"Mudah-mudahan Nis, gw deg-degan juga nih," jawab Ika
"Hai cewek-cewek cantik, lagi pada ngerumpi nih yah? Ikutan dong," sambung Sony yang tiba-tiba datang
"Makasih Son, gw tau kok gw cakep. Hahaha," jawab Nisa
"Yeee, bukan lo tapi Ika dong, hehehe," jawab Sony
"Ahh Son, bisa aja lo. Hahahaha," sambung Ika
"Ka, gw balik duluan yah. Mau nemenin nyokap pergi nih," ucap Nisa
"Oke deh Nis, salam buat nyokap lu yah," balas Ika
"Iya, bye," kata Nisa dan langsung meninggalkan Ika dan Sony
"Ka, gak terasa yah udah satu tahun lebih gw deket sama lu, dari lu masih jadi ade kelas gw sampe sekarang lu udah jadi mahasiswi," celoteh Sony
"Iya Son, gak terasa yah," balas Ika
"Yah, walaupun kita gak satu kampus hati gw masih buat lu kok," ucap Sony
"Sorry Son, tapi gw sampai sekarang belom bisa ngeyakinin diri gw kalau lu itu emang yang terbaik buat gw," jawab Ika
"Gw gak pernah maksa lu buat sayang sama gw kok, lagian ini kemauan gw sendiri buat nunggu lu," ucap Sony dengan nada yang begitu lembut
"Son," ucap Ika sambil menatap mata Sony, "Gw lebih suka kalau lu itu cari cewe lain Son, gw gak mau dibilang ngasih harapan kosong ke lu," ucap Ika
"Ka, tolong jangan suruh gw ngasih hati gw ke orang lain. Tolong ijinin gw selalu ada buat lu tanpa lu harus selalu ada buat gw," balas Sony
"Tapi Son...." ucap Ika ragu
"Tolong Ka, biarin gw buktiin ke lu kalau gw emang tulus sayang sama lu," timpal Sony
"Makasih yah Son," ucap Ika sambil menahan air mata yang menggenang di matanya
***
"Aduh Ka, gw deg-degan nih. Kira-kira senior kita gimana yah??" Ucap Nisa dengan suara kepanikan
Maklum, ini hari pertama mereka menjadi mahasiswi
"Aduh Nis, jangan bikin gw makin takut dong," balas Ika
"Coba kita satu kampus sama Sony, kan enak tuh punya kenalan senior. Hahahaha," celoteh Nisa
"Ada-ada aja lu, udah mending dengerin tuh senior ngomong apa," balas Ika
"Ka, liat deh. Itu kaya Benny," kata Nisa sambil menunjuk seorang laki-laki
"Iya Nis, itu emang Benny. Berarti dia satu kampus dong sama kita," balas Ika sambil tercengang dengan sosok laki-laki itu
"Emang lu gak tau Ka dia kuliah di mana?" Tanya Nisa
"Gak, kan lu tau gw udah gak berhubungan sama dia satu tahun lebih," jawab Ika
"Emang jodoh kali lu sama dia, hahaha," ledek Nisa
"Ahh apa sih lu. Udah mending perhatiin senior tuh," balas Ika
"Ahh ngeles aja deh lu. Hahaha," ledek Nisa lagi
"Udah yah neng kepo, mending perhatiin aja tuh. Hahahaha," ledek Ika balik
***
"Akhirnya kita resmi jadi mahasiswi yah Nis," ucap Ika
"Iya Ka, gw jadi terharu," balas Nisa
"Gak usah lebay juga kali. Hahaha," Timpal Ika, "Eh Nis, masa kemaren Benny sms gw, kayaknya dia tau deh kita satu kampus sama dia," lanjut Ika
"Terus lu bales?" Tanya Nisa
"Bales, abis gw gak enak. Nanti disangka sombong lagi. Lagian gw kan udah komitmen gak mau musuhan sama dia," jawab Ika
"Yahh, asal jangan kepincut lagi aja deh. Hahahaha," canda Nisa
Saat mereka sedang bercanda, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang mereka sangat kenal menghampiri mereka
"Hai, udah lama yah gak ketemu," sapa laki-laki itu
Mata mereka berdua terbelalak melihat laki-laki itu. Ya, itu Benny dan gak mungkin salah.
"Benny??" Kata Ika yang sedikit terkejut
"Iya Ka, kalian berdua apa kabar?" Sapa Benny lagi
"Gw sih baik-baik aja, tapi ada yang sakit hati tuh," jawab Nisa ketus
"Nis, apa-apaan sih lu," Sela Ika, "hmmm, kita berdua baik-baik aja kok," lanjut Ika
"Gak nyangka yah kita bisa satu kampus," ucap Benny
"Iya Ben. Ehh, gw sama Nisa duluan yah, udah sore nih. Bye," ucap Ika
Ika tidak mau terlalu lama terlibat perbincangan dengan Benny. Rasa itu sebenarnya masih ada walaupun hanya tersisa sedikit. Itu sebabnya Ika menjaga jarak dengan Benny.
"Ka, nanti malam kita dinner yuk," ajak Sony
"Sorry Son, gw kayanya gak bisa deh. Hari ini gw capek banget," tolak Ika secara halus
"Oh, ya udah istirahat aja yah," jawab Sony tanpa ada raut kekecewaan di wajahnya
Dan Ika tidak menjawabnya lagi, sepanjang perjalanan dari kampus ke rumah Ika, hanya itu percakapan mereka. Tidak biasanya Ika diam seperti itu. Sepertinya ada sesuatu yang ia pikirkan atau bahkan ia sembunyikan dari Sony
Lagu 'The Power of Love' mengalun lembut dari ponsel Ika, dan ternyata itu adalah nada dering ponsel kesayangannya itu. Betapa terkejutnya saat ia melihat nama yang muncul di layar ponselnya. BENNY, buat apa dia menelpon Ika, pikirnya.
"Halo"
"Halo Ika, lagi apa?"
"Ada perlu apa yah lu telepon gw?"
"Gakpapa, lagi mau ngobrol aja nih sama lu. Hmm, gw ganggu yah?"
"Gak kok"
"Atau jangan-jangan lu takut ketauan cowok lu teleponan sama gw? Hahaha"
"Gak berubah yah lu, tetep aja asal ceplos. Hahahaha,"
"Emang gw superman apa berubah, hahaha. Eh, jawab dulu udah punya cowok baru yah sekarang?"
"Gak, orang sampe sekarang gw masih single kok. Lu kali tuh yang udah punya cewe, cewe lu kan banyak. Hahahaha"
"Gak ada kok, di hati gw masih ada lu nih"
"Hmm, Ben udah dulu yah gw mau tidur nih,"
Ika sangat tak menyangka Benny akan berkata seperti itu, masih sangat jelas terekam di pikiran Ika kejadian 1 tahun yang lalu. Ingin ia kubur ingatan itu tapi tak bisa, sama seperti rasa cintanya pada Benny
"Udah selesai Ka kuliahnya? Jadi pulang bareng gw kan?" Tanya Benny dan itu sangat membuat Nisa yang ada disana terkejut bukan main
"Hmm, gw pinjem Ika bentar yah," ucap Nisa dan langsung membawa Ika menjauh dari Benny
"Ada apa sih Nis?" Tanya Ika
"Aduh pake nanya lagi. lu deket lagi sama dia? Lu belom kapok sakit hati lagi?" Ucap Nisa
"Gw gak ada apa-apa Nisa sayang. Gw cuma temenan kok sama dia. Lagian dia udah minta maaf kok sama gw soal kejadian yang dulu itu dan keliatannya dia juga udah berubah kok," Ika menjelaskan
"Terus, Sony mau lu kemanain?" Tanya Nisa lagi
"Sony? Gw sama sama dia kan gak ada apa-apa. Sama kaya gw dan Benny," jawab Ika
"Terserah lu deh Ka," seru Nisa dan langsung meninggalkan Ika
Entah apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Setiap yang berhubungan dengan Sony pasti ia selalu begitu
"Sorry Ben, gw lama yah?" Ucap Ika pada Benny
"Gapapa kok Ka. Eh kita ke taman sebentar yah," ajak Benny
"Oh, boleh," Ika pun mengikuti jalan Benny menuju taman di kampusnya yang tidak begitu luas tapi sangat sejuk.
Mereka pun duduk di sebuah bangku mungil berwarna putih
"Ka, gw mau ngomong serius sama lu," ucap Benny
"Mau ngomong apaan?" Tanya Ika yang sangat bingung
"Gw bener-bener nyesel dulu pernah nyakitin lu Ka. Dan itu adalah kesalahan terbesar gw. Gw mau kita ngulang semuanya itu lagi," ucapan Benny begitu serius dan meyakinkan
"Jujur Ben, gw masih punya rasa sama lu, tapi maaf gw gak mau ngulang sakit itu Ben. Gw belom siap," jawab Ika sambil menahan genangan air mata di ujung matanya
"Gw janji gw gak bakal nyakitin lu Ka. Dan gw gak maksa kalau lu emang belom siap sekarang," ucap Benny sambil menghapus air mata yang telang mengalir di pipi Ika
"Ikaa??"
Suara itu mengejutkan mereka berdua. Suara yang sudah pasti Ika hapal.
"Sony?" ucap Ika dengan gugup
Sony yang tadinya ingin menjemput Ika tidak menyangka disuguhi pemandangan mesra seperti itu, "Jadi ini keputusan lu Ka?" Tanya Sony dengan gemetar sambil menahan emosinya, "Selamat yah Ka. Sorry gw ganggu lu berdua," dan Sony pun langsung pergi meninggalkan mereka berdua
Percuma Ika berteriak bahkan mengejar Sony, ia tetap tidak mau berbalik
"Itu siapa Ka?" Tanya Benny yang dari tadi memperhatikan
"Siapa dia bukan urusan lu dan jangan ganggu gw lagi," jawab Ika dan ia langsung pulang meninggalkan Benny
Perasaan Ika kacau. Ia bingung ada apa dengan dirinya. Ia merasa bersalah telah membuat Sony sakit hati. Tapi mungkinkah itu hanya perasaan iba dan mungkinkah hatinya hanya untuk Benny?
Hanya satu orang yang mengerti Ika, ia pun mengambil ponselnya dan menghubungi Nisa
"Halo Nisa?"
"Kenapa Ka?"
"Gw mau cerita"
"Cerita apa? Cerita kalau lu udah balikan sama Benny dan lu bikin Sony sakit hati?"
"Daaaa.. darii mana lu tau itu Nis?"
"Sony udah cerita semua sama gw. Gak nyangka gw Ka lu jilat ludah lu sendiri"
"Gak gitu Nis, gw gak balikan sama Benny"
"Terserah Ka, itu bukan urusan gw"
Bukannya membaik malah semakin tambah bebannya. Nisa, sahabatnya sendiri kecewa padanya. Ia tidak bermaksud membuat Sony sakit hati. Sony yang begitu baik padanya. Yang begitu tulus mencintainya. Dan ia pun tidak menjilat ludahnya sendiri. Ia menolak Benny untuk dekat seperti dulu. Kali ini pikirannya makin kacau. Sony tidak bisa dihubungi. Mungkin ia mau menenagkan isi hatinya, tapi Ika juga mau menjelaskan. Ada apa dengan dirinya, mengapa ia begitu peduli pada hati Sony? Bukankah hatinya buat Benny? Tidak. Ika sudah menyadari bahwa Sony telah menyentuh hatinya, Sony mulai mengobati lukanya secara perlahan dan Ika pun sebenarnya mulai membuka hatinya untuk Sony.
"Son, maafin gw yah. Gw gak bermaksud buat nyakitin lu. Dan Benny itu bukan siapa-siapa gw. Gw mau ketemu sama lu. Kalau lu gak mau ketemu lagi sama gw gakpapa. Tapi tolong jadiin ini pertemuan terakhir kita. Gw tunggu lu besok di danau jam 4 sore" itulah pesan yang dikirimkan Ika pada Sony. Ia sangat berharap Sony membaca pesannya itu dan mau datang ke tempat itu
Sebelum pukul 4 Ika sudah tiba di danau tempat mereka biasa bertemu.
Jam 4 tepat tapi belum ada tanda-tanda kehadiran Sony, Ika masih tetap menunggu. Mungkin ia telat pikirnya
Sudah 30 menit Ika menunggu namun Sony tetap tidak datang. Tapi Ika masih setia menanti.
Tepat pukul 5 dan Sony belum datang juga. Kali ini Ika putus asa dan berniat untuk pulang
"Mungkin, dia udah gak mau ketemu sama gw," ucapnya berbisik
"Kata siapa gw gak mau ketemu sama lu?" Suara itu mengejutkannya lagi, ya itu Sony
"Sony?" Kata Ika terkejut, "Lu mau ketemu sama gw?"
"Lu mau ngomong apa emang sama gw?" Kata Sony sambil mengambil posisi duduk di bawah pohon yang rindang
"Gw mau minta maaf sama lu Son. Gw udah bikin lu sakit hati. Tapi ini gak seperti yang lu kira kok. Gw sama Benny gak ada apa-apa," Ika menjelaskan
"Kalau ada apa-apa juga gakapa kok. Kan lu bukan siapa-siapa gw dan lu gak perlu minta maaf karena gw sendiri yang mau nunggu lu dan harusnya gw udah siap buat sakit hati," jawab Sony tanpa menatap wajah Ika
"Tapi ini salah gw Son. Lu pasti sakit hati kan?" Tanya Ika
"Tenang aja Ka, gw gak sakit hati. Dan sekarang gw tau kalau gw itu gak seperti 'Pangeran Impian' lu itu," ucap Sony
"Cukup Son! Lu yang udah ngajarin gw arti pangeran yang sesungguhnya," jelas Ika
"Tapi PANGERAN lu itu bukan gw kan Ka?" kali ini nada bicara Sony meninggi, "Gw seneng kok kalau lu balik lagi sama 'Pangeran Impian' lu itu,"
"Tapi Son, gw gak ada apa-apa sama Benny. Tolong Son dengerin penjelasan gw dulu," ucap Ika yang sudah tak sanggup menahan air matanya, "Lu gak tau kan Son isi hati gw? Sekarang di hati gw udah ada lu Son"
Sony begitu terkejut mendengar kata-kata Ika
"Lu udah berhasil nyentuh hati gw Son. Tolong jangan ninggalin gw dan bikin gw sakit hati untuk kedua kalinya," lanjut Ika
Sony pun mengusap air mata Ika dan berkata, "Gak pernah ada niat gw buat nyakitin hati lu Ka. Lu terlalu berarti buat gw," kemudian Sony memegang tangan Ika, "Do you want to be my princess?"
"Of course my prince," jawab Ika dengan lembut namun pasti
"Nah gitu dong, kan enak kalau gini,"
"Nisa??" Ucap Ika yang terkejut melihat Nisa
"Sony yang bilang ke gw kalau lu berdua mau ketemu jadi karena penasaran gw dateng aja. Hehehe," Nisa menjelaskan
"Oh jadi sekarang ngadu terus nih? hahaha," ledek Ika
"Kan curhat Ka, hehhe," jawab Sony
"Eh, btw selamat yah. Lama banget tau gak sih nungguin lu orang jadian. Mending makan yuk. Hahaha," ajak Nisa
"Makan aja cepet lu, tapi ayu deh. Hahahaha," jawab Sony
Akhirnya, kisah cinta Ika berakhir indah. Ia menemukan dan menerima sesorang yang tulus mencintainya. Seseorang yang rela berkorban untuknya. And he is 'The Real Prince" for Ika..
"Terserah lu deh Ka," seru Nisa dan langsung meninggalkan Ika
Entah apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Setiap yang berhubungan dengan Sony pasti ia selalu begitu
"Sorry Ben, gw lama yah?" Ucap Ika pada Benny
"Gapapa kok Ka. Eh kita ke taman sebentar yah," ajak Benny
"Oh, boleh," Ika pun mengikuti jalan Benny menuju taman di kampusnya yang tidak begitu luas tapi sangat sejuk.
Mereka pun duduk di sebuah bangku mungil berwarna putih
"Ka, gw mau ngomong serius sama lu," ucap Benny
"Mau ngomong apaan?" Tanya Ika yang sangat bingung
"Gw bener-bener nyesel dulu pernah nyakitin lu Ka. Dan itu adalah kesalahan terbesar gw. Gw mau kita ngulang semuanya itu lagi," ucapan Benny begitu serius dan meyakinkan
"Jujur Ben, gw masih punya rasa sama lu, tapi maaf gw gak mau ngulang sakit itu Ben. Gw belom siap," jawab Ika sambil menahan genangan air mata di ujung matanya
"Gw janji gw gak bakal nyakitin lu Ka. Dan gw gak maksa kalau lu emang belom siap sekarang," ucap Benny sambil menghapus air mata yang telang mengalir di pipi Ika
"Ikaa??"
Suara itu mengejutkan mereka berdua. Suara yang sudah pasti Ika hapal.
"Sony?" ucap Ika dengan gugup
Sony yang tadinya ingin menjemput Ika tidak menyangka disuguhi pemandangan mesra seperti itu, "Jadi ini keputusan lu Ka?" Tanya Sony dengan gemetar sambil menahan emosinya, "Selamat yah Ka. Sorry gw ganggu lu berdua," dan Sony pun langsung pergi meninggalkan mereka berdua
Percuma Ika berteriak bahkan mengejar Sony, ia tetap tidak mau berbalik
"Itu siapa Ka?" Tanya Benny yang dari tadi memperhatikan
"Siapa dia bukan urusan lu dan jangan ganggu gw lagi," jawab Ika dan ia langsung pulang meninggalkan Benny
Perasaan Ika kacau. Ia bingung ada apa dengan dirinya. Ia merasa bersalah telah membuat Sony sakit hati. Tapi mungkinkah itu hanya perasaan iba dan mungkinkah hatinya hanya untuk Benny?
Hanya satu orang yang mengerti Ika, ia pun mengambil ponselnya dan menghubungi Nisa
"Halo Nisa?"
"Kenapa Ka?"
"Gw mau cerita"
"Cerita apa? Cerita kalau lu udah balikan sama Benny dan lu bikin Sony sakit hati?"
"Daaaa.. darii mana lu tau itu Nis?"
"Sony udah cerita semua sama gw. Gak nyangka gw Ka lu jilat ludah lu sendiri"
"Gak gitu Nis, gw gak balikan sama Benny"
"Terserah Ka, itu bukan urusan gw"
Bukannya membaik malah semakin tambah bebannya. Nisa, sahabatnya sendiri kecewa padanya. Ia tidak bermaksud membuat Sony sakit hati. Sony yang begitu baik padanya. Yang begitu tulus mencintainya. Dan ia pun tidak menjilat ludahnya sendiri. Ia menolak Benny untuk dekat seperti dulu. Kali ini pikirannya makin kacau. Sony tidak bisa dihubungi. Mungkin ia mau menenagkan isi hatinya, tapi Ika juga mau menjelaskan. Ada apa dengan dirinya, mengapa ia begitu peduli pada hati Sony? Bukankah hatinya buat Benny? Tidak. Ika sudah menyadari bahwa Sony telah menyentuh hatinya, Sony mulai mengobati lukanya secara perlahan dan Ika pun sebenarnya mulai membuka hatinya untuk Sony.
"Son, maafin gw yah. Gw gak bermaksud buat nyakitin lu. Dan Benny itu bukan siapa-siapa gw. Gw mau ketemu sama lu. Kalau lu gak mau ketemu lagi sama gw gakpapa. Tapi tolong jadiin ini pertemuan terakhir kita. Gw tunggu lu besok di danau jam 4 sore" itulah pesan yang dikirimkan Ika pada Sony. Ia sangat berharap Sony membaca pesannya itu dan mau datang ke tempat itu
***
Sebelum pukul 4 Ika sudah tiba di danau tempat mereka biasa bertemu.
Jam 4 tepat tapi belum ada tanda-tanda kehadiran Sony, Ika masih tetap menunggu. Mungkin ia telat pikirnya
Sudah 30 menit Ika menunggu namun Sony tetap tidak datang. Tapi Ika masih setia menanti.
Tepat pukul 5 dan Sony belum datang juga. Kali ini Ika putus asa dan berniat untuk pulang
"Mungkin, dia udah gak mau ketemu sama gw," ucapnya berbisik
"Kata siapa gw gak mau ketemu sama lu?" Suara itu mengejutkannya lagi, ya itu Sony
"Sony?" Kata Ika terkejut, "Lu mau ketemu sama gw?"
"Lu mau ngomong apa emang sama gw?" Kata Sony sambil mengambil posisi duduk di bawah pohon yang rindang
"Gw mau minta maaf sama lu Son. Gw udah bikin lu sakit hati. Tapi ini gak seperti yang lu kira kok. Gw sama Benny gak ada apa-apa," Ika menjelaskan
"Kalau ada apa-apa juga gakapa kok. Kan lu bukan siapa-siapa gw dan lu gak perlu minta maaf karena gw sendiri yang mau nunggu lu dan harusnya gw udah siap buat sakit hati," jawab Sony tanpa menatap wajah Ika
"Tapi ini salah gw Son. Lu pasti sakit hati kan?" Tanya Ika
"Tenang aja Ka, gw gak sakit hati. Dan sekarang gw tau kalau gw itu gak seperti 'Pangeran Impian' lu itu," ucap Sony
"Cukup Son! Lu yang udah ngajarin gw arti pangeran yang sesungguhnya," jelas Ika
"Tapi PANGERAN lu itu bukan gw kan Ka?" kali ini nada bicara Sony meninggi, "Gw seneng kok kalau lu balik lagi sama 'Pangeran Impian' lu itu,"
"Tapi Son, gw gak ada apa-apa sama Benny. Tolong Son dengerin penjelasan gw dulu," ucap Ika yang sudah tak sanggup menahan air matanya, "Lu gak tau kan Son isi hati gw? Sekarang di hati gw udah ada lu Son"
Sony begitu terkejut mendengar kata-kata Ika
"Lu udah berhasil nyentuh hati gw Son. Tolong jangan ninggalin gw dan bikin gw sakit hati untuk kedua kalinya," lanjut Ika
"Of course my prince," jawab Ika dengan lembut namun pasti
"Nah gitu dong, kan enak kalau gini,"
"Nisa??" Ucap Ika yang terkejut melihat Nisa
"Sony yang bilang ke gw kalau lu berdua mau ketemu jadi karena penasaran gw dateng aja. Hehehe," Nisa menjelaskan
"Oh jadi sekarang ngadu terus nih? hahaha," ledek Ika
"Kan curhat Ka, hehhe," jawab Sony
"Eh, btw selamat yah. Lama banget tau gak sih nungguin lu orang jadian. Mending makan yuk. Hahaha," ajak Nisa
"Makan aja cepet lu, tapi ayu deh. Hahahaha," jawab Sony
Akhirnya, kisah cinta Ika berakhir indah. Ia menemukan dan menerima sesorang yang tulus mencintainya. Seseorang yang rela berkorban untuknya. And he is 'The Real Prince" for Ika..
