Monday, June 24, 2019

Let's Get Lost - Sulawesi Selatan (Makassar - Part 1)

Balik lagi nih bersama saya yang mau cerita tentang kemarin, tentang perjalanan ke Sulawesi Selatan. Mari kita mulai ceritanya.

Day 1 - 1 Juni 2019

pukul 04.00 WIB sudah berangkat dari rumah menuju Bandara Soetta karena pesawat kami flight pagi pkl. 05.35 dan drama pun dimulai. Jadi pas lagi ngantri mau taruh koper ke bagasi ada salah satu rombongan kami yang mau nitip barang buat masuk koper, nah gw kan mau buka tuh koper gw dan ternyata jeng jeng jeng (biar seru) nomor kunci kopernya salah dong, seinget gw itu nomornya karena gw gak pernah ganti-ganti, tapi tadi pagi sebelum ke bandara gw emang buka koper gw dan mungkin berubah di situ tapi gw gak sadar, jadilah gw dari ngantri sampai pas nimbang koper nyoba kunci koper mulai dari 000 dan kami tiba di Makassar kurang lebih 09.00 WITA, hal yang pertama gw lakukan setelah ambil koper adalah nyoba kunci lagi dong. Dan sambil nunggu dijemput teman di Makassar akhirnya kopernya terbuka dong :'). Gak penting ya? Emang, cuma pengen cerita aja gw mah.

Lanjut ke perjalanan di Makassar. Jadi dari Bandara kami langsung menuju ke Rammang-Rammang. Rammang-Rammang itu katanya 'amazon'nya Sulawesi. Jadi kita tuh menyusuri sungai, sewa perahu buat menuju ke suatu desa gitu. Sewa perahu udah ada tarifnya tapi gak tahu deh bisa ditawar apa gak. Kemarin kita ber-enam jadi harga sewanya 250.000 rupiah.
Perahu untuk menyusuri Rammang-Rammang

Menyusuri sungai lupa berapa lama tapi gak lama-lama banget kayanya. Jadi kiri kanan itu banyak tanaman gitu, nah perahunya jalannya cuma ditengah-tengah gitu. Terus selama perjalanan juga disuguhi pemandangan pegunungan karst.
Menyusuri sungai

Sampailah kita di Kampung Berua, retribusi masuknya Rp. 5.000 per orang. Jadi di sana ada apa aja? Ada sawah, goa berlian, pondok buat ngopi-ngopi santai gitu. Oh iya, di Kampung Berua itu masih ditinggali penduduk setempat. Jadi selain kawasan wisata, kawasan tersebut juga meupakan tempat tinggal para penduduk. Sebenarnya Kampung Berua dan kawasan wisata Rammang-Rammang itu enak banget buat dieksplor dan kayanya harus satu hari penuh deh soalnya masih ada tujuan lain selain Kampung Berua ini.
Kampung Berua

Kampung Berua


Kampung Berua

Yang di Kampung Berua terkenal sih ada Goa Berlian yang di dalamnya ada berliannya. Masuknya sempit gitu, jadi masuk ke tempat yang ada berliannya harus naik ke atas goa gitu dan naiknya itu cuma bisa satu orang, jadi satu-satu kalau mau masuk dan turun. Dan di atas juga ga bisa masuk banyak-banyak karena tempatnya sempit. Di atas ada yang jaga dan jelasin berliannya yang mana terus prosesnya gimana. Terus ada satu spot namanya Padang Ammarung, jadi naik ke sana bisa lihat kurang lebih pemandangan di Kampung Berua.
Kampung Berua dari Padang Ammarung

Setelah puas (capek) berkeliling kita balik lagi ke tempat awal kita, naik perahu lagi dan manyusuri sungai lagi.

Habis dari Rammang-Rammang kami lanjut ke Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, tapi di sana gak eksplor banyak, kami cuma ke tempat penangkaran kupu-kupu tapi sayang, kupu-kupunya gak ada, kata guidenya kalau mau banyak kupu-kupu pas pagi. Jadilah kami naik ke atas ke salah satu tempat yang iconic (setelah cari-cari refrensi di google) yaitu Helena Sky Bridge. Oh iya tiket masuknya (sudah termasuk Helena Sky Bridge) adalah Rp 22.500



Kalau berdasarkan gambar-gambar di google sih bagus tapi pas datang ke sana seperti kurang terurus. Kata guidenya juga waktu awal-awal dibuka memang diurus banget tapi lama-lama jadi kaya gak keurus gitu. Padahal bagus loh, sayang juga kalau gak keurus. Jadi di jembatan itu kita nyebrang dari satu sisi ke sisi lain, tenang aja pakai pengaman kok. Tingginya? lumayan lah bisa buat kaki gemeteran. Jadi ini kan jembatan gantung gitu jadi pas jalan goyang-goyang gitu kan, nah itulah yang menarik. Buat foto-foto dan meguji adrenalin bagus loh.
Helena Sky Bridge

Helena Sky Bridge


Lanjut lagi masih di kawasan Taman Nasional ada air terjun, jadi kita masuk untuk main air dan sekalian mandi di sana karena malamnya kami akan berangkat menuju Toraja. Tiket masuk ke kawasan air terjun ini Rp 25.000 sudah termasuk tempat mandi yang ada di dalam, jadi habis main air gak usah pusing mau bilasan dimana karena di dalam banyak disediakan kamar ganti. Dan saat ke sana banyak keluarga yang sedang liburan, jadi lokasinya sih cocok untuk anak-anak karena akses menuju lokasi gampang dan arusnya gak gitu deras juga.
Malamnya kami pergi ke Toraja menggunakan bus Primadona yang dipesan online di websitenya dengan harga Rp. 150.000 , jadi sampai poolnya tinggal tunjukan email pemesanannya. Busnya sih enak banget untuk harga segitu. Duduknya 2-2 terus ada tatakan kakinya (entah apa namanya) gitu yg bisa dinaikin, untuk tempat bersandarnya juga bisa dimundurin jadi gak tegak 90 derajat duduknya. Berangkat dari pool sekitar pukul 21.00 WITA dan sampai di Toraja, tepatnya di Rantepao sekitar 06.00 / 07.00 WITA
Ada apa aja di Toraja? Nanti yah nyambung lagi, kepanjangan di sini soalnya.

Thursday, May 30, 2019

Let's Get Lost : Negeri Laskar Pelangi

Akhirnya nulis lagi. Nulisnya setahun sekali hahahaha. Kali ini mau cerita tentang gathering kantor tanggal 1-4 Mei 2019 ke Belitung. Waktu Januari kemarin pernah ke Belitung dan karena jatuh cinta sama pulau ini makanya mengusulkan gathering kantor ke Belitung.
Gathering kali ini dipandu oleh Ambo Tour. Kuy langsung aja dengerin ceritanya siapa tahu jadi jatuh cinta juga sama pulau ini.

Day 1 - 1 Mei 2019
Kami tiba di Bandar Udara Internasional H.A.S. Hanandjoeddin pkl 07.00 dengan drama 'Koper Tertukar'. Udah kaya judul FTV kan. Tapi ini beneran loh, salah satu dari kami kopernya tertukar dengan entah siapa penumpang lain. Untungnya langsung diurusin dong sama Ambo Tour jadi kita tinggal lanjut jalan deh.
Persinggahan pertama yaitu di Hanggar 21, sarapan makan Mie Atep dan minum jeruk kunci.

Langsung lanjut ke Belitung Timur yang biasa dikenal dengan Kampung Ahok. Di Belitung Timur kami pertama kali mengunjungi kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Belitung Timur.
Salah satu sudut kantor Disbudpar

Adat Perkawinan Belitung

Di sana dijelaskan tentang Belitung terutama Belitung Timur. Dan di sini ada salah satu binatang langka, yaitu Tarsius yang dinamai Mon Mon. Binatang noktural ini kepalanya bisa berputar hampir 180 derajat.
Mon Mon

Lanjut dari sana kita ke Vihara Dewi Kwan-im yang tinggi dan indah banget. Di sini biasa untuk beribadah tapi kalau hari-hari biasa sering juga para wisatawan mampir di sini karena keindahan tempatnya.

Lanjut lagi, mampir ke salah satu tempat yang paling sering didatangi orang kalau ke Belitung Timur yaitu Kampoeng Ahok yang sekarang berganti nama menjadi Kampoeng Fifi. Di situ ada kios (atau toko lebih tepatnya) yang menjual merchandise tentang Ahok, juga bisa nongkrong di sana karena bisa memesan kopi dan makanan ringan.

Di seberangnya ada rumah keluarga Pak BTP (Ahok) yang masih sering digunakan jika keluarganya berkunjung ke Belitung. Lanjut lagi, kita ke replika sekolah Laskar Pelangi. Di dalam replika sekolah tersebut benar-benar ada meja dan kursi seperti kelas beneran dan juga ada tiang bendera dengan Bendera Merah Putih yang berkibar yang sangat iconic karena kebanyakan orang yang datang ke sana hampir pasti berfoto di sana.
Ruang Kelas Sekolah Replika Laskar Pelangi
Replika Sekolah Laskar Pelangi

Tidak jauh dari tempat tersebut ada tempat yang saya lupa namanya, itu ada seperti danau, ada kafe, pokoknya cocok lah buat bersantai bareng. Sayang hari itu panas banget jadi kurang rasanya untuk santai-santai di sana. Tempat yang saya lupa namanya itu mengakhiri perjalanan hari pertama kami dan kami harus kembali ke hotel untuk istirahat sejenak dan kemudian makan malam.

Day 2 - 2 Mei 2019
Hari kedua di Pulau ini. Jadwal kami adalah day trip ke Pulau Leebong. Fyi, Leebong ini sebenarnya adalah Pulau pribadi. Di sini ada villa untuk menginap dan juga rumah pohon. Ada juga barak (tenda) untuk menginap yang versi lebih hematnya. Kalau gak mau menginap juga bisa day trip ke Pulau ini.
Di Pulau ini ada 2 Pantai (ini sih sebutan gw aja) jadi ada pantai di depan dan ada yang di belakang yang namanya Chicas. Kalau kalian day trip ke Pulau ini, biaya Day Trip sudah termasuk PP Kapal dari Pelabuhan Tanjung Ru sampai ke Leebong, makan siang, dan juga fasilitas yang ada di sana. Nah kalau mau ngerasain punya pulau pribadi datang aja ke Leebong, tapi jangan high season datangnya jadi serasa pulau milik sendiri. Oh iya, sebelum ke Pulau Leebong kami mampir dulu ke Pulau Pasir. Jadi kalau airnya surut pulaunya besar tapi kalau pas airnya naik pulaunya jadi kecil gitu. Di sini biasanya banyak bintang laut dan Pulaunya sih cantik banget dan yang pasti instagramable banget, ditambah dengan properti yang ada seperti ayunan.

Pulau Pasir Leebong


Puas foto-foto dan main basah-basahan lanjut ke Pulau utamanya yaitu Pulau Leebong. Sebenarnya ada juga semacam hutan bakau atau apa sebutannya, tapi isinya tanaman bakau gitu tapi kami gak ke sana soalnya kapalnya lagi gak bisa lewat. Di Pulau Leebong kami pertama bermain di Pantai Chicas.
Bakau di Pulau Leebong

Pantai Chicas saat surut

Pantai Chicas saat air naik

Pantainya udah pasti bagus dan juga ada coffee shop jadi bisa santai-santai. Setelah puas bermain di sana kami kembali ke pantai yang ada di depan untuk bermain kayak & paddle board. Setelah puas main dan basah-basahan tentu saja kami harus pulang karena sudah sore juga. Dan di perjalanan pulang kami disuguhi pemandangan senja yang begitu indahnya.
Dermaga Pulau Leebong
Senja di Perjalanan dari Leebong

Balik dari Leebong kami makan malam di restoran Tempo Doeloe yang unik seperti namanya, semua peralatan juga "tempo doeloe". Dan yang lebih unik lagi kita bisa mencoba makan dengan tradisi Belitung yaitu Bedulang.
Menu makanan Tempo Doeloe

Jadi, (cmiiw) ada tradisi makan bersama di masyarakat Belitung, yaitu makanan disajikan di atas dulang (nampan) kemudian disantap bersama-sama. Biasanya satu dulang itu untuk 4 orang, jadi 4 orang mengelilingi dulang dengan duduk bersila. Dan ada aturan lain, yaitu orang yang paling muda dari antara empat orang tersebut mengambilkan nasi ke orang yang paling tua sampai paling muda. Dan untuk lauknya, orang yang paling tua dahulu yang mengambil.

Day 3 - 3 Mei 2019
Masih di Negeri  Laskar Pelangi, hari ini jadwlanya cukup padat yaitu Hopping Island, tapi lupa nama Pulaunya apa aja, jadi cek aja di sini nama-nama pulaunya ya. Jadi stop pertama adalah di atas laut, iya di atas laut karena kita gak turun. Cuma foto dari atas perahu dengan background Batu Garuda (cmiiw). 

Lanjut lagi ke Pulau Batu Berlayar (kalau gak salah, kalau salah tolong koreksi ya). Di Pulau ini kalian akan menemukan batu-batu yang besar yang biasa digunakan sebagai spot foto dan yang pasti foto di setiap sudut bagus rasanya. Sepertinya, kebanyakan pantai di sini banyak terdapat batu-batu besar. Lanjut lagi ke Pulau Lengkuas yang ada mercusuarnya. Sayang, saat ini mercusuarnya sudah tidak dibuka untuk umum. Oh iya, di sini ada warung yang menjual es kelapa dan makanan-makanan untuk bersantai, jadi kalau capek bisa istirahat dulu di sini. Lanjut lagi, dari Pulau ini kita ke spot snorkeling.
Pulau lengkuas

Jadi kalau ke Belitung coba sempetin snorkeling karena bawah lautnya bagus juga loh, masih banyak karang-karang yang bagus dan banyak ikannya juga.


Nah habis snorkeling kan lapar tuh yah, langsung deh menuju Pulau Kepayang untuk makan siang. Sudah kenyang lanjut snorkeling lagi dong. Setelah bercapek-capek ria kami kembali ke dermaga untuk bilas dan makan malam tentunya.

Day 4 - 4 Mei 2019
Hari terakhir di Pulau yang indah ini. Jadwal hari ini tidak padat. Pagi kami mampir ka Danau Kaolin yang harusnya airnya berwarna biru kaya di foto orang-orang, tapi kali ini tidak karena semalam katanya habis hujan jadi airnya agak keruh katanya. Mungkin harus mampir ke sini untuk melihat birunya danau Kaolin. Danau Kaolin sebenarnya merupakan bekas galian kaolin dan bahkan masih aktif di sebelahnya. Karena saat kami datang masih terlihat banyak alat-alat berat sedang bekerja.
Danau Kaolin

Lanjut lagi, tempat terkhir yang kami kunjungi adalah Pantai Tanjung Tinggi atau yang lebih dikenal dengan sebutan 'Pantai Laskar Pelangi' oleh wisatawan karena tempat itu merupakan tempat syuting film Laskar Pelangi. Dan di pantai ini banyak juga terdapat batu-batu besar yang juga sering dijadikan spot foto.
Pantai Tanjung Tinggi
Pantai Tanjung Tinggi


Kalau pantai ini sudah banyak kios-kios yang berjualan jadi tidak perlu takut kelaparan atau kehausan. Di tempat ini memang instagramable banget buat kamu yang hobi foto. Setiap sudutnya indah, tapi asal tahan panas saja ya, hahahaha.

Sekian perjalanan selama 4 hari di Negeri Laskar Pelangi. Buat yang penasaran, langsung datang aja, dijamin gak akan menyesal dan juga kalau bingung di sana mau kemana aja, langsung aja kontak Ambo Tour untuk mengatur perjalanan kalian, selain turnya jadi terjadwal dengan rapi jadi ada yang motoin juga loh hahaha. Kemarin kami juga ditemani guide yang selain menyenangkan tapi juga informatif, gak cuma jelasin tempat-tempat wisata aja tapi sejarah juga diceritain loh hahahaha. Pokoknya kalau yang masih bingung liburan mau ke mana, cobain deh sekali-kali ke Belitung siapa tahu langsung jatuh cinta seperti saya hehehehe.

Sudah dulu tulisan kali ini, semoga bisa (niat) nulis lagi gak tunggu tahun depan.