25.000 sudah termasuk tempat mandi yang ada di dalam, jadi habis main air gak usah pusing mau bilasan dimana karena di dalam banyak disediakan kamar ganti. Dan saat ke sana banyak keluarga yang sedang liburan, jadi lokasinya sih cocok untuk anak-anak karena akses menuju lokasi gampang dan arusnya gak gitu deras juga.
Malamnya kami pergi ke Toraja menggunakan bus Primadona yang dipesan online di websitenya dengan harga Rp. 150.000 , jadi sampai poolnya tinggal tunjukan email pemesanannya. Busnya sih enak banget untuk harga segitu. Duduknya 2-2 terus ada tatakan kakinya (entah apa namanya) gitu yg bisa dinaikin, untuk tempat bersandarnya juga bisa dimundurin jadi gak tegak 90 derajat duduknya. Berangkat dari pool sekitar pukul 21.00 WITA dan sampai di Toraja, tepatnya di Rantepao sekitar 06.00 / 07.00 WITA
Ada apa aja di Toraja? Nanti yah nyambung lagi, kepanjangan di sini soalnya.

Thursday, May 30, 2019

Let's Get Lost : Negeri Laskar Pelangi

Akhirnya nulis lagi. Nulisnya setahun sekali hahahaha. Kali ini mau cerita tentang gathering kantor tanggal 1-4 Mei 2019 ke Belitung. Waktu Januari kemarin pernah ke Belitung dan karena jatuh cinta sama pulau ini makanya mengusulkan gathering kantor ke Belitung.
Gathering kali ini dipandu oleh Ambo Tour. Kuy langsung aja dengerin ceritanya siapa tahu jadi jatuh cinta juga sama pulau ini.

Day 1 - 1 Mei 2019
Kami tiba di Bandar Udara Internasional H.A.S. Hanandjoeddin pkl 07.00 dengan drama 'Koper Tertukar'. Udah kaya judul FTV kan. Tapi ini beneran loh, salah satu dari kami kopernya tertukar dengan entah siapa penumpang lain. Untungnya langsung diurusin dong sama Ambo Tour jadi kita tinggal lanjut jalan deh.
Persinggahan pertama yaitu di Hanggar 21, sarapan makan Mie Atep dan minum jeruk kunci.

Langsung lanjut ke Belitung Timur yang biasa dikenal dengan Kampung Ahok. Di Belitung Timur kami pertama kali mengunjungi kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Belitung Timur.
Salah satu sudut kantor Disbudpar

Adat Perkawinan Belitung

Di sana dijelaskan tentang Belitung terutama Belitung Timur. Dan di sini ada salah satu binatang langka, yaitu Tarsius yang dinamai Mon Mon. Binatang noktural ini kepalanya bisa berputar hampir 180 derajat.
Mon Mon

Lanjut dari sana kita ke Vihara Dewi Kwan-im yang tinggi dan indah banget. Di sini biasa untuk beribadah tapi kalau hari-hari biasa sering juga para wisatawan mampir di sini karena keindahan tempatnya.

Lanjut lagi, mampir ke salah satu tempat yang paling sering didatangi orang kalau ke Belitung Timur yaitu Kampoeng Ahok yang sekarang berganti nama menjadi Kampoeng Fifi. Di situ ada kios (atau toko lebih tepatnya) yang menjual merchandise tentang Ahok, juga bisa nongkrong di sana karena bisa memesan kopi dan makanan ringan.

Di seberangnya ada rumah keluarga Pak BTP (Ahok) yang masih sering digunakan jika keluarganya berkunjung ke Belitung. Lanjut lagi, kita ke replika sekolah Laskar Pelangi. Di dalam replika sekolah tersebut benar-benar ada meja dan kursi seperti kelas beneran dan juga ada tiang bendera dengan Bendera Merah Putih yang berkibar yang sangat iconic karena kebanyakan orang yang datang ke sana hampir pasti berfoto di sana.
Ruang Kelas Sekolah Replika Laskar Pelangi
Replika Sekolah Laskar Pelangi

Tidak jauh dari tempat tersebut ada tempat yang saya lupa namanya, itu ada seperti danau, ada kafe, pokoknya cocok lah buat bersantai bareng. Sayang hari itu panas banget jadi kurang rasanya untuk santai-santai di sana. Tempat yang saya lupa namanya itu mengakhiri perjalanan hari pertama kami dan kami harus kembali ke hotel untuk istirahat sejenak dan kemudian makan malam.

Day 2 - 2 Mei 2019
Hari kedua di Pulau ini. Jadwal kami adalah day trip ke Pulau Leebong. Fyi, Leebong ini sebenarnya adalah Pulau pribadi. Di sini ada villa untuk menginap dan juga rumah pohon. Ada juga barak (tenda) untuk menginap yang versi lebih hematnya. Kalau gak mau menginap juga bisa day trip ke Pulau ini.
Di Pulau ini ada 2 Pantai (ini sih sebutan gw aja) jadi ada pantai di depan dan ada yang di belakang yang namanya Chicas. Kalau kalian day trip ke Pulau ini, biaya Day Trip sudah termasuk PP Kapal dari Pelabuhan Tanjung Ru sampai ke Leebong, makan siang, dan juga fasilitas yang ada di sana. Nah kalau mau ngerasain punya pulau pribadi datang aja ke Leebong, tapi jangan high season datangnya jadi serasa pulau milik sendiri. Oh iya, sebelum ke Pulau Leebong kami mampir dulu ke Pulau Pasir. Jadi kalau airnya surut pulaunya besar tapi kalau pas airnya naik pulaunya jadi kecil gitu. Di sini biasanya banyak bintang laut dan Pulaunya sih cantik banget dan yang pasti instagramable banget, ditambah dengan properti yang ada seperti ayunan.

Pulau Pasir Leebong


Puas foto-foto dan main basah-basahan lanjut ke Pulau utamanya yaitu Pulau Leebong. Sebenarnya ada juga semacam hutan bakau atau apa sebutannya, tapi isinya tanaman bakau gitu tapi kami gak ke sana soalnya kapalnya lagi gak bisa lewat. Di Pulau Leebong kami pertama bermain di Pantai Chicas.
Bakau di Pulau Leebong

Pantai Chicas saat surut

Pantai Chicas saat air naik

Pantainya udah pasti bagus dan juga ada coffee shop jadi bisa santai-santai. Setelah puas bermain di sana kami kembali ke pantai yang ada di depan untuk bermain kayak & paddle board. Setelah puas main dan basah-basahan tentu saja kami harus pulang karena sudah sore juga. Dan di perjalanan pulang kami disuguhi pemandangan senja yang begitu indahnya.
Dermaga Pulau Leebong
Senja di Perjalanan dari Leebong

Balik dari Leebong kami makan malam di restoran Tempo Doeloe yang unik seperti namanya, semua peralatan juga "tempo doeloe". Dan yang lebih unik lagi kita bisa mencoba makan dengan tradisi Belitung yaitu Bedulang.
Menu makanan Tempo Doeloe

Jadi, (cmiiw) ada tradisi makan bersama di masyarakat Belitung, yaitu makanan disajikan di atas dulang (nampan) kemudian disantap bersama-sama. Biasanya satu dulang itu untuk 4 orang, jadi 4 orang mengelilingi dulang dengan duduk bersila. Dan ada aturan lain, yaitu orang yang paling muda dari antara empat orang tersebut mengambilkan nasi ke orang yang paling tua sampai paling muda. Dan untuk lauknya, orang yang paling tua dahulu yang mengambil.

Day 3 - 3 Mei 2019
Masih di Negeri  Laskar Pelangi, hari ini jadwlanya cukup padat yaitu Hopping Island, tapi lupa nama Pulaunya apa aja, jadi cek aja di sini nama-nama pulaunya ya. Jadi stop pertama adalah di atas laut, iya di atas laut karena kita gak turun. Cuma foto dari atas perahu dengan background Batu Garuda (cmiiw). 

Lanjut lagi ke Pulau Batu Berlayar (kalau gak salah, kalau salah tolong koreksi ya). Di Pulau ini kalian akan menemukan batu-batu yang besar yang biasa digunakan sebagai spot foto dan yang pasti foto di setiap sudut bagus rasanya. Sepertinya, kebanyakan pantai di sini banyak terdapat batu-batu besar. Lanjut lagi ke Pulau Lengkuas yang ada mercusuarnya. Sayang, saat ini mercusuarnya sudah tidak dibuka untuk umum. Oh iya, di sini ada warung yang menjual es kelapa dan makanan-makanan untuk bersantai, jadi kalau capek bisa istirahat dulu di sini. Lanjut lagi, dari Pulau ini kita ke spot snorkeling.
Pulau lengkuas

Jadi kalau ke Belitung coba sempetin snorkeling karena bawah lautnya bagus juga loh, masih banyak karang-karang yang bagus dan banyak ikannya juga.


Nah habis snorkeling kan lapar tuh yah, langsung deh menuju Pulau Kepayang untuk makan siang. Sudah kenyang lanjut snorkeling lagi dong. Setelah bercapek-capek ria kami kembali ke dermaga untuk bilas dan makan malam tentunya.

Day 4 - 4 Mei 2019
Hari terakhir di Pulau yang indah ini. Jadwal hari ini tidak padat. Pagi kami mampir ka Danau Kaolin yang harusnya airnya berwarna biru kaya di foto orang-orang, tapi kali ini tidak karena semalam katanya habis hujan jadi airnya agak keruh katanya. Mungkin harus mampir ke sini untuk melihat birunya danau Kaolin. Danau Kaolin sebenarnya merupakan bekas galian kaolin dan bahkan masih aktif di sebelahnya. Karena saat kami datang masih terlihat banyak alat-alat berat sedang bekerja.
Danau Kaolin

Lanjut lagi, tempat terkhir yang kami kunjungi adalah Pantai Tanjung Tinggi atau yang lebih dikenal dengan sebutan 'Pantai Laskar Pelangi' oleh wisatawan karena tempat itu merupakan tempat syuting film Laskar Pelangi. Dan di pantai ini banyak juga terdapat batu-batu besar yang juga sering dijadikan spot foto.
Pantai Tanjung Tinggi
Pantai Tanjung Tinggi


Kalau pantai ini sudah banyak kios-kios yang berjualan jadi tidak perlu takut kelaparan atau kehausan. Di tempat ini memang instagramable banget buat kamu yang hobi foto. Setiap sudutnya indah, tapi asal tahan panas saja ya, hahahaha.

Sekian perjalanan selama 4 hari di Negeri Laskar Pelangi. Buat yang penasaran, langsung datang aja, dijamin gak akan menyesal dan juga kalau bingung di sana mau kemana aja, langsung aja kontak Ambo Tour untuk mengatur perjalanan kalian, selain turnya jadi terjadwal dengan rapi jadi ada yang motoin juga loh hahaha. Kemarin kami juga ditemani guide yang selain menyenangkan tapi juga informatif, gak cuma jelasin tempat-tempat wisata aja tapi sejarah juga diceritain loh hahahaha. Pokoknya kalau yang masih bingung liburan mau ke mana, cobain deh sekali-kali ke Belitung siapa tahu langsung jatuh cinta seperti saya hehehehe.

Sudah dulu tulisan kali ini, semoga bisa (niat) nulis lagi gak tunggu tahun depan.


Sunday, September 2, 2018

Let's Get Lost: Sombori - Labengki

Holaaa, sudah lama banget gak nulis. Kali ini mau berbagi cerita perjalanan ke Pulau Celebes 17-19 Agustus 2018 yang digadang-gadang katanya Raja Ampatnya Sulawesi. Untuk perjalanan kali ini saya ikut open trip Piknik Nusantara . Yang kira-kira mau pergi tapi gak ada teman atau cuma sedikit atau yang gak mau ribet, ikut Open Trip aja. Selain gak ribet, di Open Trip itu kalian bisa juga dapat banyak teman lohh. Yuk lah langsung aja ke cerita perjalanannya.

17 Agustus 2018
Meeting Point di Bandara Haluoleo, Kendari. Jadi saya memutuskan untuk naik Sriwijaya (karena lebih murah sebenarnya), keberangkatan dari Soekarno Hatta pkl 00.05 WIB, tiba di Makassar pkl. 03.20 WITA, tapi karena satu dan lain hal, agak sedikit terlambat, jadi tiba di Makassar kurang lebih pkl 04.00 WITA (agak lupa saya). Transit di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar sebetulnya menyenangkan karena bandaranya besar dan karena Bandar Udara Internasional jadi banyak toko-toko atau tempat makan yang buka 24 jam. Pukul 06.35 WITA baru terbang lagi ke Kendari, tiba di Kendari kurang lebih pkl 07.20 WITA. Oh iya, out of topic sebentar, saya senang banget naik Sriwijaya, kayanya dulu gak kaya gini (atau saya yang lupa karena sudah lama banget). Jadi sebelum take off, setelah awak kabin memeragakan tentang alat keselamatan, awak kabin mengumumkan untuk berdoa bersama. Sepele kelihatannya tapi saya senang aja, karena baru pertama kali naik pesawat disuruh berdoa sama-sama dulu.
Lanjut lagi soal liburan. Perjalanan dari Bandara Haluoleo ke dermaga tempat kami menyeberang itu kurang lebih 1 jam. Dari dermaga menuju Pulau Labengki kurang lebih 2,5-3 jam. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam dengan kapal. Spot pertama yang kami datangi adalah Danau Mahumalalang. Kalau kalian cari fotonya itu bagus (pasti). Tapi ternyata untuk foto dengan latar belakang danau yang airnya hijau dan jernih itu, kita harus memanjat bebatuan, karena danaunya itu ternyata ada di balik bebatuan yang kita panjat itu. Tapi ini gak seberapa, hari esok ternyata lebih menantang. Hahahaa.
Danau Mahumalalang

Kapal yang kita pakai selama di Sombori - Labengki

Puas berfoto, lanjut lagi ke spot berikutnya yaitu Kimaboe Hills yang di papan petunjuknya tertulis "Raja Empat". Kali ini trekkingnya bagus, soalnya udh ada tangga aspal, jadi gampang banget naiknya. Kebanyakan di sini spot fotonya memang harus naik-naik gitu karena di sini akan lebih indah kalau lihatnya dari atas. padahal dari bawah juga bagus sih. Airnya jernih banget.
Jadi di sini kita dapat dua view karena berseberangan, yaitu Teluk Cinta dan Raja Empat itu, mungkin namanya seperti itu karena viewnya mirip Raja Ampat. Kalau teluk cinta mungkin karena bentuknya itu seperti love. Kalau mau jelas lihatnya harus pakai drone, tapi dari atas juga kelihatan sih bentuknya.
view Teluk Cinta

View Raja Empat


Lanjut lagi ke spot terakhir sebelum ke homestay yaitu pantai pasir panjang. Saya sih gak eksplor pantainya soalnya lebih tertatik mau snorkeling. Jadi langsung deh ke spot snorkeling. Memang Indonesia itu bawah lautnya indah banget. Spot snorkeling yang kemarin itu terumbu karangnya banyak. Ikannya banyak jenisnya tapi jumlahnya gak begitu banyak dan ombaknya lumayan besar yah, gak tenang gitu airnya.
Sudah capek snorkeling langsung balik deh ke homestay di Pulau Labengki Kecil. Dari dermaga ke homestay dekat banget. Jalan kaki sebentar juga sampai. Oh iya, kayanya laut di sini semuanya bening deh, dekat homestay juga lautnya bening banget. Kalau dulu katanya nginapnya di Balai Desa di Sombori tapi katanya sekarang udah gak boleh lagi. Oh iya, untuk sinyal di beberapa tempat memang susah tapi di homestay ini atau di Pulau Labengki sinyalnya sudah 4G kok dan cepat juga, tapi hanya untuk provider telkomsel yah.

18 Agustus 2018
Hari ini perjalanan agak jauh, ke Sombori, katanya sih sekitar 2jam lebih deh. Pemberhentian pertama itu Pantai Koko (CMIIW), jadi ada dua bibir pantai di sana, saat kita turun langsung disambut bibir pantai lainnya di seberangnya dan pastinya airnya jernih banget.
Pantai Koko

Pantai Koko


Lanjut lagi kita ke Pantai Air Kiri, kalau pantai kiri itu latar belakangnya ada tebing yang tinggi gitu dan lagi-lagi airnya bening guys.
Pantai Air Kiri


Lanjut ke spot berikutnya yaitu Gua Allo, kebetulan saya tidak turun dan masuk ke dalam goa. Tapi saya kasih lihat nanti fotonya dari teman-teman yang masuk.
dalam Gua Allo

Oh iya, untuk turun ke Gua Allo sebaiknya memakai sepatu/sandal karena banyak bulu babi di airnya yang menuju Gua Allo.
view di luar Gua Allo

Oh iya, tadinya habis dari Gua Allo kita mau ke spot yang banyak banget jadi objek foto, yaitu rumah nenek tapi sayang, ternyata semalam rumah nenek terkena badai katanya jadi roboh. Tapi yang roboh itu hanya spot fotonya. Rumah nenek yang asli (yang ditinggali) masih tetap bediri, jadi kami langsung menuju Balai Desa yang ada di Pulau Mbokita.
Di perjalanan menuju balai desa kami bertemu sekelompok lumba-lumba yang lompat-lompatan dengan indahnya, how lucky we are. Pemberhentian selanjutnya adalah Pulau Mbokita di Pulau tersebut ada balai desa yang dulu digunakan oleh pengunjung untuk menginap. Belum turun kapal saja kita sudah disambut anak-anak yang lompat dari jembatan. Kecil-kecil sudah pandai berenang mereka dan mereka ramah sekali loh. Dan lagi-lagi saya harus katakan airnya bening banget. Indah banget dah kalau tinggal di sini setiap hari ngeliatin laut aja. Ini ada videonya nih anak-anak lagi lompat-lombatan dari jembatan.
bersama anak-anak di Pulau Mbokita

Oh iya, fyi balai desa ini letaknya di atas laut, jadi semacam rumah panggung gitu dah di belakangnya ada beberapa rumah penduduk. Pokoknya di Pulau ini alat transportasinya kapal deh. Selesai makan siang di dekat Balai Desa kita lanjut ke Pulau Kayangan Sombori. Nah, yang ini lebih menantang dibanding Danau Mahumalalang kemarin. Kita harus nanjak ke atas yang pijakannya itu batu dan tanah. Sebenarnya akses ke Pulau Kayangan ini sudah ada tangga semen tapi karena air belum pasang jadi kapal tidak bisa menepi di sana, jadilah kita harus berjuang kaya gini. Untungnya, turunnya bisa lewat tangga. Sebetulnya trekkingnya tidak jauh tapi karena pijakannya masih alami jadi agak sulit. Tapi semua kesusahan itu terbayar kok saat kamu tiba di atas. Rasanya gak mau turun. Tapi sayang karena sudah sore dan saat itu gerimis jadi kita gak bisa lama-lama deh di atas.
Puncak Pulau Kayangan

Lanjut lagi ke Sombori Hills yang katanya viewnya mirip dengan Raja Ampat, ini puncaknya nih dari segala panjat-panjatan sebelumnya. Trekking kurang lebih 15-30 menit kayanya (agak lupa), pijakannya batu semua, jadi bawa sarung tangan kalau ke sini karena batunya tajam-tajam. Katanya ini lebih bagus dari Puncak Pulau Kayangan yang sebelumnya.
Jalan Menuju Sombori Hills

Seperti ada pepatah mengatakan "hasil tidak akan mengkhianati proses" dan ini benar adanya, tiba di atas rasanya semuanya terbayar sudah. manjat-manjat batu tajam yang penuh perjuangan itu terbayar dengan pemandangan yang indah banget di atas sana dan lagi tidak ingin pulang rasanya.
Kali ini bukan hanya karena pemandangan yang indah tapi karena turunnya nanti jalannya sama dengan pada saat naik tadi. Tidak ada tangga atau jalanan aspal di sini. Tidak bisa berlama-lama juga karena sudah kesorean dan rombongan banyak jadi fotonya gak bisa lama-lama.
Sombori Hills

Kami meninggalkan Sombori Hills sekitar jam 5 kalau tidak salah. Tapi ada sebagian yang kembali ke homestay ada sebagian yang masih snorkeling, saya ikut rombongan yang kembali ke homestay. Perjalanan menuju homestay kurang lebih 3 jam dan selama kurang lebih 3 jam inilah banyak cerita yang tercipta. Jadi ternyata pada saat itu ombak sedang tinggi. Awalnya masih santai saja, masih bisa tertawa dan bercanda karena ombak masih bisa ditolerir. Lama kelamaan langit mulai gelap dan ombak semakin tinggi dan kami belum sampai. Sudah tidak terdengar lagi suara tawa dari kapal. Ada yang memejamkan mata karena takut, ada juga yang pura-pura tidur padahal takut juga, ada juga yang pikirannya sudah gak karuan ke mana, ada juga yang dalam hatinya berdoa minta keselamatan, ada yang teringat orang tuanya, dan pasti semuanya menyimpan harapan untuk tiba di homestay dengan selamat. Bukan melebih-lebihkan tapi memang begitu yang kami alami. Kapal terombang-ambing di tengah laut yang gelap ditambah hujan dan tidak ada sinyal. Di laut kami tidak melihat ada kapal lain, jadi hanya kapal kami saja di tengah laut. Kapal sempat menabrak ombak yang tinggi atau entah bahasanya apa karena saya kurang paham, jadi kapalnya itu naik ombak gitu trus turun dan bunyi 'BUK' benar-benar berasa seperti membentur sesuatu di bawah. Belum lagi kapal sempat oleng ke kiri dan ini oleng banget.Tapi bersyukur sama Tuhan dan terimakasih buat awak kapal yang sangat handal karena kami tiba di homestay dengan selamat tanpa kekurangan suatu apa pun. Pengalaman yang gak akan bisa dilupakan mungkin. Malam itu pun ditutup dengan indomie goreng, teh manis hangat, dan pisang goreng serta cerita tentang ombak malam itu yang tidak ada habisnya walau diceritakan berkali-kali.

19 Agustus 2018
Hari terkhir di pulau yang indah ini. Di Pulau Labengki Kecil ini ada mercusuar yang sudah tidak terpakai sepertinya dan ada pantai yang indah banget. Jadilah kami pagi-pagi ke sini, jalan kaki 5-10 menit. Karena dekat banget dari homestay.

Mercusuar di Labengki Kecil

Di dekat mercusuar ada pantai yang indah (lupa namanya), airnya bening, gak ada sampah rasanya gak mau pulang. Mau di sini aja rasanya.

Pantai di dekat Mecusuar


Oh iya, sepanjang perjalanan dari satu spot ke spot lain kita selalu disuguhi dengan pemandangan indah, banyak tebing atau bukit batu yang mengelilingi laut tersebut. Tapi apa daya, besoknya harus kembali menghadapi realita, harus duduk lagi di depan laptop buat cari modal liburan selanjutnya. hahahaha.
Menurut info guide lokal kita, kita harus keluar dari Pulau Labengki pkl 09.00 karena ombak akan tinggi lagi. Gak mau dong mengulang kejadian semalam. Dari Pulau Labengki menuju dermaga kurang lebih 3 jam dan benar saja, ombaknya lumayan tinggi, walaupun tidak setinggi semalam dan lagi-lagi hanya ada kapal kami di tengah lautan luas itu. Perjalanan menuju dermaga dihiasi dengan canda tawa karena tidak seseram ombak kemarin dan lagi masih siang. Dengan sampainya di dermaga maka selesailah perjalnan Sombori-Labengki.
Dermaga Penyeberangan

bersama anak-anak di dermaga

Sebelum ke bandara kita sempat makan siang dulu dan beli oleh-oleh tapi tidak eksplor kota Kendari. Mungkin kapan-kapan kalau ke sini lagi hehehehe.
Pulang dari Kendari menuju Jakarta menggunakan Lion Air pukul 19.50 WITA yang menurut jadwal akan berhenti di Makassar 35 menit. Tapi apa daya, ternyata pesawat dari Kendari - Makassar delay sekitar 1 jam, jadi kami tiba di Jakarta sekitar 23.40 WIB yang seharusnya di jadwal 22.50 WIB.
Tapi walaupun banyak drama yang terjadi, perjalanan kali ini tetap tidak mengecewakan, banyak dapat pengalaman baru, teman baru, dan tentunya cerita baru.



Kalau pada tanya worth it ga sih? Menurut saya sih worth it yah, karena di sini masih sepi, gak ramai turisnya, wisatanya masih alami banget dan untuk open trip dengan harga yang masih termasuk murah dibanding wisata alam lainnya.
Tapi kalau mau lebih jelasnya langsung aja ke sana dan nilai sendiri kira-kira worth itu gak sih perjalanan udara kurang lebih 3 jam (direct), perjalanan darat kurang lebih 1 jam, dan perjalanan laut kurang lebih 3 jam dengan wisata yang ditawarkan.
Dan kalau ada yang tanya sama Raja Ampat bagusan mana? Berhubung saya belum pernah ke Raja Ampat jadi saya juga gak bisa jawab, tapi sepertinya kita tidak bisa membandingkan tempat wisata yang satu dengan yang lain karena setia tempat pasti punya keunikannya masing-maisng.