Sunday, November 20, 2016

Let's Get Lost: Yogyakarta (Day 3)

Yogyakarta, 15 Mei 2016

Hari ketiga di kota pelajar yang indah ini. Hari ini kami agak santai karena nanti sore kami akan pulang ke Jakarta.
Kami memutuskan untuk berkunjung ke Taman Sari sebelum kembali ke Jakarta. Sebenarnya Taman Sari ini dekat dengan Keraton Yogyakarta, namun berhubung waktu yang sangat terbatas jadi kami memutuskan hanya berkunjung ke Taman Sari
Masuk ke Taman Sari kami langsung disuguhi bangunan dengan arsitektur yang indah. 

Yang uniknya di Taman Sari adalahnya terhubung langsung dengan rumah penduduk. Jadi saat kita masuk ke Taman Sari kita juga melewati rumah-rumah penduduk yang tinggal di dalam komplek Taman Sari tersebut. Masuk lebih dalam lagi terdapat kolam yang konon dulu merupakan kolam pemandian bagi permaisuri, para istri, serta para putri-putri raja.





Selain kolam pemandian yang menarik di Taman Sari adalah Masjid Bawah Tanah. Di Masjid Bawah Tanah. Masjid Bawah Tanah ini bangunannya terpisah dari Taman Sari, jadi kami harus berjalan lagi melewati rumah-rumah penduduk untuk sampai ke Masjid Bawah Tanah.

Bangunan yang selalu menjadi spot foto ini memang tidak boleh dilewatkan saat berada di Jogja, apalagi sudah berada di Taman Sari, sayang sekali meurut saya kalau tidak sampai ke tempat ini. Setiap sudut bisa menjadi spot foto yang menarik. Tapi yang menjadi perhatian semua orang atau bisa dibilang WAJIB adalah foto di tengah-tengah Masjid dengan lima anak tangga disekelilingnya.




Setelah capek berfoto ria, kami kembali ke homestay untuk packing. Tapi sebelum ke stasiun kami menyempatkan diri untuk mampir di Pasar Beringharjo. Di depan pasar ini banyak pedagang makanan yang menjajakan dagangannya yang pastinya menggugah selera. Kalau ingin memburu batik dengan harga yang terjangkau tapi kualitasnya tetap bagus, kalian harus ke sini. Karena di sini terdapat berbagai macam batik dan modelnya. Yang penting kalian harus menyiapkan kaki yang kuat untuk berkeliling dan mencari batik yang sesuai dengan selera kalian.

Setelah selesai belanja berarti itu adalah akhir perjalanan kami di Yogyakarta, kota yang indah dan ramah ini. Rasanya kurang tiga hari di Jogja. Tapi walaupun tiga hari perjalanan di Jogja sangat berkesan loh. Jadi Yogyakarta sangat layak untuk masuk dalam list liburan kamu.

Wednesday, August 17, 2016

Let's Get Lost: Yogyakarta (Day 2)

Yogyakarta, 14 Mei 2016

Hari kedua di Yogya. Hari ini kami berencana pergi ke Goa Pindul dan Pantai. Sekitar pukul 07.30 kami berangkat dari guest house menuju Goa Pindul. Perjalanan cukup jauh, kami tiba sekitar pukul 09.00. Sesampai di sana kami langsung diantar dengan salah satu pengelola wisata Goa Pindul untuk melihat paket yang ditawarkan. Kalau tidak salah ada tiga jenis wisata yang ditawarkan tapi kami hanya memilih caving Goa Pindul mengingat waktu yang terbatas. Untuk yang belum tahu, caving Goa Pindul itu berarti kita menyusuri Goa yang di dalamnya ada sungai, jadi kita tinggal duduk manis di ban karet melihat indahnya stalaktit yang ada di sana.



Selesai caving di Goa Pindul, kami pun lannjut menuju Pantai Sandrana untuk snorkeling. Di perjalanan, kami diantar untuk mengisi perut ke sebuah rumah makan padang yang MURAH BANGET dan rasanya juga enak. Tapi saya tidak tahu persis letak Rumah Makan Padang itu. Di sana semua paket nasi + lauk harganya Rp. 9.000; kecuali rendang dan kikil. Pokoknya gak nyesel deh makan di sini.

Lanjut lagi menuju pantai. Saat kami datang pantainya tidak begitu ramai. Kami pun menyewa alat snorkeling dan mulai menyusuri Pantai Sandranan. Saat itu sedang hujan dan laut juga pasang jadi kami tidak berkesempatan untuk menjelajah di spot yang bagus yang banyak ikannya. Walaupun begitu, tidak mengecewakan. Buktinya kami sampai lupa waktu saat di pantai.

Setelah puas snorkeling dan bermain di pantai kami memutuskan untuk singgah sebentar di Alun-Alun Kidul. Kalau sudah sampai sini tak lengkap rasanya kalau tidak naik odong-odong yang banyak dihiasi lampu warna-warni. Keliling Alun-Alun dengan odong-odong rasanya cara yang tepat untuk menikmati malam di Yogya.

 


Hati senang dan perut sudah kenyang, kami pun memutuskan untuk kembali ke homestay untuk menyiapkan tenaga untuk hari esok.

Friday, May 27, 2016

Let's Get Lost : Yogyakarta (Day 1)

12 Mei 2016 pukul 22.30, saya bersama 15 orang lainnya berangkat menuju Yogyakarta menggunakan kereta dari Stasiun Pasar Senen. Perjalanan (hampir) delapan jam pun dimulai. For your information, buat yang belum tahu kalau naik kereta (termasuk ekonomi) sekarang itu udah enak, ada AC dan rapi. Jadi, kalau untuk perjalanan jauh naik kereta juga nyaman kok.





Kami tiba di Stasiun Lempuyangan Yogyakarta hari Jumat 13 Mei 2016 sekitar pukul 07.00. Dari Stasiun Lempuyangan kami langsung menuju guest house untuk menaruh barang bawaan dan beres-beres. Kami menyewa guesthouse di daerah Kampung Badran, namanya "Amarilis Guest House". Jadi kami menyewa satu rumah yang isinya ada 3 kamar dan rumahnya nyaman banget, apalagi kalau berpergian ramai-ramai.

Selesai beres-beres kami langsung menuju Candi Borobudur, tiba di Borobudur sekitar pukul 10.00 dan ternyata baru jam sepuluh pagi di Borobudur sangat terik tapi tidak mengalahkan niat kami untuk sampai puncak (hahaha). Kami semua fokus ke puncak jadi kami tidak mengelilingi bangunan candi untuk melihat relief di dinding candi.

Walaupun matahari sangat terik akhirnya kami semua tiba di puncak Borobudur (yeay!). Tidak sia-sia kami berkeringat dan naik berpuluh-puluh anak tangga karena sesampainya di puncak kami disuguhkan pemandangan yang luar biasa indah. Jadi untuk kalian yang mau ke Borobudur, saya sangat menyarankan kalian harus mencapai puncaknya karena kelelahan naik tangga terbayar dengan pemandangan yang indah di atas sana. Berhubung matahari sangat terik, kami hanya mampu bertahan setengah jam di Candi Borobudur.
 


Menuju pintu keluar kami diuji dengan banyaknya orang yang berjualan (hahaha). Sepanjang perjalanan menuju pintu keluar di kiri dan kanan banyak kios-kios yang menjual berbagai macam barang, mulai dari baju, sandal, tas, pajangan, bahkan wayang. Dan kami membutuhkan waktu hampir satu jam untuk benar-benar menuju pintu keluar. Bukan karena jauhnya jalan tapi karena banyak mampir di tempat-tempat jualan tadi (hahahaha)

Dari Candi Borobudur kami langsung menuju Rumah Kamera yang letaknya tidak jauh dari Candi Borobudur. Rumah Kamera terdiri dari dua bangunan, bangunan yang pertama berbentuk kamera DSLR, bangunan tersebut merupakan galeri hasil karya sang pemilik kemudian naik ke puncak rumah kamera kita bisa melihat pemandangan Candi Borobudur yang indah, sayang saya tidak sempat masuk ke bangunan ini.

Bangunan yang kedua terdiri dari dua lantai yang berisi lukisan 3 dimensi untuk berfoto ria.


Di lantai dua terdapat juga satu ruangan yang sama sebut ruangan kaca, karena memang ruangan tersebut isinya hanya kaca.


Kalau kalian ke rumah kamera tidak perlu khawatir foto kalian tidak akan bagus, kalian hanya perlu menyiapkan kamera atau handphone yang ada kameranya karena karyawan di rumah kamera siap untuk membantu anda mendapatkan foto yang bagus. Dan jangan khawatir juga kalau tidak mendapat bantuan dari petugas di sana karena banyak sekali petugas yang siap untuk memfoto anda.

Setelah puas berfoto ria di Rumah Kamera, kami menuju Candi Ijo untuk melihat sunset, perjalanan yang cukup jauh menuju Candi Ijo. Karena Candi Ijo merupakan Candi tertinggi di Yogya maka kami pun disuguhkan dengan banyak tanjakan yang tinggi. Perjalanan lebih dari satu jam kami tempuh dan baru sampai di tempat parkir kami sudah disuguhkan dengan pemandangan yang luar biasa indah. Di bagian paling atas Candi Ijo terdiri dari 4 bangunan candi, 1 Candi induk dan 3 candi perwara.


Kami tiba di Candi Ijo sekitar pukul 16.30 dan langit masih terang. Kami harus menunggu kira-kira satu jam sampai matahari terbenam. Sayangnya, kami kurang beruntung karena matahari malu-malu terbenam sehingga tertutup awan dan terbenam begitu saja. Tapi kami tidak kecewa, karena di Candi tertinggi ini kami disuguhkan dengan pemandangan yang luar biasa indah dan membuat hati tenang rasanya (hehehe).


Karena belum lelah kami pun lanjut ke Malioboro sekalian untuk makan malam. Jalan Malioboro memang selalu ramai, banyak toko dan juga tempat makan yang kebanyakan lesehan. Tips untuk kalian yang makan lesehan di Malioboro cari yang ada daftar harganya. Setelah kenyang makan kami pun memutuskan untuk jalan di sepanjang Jalan Malioboro karena hari belum terlalu malam. Akhirnya kami sampai di titik nol kilometer Yogya (yeay!).

Karena belum lelah berjalan kami pun memutuskan untuk lanjut ke Alun-Alun Kidul Utara dan ternyata di sini sepi sekali. Mungkin karena sudah malam juga. Jadi kami duduk-duduk sebentar sambil menunggu jemputan untuk kembali ke guest house.


Perjalanan hari pertama pun berakhir di sini. Lanjut lagi ke hari kedua di Yogya.

Sunday, January 24, 2016

Icip-Icip: Pusat Kuliner Pasar Lama Tangerang

Hari Minggu, 24 Januari 2016 saya bersama teman saya pergi ke Pasar Lama Tangerang untuk mencoba kuliner di sana. Tujuan kami kali ini adalah 'ngafe'. Yap, kami mengunjungi kafe-kafe yang katanya lagi HITS di Tangerang. Sebelum berkunjung ke kafe-kafe tersebut, wisata kuliner kali ini dibuka dengan Es Podeng Depan Varia. Kalau ke Pasar Lama wajib makan es podeng ini. The best es podeng ever (menurut saya). Isi es podengnya sama seperti es podeng kebanyakan isinya, cuma esnya tuh beda. Esnya gak bikin sakit tenggorokan dan pas banget di mulut.

Balik lagi ke tujuan utama, jadi 'anak kafe'. Kafe pertama yang kami kunjungi adalah What's Up Cafe yang terletak di Jl. Kisamaun No.152, Tangerang. Interiornya memang anak muda banget.
Kami memesan uwel-uwel vanilla ice cream, mantau kaya keju, ice mocca, dan magic soda pink. Mantaunya seperti mantau pada umumnya yang dibaluri keju. Yang spesial adalah uwel-uwel vanilla ice cream. Uwel-uwel itu adalah adonan kentang yang digoreng (seperti donat) namun bentukya abstrak (mungkin itu kenapa namanya uwel-uwel) dengan topping vanilla ice cream di atasnya. Uwel-uwel ini memang recomended  banget.
Uwel uwel Vanilla Ice Cream

Mantau Kaya Keju
Selain itu, ada yang spesial lagi dari kafe ini. Mereka menyediakan permainan yang bebas kamu mainkan bersama teman-teman kamu. Karena kami hanya berdua, kami memutuskan memilih congklak, sekalian mengingat masa kecil dulu (hehehe).



Makan Sambil Bermain

Kafe yang kedua yang kami kunjungi adalah Kafe Rute 15 yang berlokasi di Jl. Kisamaun No.150, Tangerang. Seperti biasa, interiornya khas anak muda banget yang didominasi oleh warna kuning. Tempatnya pun enak untuk chit chat bersama teman-teman (lupa foto). Di sini kami memutuskan untuk ngemil karena di What's Up Cafe sudah cukup kenyang sebenarnya. Kami pun memesan fish and chips dan sosis bakar mayo.
Dengan harga yang anak muda banget (bc: murah meriah) makanannya tidak mengecewakan. Pelayanannya bisa dibilang cepat, karena kondisi saat itu cukup ramai, hampir semua meja terisi. Tempat ini layak dijadikan basecamp untuk kamu-kamu yang doyan nongkrong.

Tempat terakhir yang kami datangi adalah Travelmie Puncaknya Tangerang. Tempat makan yang berkonsep Urban Camping ini terletak di Jl. Kisamaun No. 154, Tangerang. Tempat makan yang sangat terkonsep ini menyediakan banyak tenda untuk sebagai tempat kamu makan. Namun, ada juga meja dan kursi di luar tenda-tenda yang juga sangat terkonsep. Makan di tempat ini kamu serasa sedang kamping.  Tempatnya enak dan nyaman banget, kaya kamu (eh, maap).


Kami pun memesan mie mirip, indomie yang mirip seperti yang di bungkusnya. Memang indomie yang disajikan persis seperti yang di bungkus. Kami memesan indomie goreng dan soto.


Jadi, kalau bingun mau ke mana menghabiskan malam minggu atau malam-malam yang lain, ketiga tempat di atas layak untuk didatangi.

Monday, January 11, 2016

Senja



Senja itu oranye
Senja itu menawan
Senja itu indah
Senja itu kamu

Senja berarti akhir dari sebuah hari
Senja seakan berarti salam perpisahan
Senja hanya muncul sesaat kemudian ditelan langit malam
Senja itu kamu

Senja memberikan keindahan
Senja memberikan ketenangan
Senja juga menampakan kerinduan
Senja itu kamu

Senja selalu hadir saat matahari mulai lelah
Senja menjadi pengantar sebelum sang bintang menampakan diri
Senja menjadi pembuka dan penutup
Senja itu kamu

Senja selalu menghadirkan keromantisan
Senja selalu membuat mata yang menatap tidak berkedip
Menyaksikan keindahan dari Sang Pencipta
Senja itu kamu

Senja hanya sesaat namun membekas
Senja hanya sekali dilihat namun takkan lupa
Senja selalu hadir tetapi pasti akan pergi
Dan Senja itu kamu