12 Mei 2016 pukul 22.30, saya bersama 15 orang lainnya
berangkat menuju Yogyakarta menggunakan kereta dari Stasiun Pasar Senen.
Perjalanan (hampir) delapan jam pun dimulai. For your information, buat yang belum tahu kalau naik kereta
(termasuk ekonomi) sekarang itu udah enak, ada AC dan rapi. Jadi, kalau untuk
perjalanan jauh naik kereta juga nyaman kok.Kami tiba di Stasiun Lempuyangan Yogyakarta hari Jumat 13 Mei 2016 sekitar pukul 07.00. Dari Stasiun Lempuyangan kami langsung menuju guest house untuk menaruh barang bawaan dan beres-beres. Kami menyewa guesthouse di daerah Kampung Badran, namanya "Amarilis Guest House". Jadi kami menyewa satu rumah yang isinya ada 3 kamar dan rumahnya nyaman banget, apalagi kalau berpergian ramai-ramai.
Selesai beres-beres kami langsung menuju Candi Borobudur,
tiba di Borobudur sekitar pukul 10.00 dan ternyata baru jam sepuluh pagi di
Borobudur sangat terik tapi tidak mengalahkan niat kami untuk sampai puncak
(hahaha). Kami semua fokus ke puncak jadi kami tidak mengelilingi bangunan
candi untuk melihat relief di dinding candi.
Walaupun matahari sangat terik akhirnya kami semua tiba di puncak Borobudur (yeay!). Tidak sia-sia kami berkeringat dan naik berpuluh-puluh anak tangga karena sesampainya di puncak kami disuguhkan pemandangan yang luar biasa indah. Jadi untuk kalian yang mau ke Borobudur, saya sangat menyarankan kalian harus mencapai puncaknya karena kelelahan naik tangga terbayar dengan pemandangan yang indah di atas sana. Berhubung matahari sangat terik, kami hanya mampu bertahan setengah jam di Candi Borobudur.
Menuju pintu keluar kami diuji dengan banyaknya orang yang berjualan (hahaha). Sepanjang perjalanan menuju pintu keluar di kiri dan kanan banyak kios-kios yang menjual berbagai macam barang, mulai dari baju, sandal, tas, pajangan, bahkan wayang. Dan kami membutuhkan waktu hampir satu jam untuk benar-benar menuju pintu keluar. Bukan karena jauhnya jalan tapi karena banyak mampir di tempat-tempat jualan tadi (hahahaha)
Walaupun matahari sangat terik akhirnya kami semua tiba di puncak Borobudur (yeay!). Tidak sia-sia kami berkeringat dan naik berpuluh-puluh anak tangga karena sesampainya di puncak kami disuguhkan pemandangan yang luar biasa indah. Jadi untuk kalian yang mau ke Borobudur, saya sangat menyarankan kalian harus mencapai puncaknya karena kelelahan naik tangga terbayar dengan pemandangan yang indah di atas sana. Berhubung matahari sangat terik, kami hanya mampu bertahan setengah jam di Candi Borobudur.
Menuju pintu keluar kami diuji dengan banyaknya orang yang berjualan (hahaha). Sepanjang perjalanan menuju pintu keluar di kiri dan kanan banyak kios-kios yang menjual berbagai macam barang, mulai dari baju, sandal, tas, pajangan, bahkan wayang. Dan kami membutuhkan waktu hampir satu jam untuk benar-benar menuju pintu keluar. Bukan karena jauhnya jalan tapi karena banyak mampir di tempat-tempat jualan tadi (hahahaha)
Dari Candi Borobudur kami langsung menuju Rumah Kamera yang
letaknya tidak jauh dari Candi Borobudur. Rumah Kamera terdiri dari dua
bangunan, bangunan yang pertama berbentuk kamera DSLR, bangunan tersebut
merupakan galeri hasil karya sang pemilik kemudian naik ke puncak rumah kamera
kita bisa melihat pemandangan Candi Borobudur yang indah, sayang saya tidak sempat masuk ke
bangunan ini.
Bangunan yang kedua terdiri dari dua lantai yang berisi lukisan 3 dimensi untuk berfoto ria.
Di lantai dua terdapat juga satu ruangan yang sama sebut ruangan kaca, karena memang ruangan tersebut isinya hanya kaca.
Kalau kalian ke rumah kamera tidak perlu khawatir foto kalian tidak akan bagus, kalian hanya perlu menyiapkan kamera atau handphone yang ada kameranya karena karyawan di rumah kamera siap untuk membantu anda mendapatkan foto yang bagus. Dan jangan khawatir juga kalau tidak mendapat bantuan dari petugas di sana karena banyak sekali petugas yang siap untuk memfoto anda.
Bangunan yang kedua terdiri dari dua lantai yang berisi lukisan 3 dimensi untuk berfoto ria.
Di lantai dua terdapat juga satu ruangan yang sama sebut ruangan kaca, karena memang ruangan tersebut isinya hanya kaca.
Kalau kalian ke rumah kamera tidak perlu khawatir foto kalian tidak akan bagus, kalian hanya perlu menyiapkan kamera atau handphone yang ada kameranya karena karyawan di rumah kamera siap untuk membantu anda mendapatkan foto yang bagus. Dan jangan khawatir juga kalau tidak mendapat bantuan dari petugas di sana karena banyak sekali petugas yang siap untuk memfoto anda.
Setelah puas berfoto ria di Rumah Kamera, kami menuju Candi
Ijo untuk melihat sunset, perjalanan
yang cukup jauh menuju Candi Ijo. Karena Candi Ijo merupakan Candi tertinggi di Yogya maka kami pun disuguhkan dengan banyak tanjakan yang tinggi. Perjalanan lebih
dari satu jam kami tempuh dan baru sampai di tempat parkir kami sudah
disuguhkan dengan pemandangan yang luar biasa indah. Di bagian paling atas Candi Ijo terdiri dari 4
bangunan candi, 1 Candi induk dan 3 candi perwara.
Kami tiba di Candi Ijo sekitar pukul 16.30 dan langit masih terang. Kami harus menunggu kira-kira satu jam sampai matahari terbenam. Sayangnya, kami kurang beruntung karena matahari malu-malu terbenam sehingga tertutup awan dan terbenam begitu saja. Tapi kami tidak kecewa, karena di Candi tertinggi ini kami disuguhkan dengan pemandangan yang luar biasa indah dan membuat hati tenang rasanya (hehehe).
Kami tiba di Candi Ijo sekitar pukul 16.30 dan langit masih terang. Kami harus menunggu kira-kira satu jam sampai matahari terbenam. Sayangnya, kami kurang beruntung karena matahari malu-malu terbenam sehingga tertutup awan dan terbenam begitu saja. Tapi kami tidak kecewa, karena di Candi tertinggi ini kami disuguhkan dengan pemandangan yang luar biasa indah dan membuat hati tenang rasanya (hehehe).
Karena belum lelah kami pun lanjut ke Malioboro sekalian
untuk makan malam. Jalan Malioboro memang selalu ramai, banyak toko dan juga
tempat makan yang kebanyakan lesehan. Tips untuk kalian yang makan lesehan di
Malioboro cari yang ada daftar harganya. Setelah kenyang makan kami pun
memutuskan untuk jalan di sepanjang Jalan Malioboro karena hari belum terlalu
malam. Akhirnya kami sampai di titik nol kilometer Yogya (yeay!).
Karena belum lelah berjalan kami pun memutuskan untuk lanjut ke Alun-Alun Kidul Utara dan ternyata di sini sepi sekali. Mungkin karena sudah malam juga. Jadi kami duduk-duduk sebentar sambil menunggu jemputan untuk kembali ke guest house.
Karena belum lelah berjalan kami pun memutuskan untuk lanjut ke Alun-Alun Kidul Utara dan ternyata di sini sepi sekali. Mungkin karena sudah malam juga. Jadi kami duduk-duduk sebentar sambil menunggu jemputan untuk kembali ke guest house.
Perjalanan hari pertama pun berakhir di sini. Lanjut lagi ke
hari kedua di Yogya.





